Wartatrans.com, JAKARTA – Jalur kereta api di Indonesia tidak hanya melintasi kawasan perkotaan dan dataran rendah, tetapi juga menembus wilayah pegunungan dengan elevasi ratusan meter di atas permukaan laut (mdpl).
Sejumlah stasiun yang berada pada lintasan tersebut tetap melayani mobilitas masyarakat, mulai dari perjalanan harian di kawasan perkotaan hingga perjalanan antarkota.
Berdasarkan data elevasi stasiun yang masih melayani naik-turun pelanggan, Stasiun Nagreg di Jawa Barat menjadi yang tertinggi dalam daftar ini dengan ketinggian 848 mdpl. Posisi berikutnya ditempati Stasiun Cipeundeuy, Cimindi, Cimahi, dan Garut di Jawa, disusul lima stasiun di Sumatra, yakni Siantar, Baja Linggei, Dolok Merangir, Kayutanam, dan Lubuk Linggau.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan angka elevasi yang tercantum pada papan nama stasiun menggambarkan karakter geografis lintasan kereta api yang berbeda-beda.
“Perjalanan kereta api melewati dataran rendah hingga kawasan pegunungan dengan karakter lintasan yang berbeda. Menariknya, stasiun-stasiun pada elevasi tinggi tersebut tetap melayani beragam pola perjalanan masyarakat, mulai dari mobilitas harian hingga perjalanan antarkota,” ujar Anne.
Berikut 10 stasiun kereta api dengan elevasi tertinggi dalam daftar tersebut, diurutkan dari yang paling tinggi hingga berikutnya.
1. Stasiun Nagreg – 848 mdpl
Stasiun Nagreg di Jawa Barat menempati posisi pertama dengan elevasi 848 mdpl. Berada di kawasan Priangan, stasiun ini menjadi bagian dari layanan Commuter Line Area II Bandung yang menghubungkan sejumlah wilayah di Jawa Barat.
Sepanjang Januari–September 2026, Stasiun Nagreg mencatat 42.566 aktivitas pelanggan, terdiri atas 26.712 pelanggan naik dan 15.854 pelanggan turun. Angka tersebut menunjukkan stasiun yang berada di kawasan pegunungan ini tetap berperan dalam mendukung mobilitas masyarakat.
2. Stasiun Cipeundeuy – 772 mdpl
Berada pada elevasi 772 mdpl, Stasiun Cipeundeuy menjadi stasiun tertinggi kedua dalam daftar ini. Stasiun di Jawa Barat tersebut memiliki karakter operasional tersendiri karena kereta api yang melintas menjalani pemeriksaan sebelum melanjutkan perjalanan di lintasan pegunungan.
Pada Januari–September 2026, Cipeundeuy mencatat 38.524 aktivitas pelanggan kereta api jarak jauh (KA JJ). Jumlah tersebut terdiri atas 20.009 pelanggan naik dan 18.515 pelanggan turun.
Selain melayani pelanggan, keberadaan stasiun ini juga berkaitan dengan kebutuhan operasional perjalanan kereta api yang melintasi jalur dengan karakter geografis menantang.
3. Stasiun Cimindi – 736 mdpl
Stasiun Cimindi berada pada elevasi 736 mdpl dan menjadi salah satu titik layanan Commuter Line di kawasan Bandung Raya. Meski berada di wilayah dengan ketinggian yang relatif besar, stasiun ini melayani aktivitas perjalanan masyarakat perkotaan.
Selama sembilan bulan pertama 2026, Cimindi mencatat 874.522 aktivitas pelanggan Commuter Line. Jumlah itu terdiri atas 460.122 aktivitas masuk (gate in) dan 414.400 aktivitas keluar (gate out).
Tingginya aktivitas tersebut memperlihatkan peran Cimindi dalam mendukung mobilitas masyarakat yang menggunakan kereta api untuk berbagai keperluan sehari-hari.
4. Stasiun Cimahi – 723 mdpl
Stasiun Cimahi berada pada ketinggian 723 mdpl. Stasiun ini memiliki aktivitas pelanggan yang besar, baik untuk layanan kereta api jarak jauh maupun Commuter Line Area II Bandung.
Sepanjang Januari–September 2026, Cimahi mencatat total 1.400.263 aktivitas naik-turun pelanggan. Angka tersebut terdiri atas 298.903 aktivitas pelanggan KA JJ, dengan rincian 154.984 pelanggan naik dan 143.919 pelanggan turun.
Sementara itu, layanan Commuter Line Area II Bandung menyumbang 1.101.360 aktivitas, terdiri atas 551.062 aktivitas masuk dan 550.298 aktivitas keluar.
Dengan jumlah tersebut, Cimahi menjadi stasiun dengan volume aktivitas pelanggan terbesar di antara lima stasiun di Jawa yang tercantum dalam daftar ini. Perannya tidak hanya berkaitan dengan perjalanan antarkota, tetapi juga mobilitas masyarakat di kawasan Bandung Raya.
5. Stasiun Garut – 717 mdpl
Stasiun Garut berada pada elevasi 717 mdpl dan menjadi salah satu titik penting layanan kereta api di Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Stasiun ini kembali melayani perjalanan kereta api setelah lintas Cibatu–Garut direaktivasi dan diresmikan pada 24 Maret 2022. Kehadiran kembali layanan tersebut memperluas pilihan transportasi masyarakat Garut untuk bepergian menggunakan kereta api.
Pada Januari–September 2026, Garut mencatat 746.601 aktivitas pelanggan. Rinciannya meliputi 330.612 aktivitas pelanggan KA JJ, terdiri atas 169.081 pelanggan naik dan 161.531 pelanggan turun, serta 415.989 aktivitas Commuter Line, dengan 211.551 aktivitas masuk dan 204.438 aktivitas keluar.
6. Stasiun Siantar – 383,47 mdpl
Beralih ke Sumatra, Stasiun Siantar di Sumatra Utara menjadi stasiun dengan elevasi tertinggi dalam daftar lima stasiun di wilayah tersebut, yakni 383,47 mdpl.
Stasiun ini menjadi salah satu titik utama layanan KA Siantar Ekspres yang mendukung mobilitas masyarakat di kawasan Pematangsiantar dan sekitarnya.
Sepanjang Januari–September 2026, Siantar mencatat 279.492 aktivitas pelanggan, terdiri atas 141.672 pelanggan naik dan 137.820 pelanggan turun. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa layanan kereta api masih menjadi salah satu pilihan perjalanan masyarakat di wilayah Sumatra Utara.
7. Stasiun Baja Linggei – 284,20 mdpl
Stasiun Baja Linggei berada pada elevasi 284,20 mdpl dan termasuk dalam koridor layanan kereta api Siantar Ekspres di Sumatra Utara.
Dibandingkan stasiun-stasiun dengan aktivitas tinggi di kawasan Bandung Raya, jumlah pelanggan di Baja Linggei relatif lebih kecil. Namun, stasiun ini tetap menjadi bagian dari jaringan layanan kereta api yang menghubungkan masyarakat di sepanjang koridor tersebut.
Pada Januari–September 2026, Baja Linggei mencatat 5.071 aktivitas pelanggan, terdiri atas 2.714 pelanggan naik dan 2.357 pelanggan turun.
8. Stasiun Dolok Merangir – 144,56 mdpl
Masih di Sumatra Utara, Stasiun Dolok Merangir memiliki elevasi 144,56 mdpl. Stasiun ini juga berada pada koridor layanan Siantar Ekspres dan mendukung akses perjalanan masyarakat di wilayah sekitarnya.
Selama Januari–September 2026, Dolok Merangir mencatat 17.344 aktivitas pelanggan. Jumlah tersebut terdiri atas 9.238 pelanggan naik dan 8.106 pelanggan turun.
Meski berada jauh di bawah elevasi Nagreg dan Cipeundeuy, Dolok Merangir memperlihatkan bahwa stasiun pada lintasan dengan ketinggian berbeda tetap memiliki fungsi dalam melayani kebutuhan transportasi regional.
9. Stasiun Kayutanam – 144 mdpl
Stasiun Kayutanam di Sumatra Barat berada pada elevasi 144 mdpl. Stasiun ini menjadi salah satu titik layanan KA Lembah Anai dan memiliki keterkaitan historis dengan jalur pegunungan menuju Padang Panjang yang menggunakan sistem rel bergerigi.
Karakter tersebut menjadi bagian dari sejarah perkeretaapian Sumatra Barat, khususnya dalam menghadapi kondisi geografis yang berbeda dari lintasan kereta api di dataran rendah.
Pada Januari–September 2026, Kayutanam mencatat 113.210 aktivitas pelanggan, terdiri atas 54.156 pelanggan naik dan 59.054 pelanggan turun.
10. Stasiun Lubuk Linggau – 130 mdpl
Stasiun Lubuk Linggau di Sumatra Selatan menempati posisi kesepuluh dalam daftar ini dengan elevasi 130 mdpl. Stasiun tersebut merupakan salah satu titik penting layanan kereta api di wilayah operasional KAI Divisi Regional III Palembang.
Lubuk Linggau melayani perjalanan KA Bukit Serelo dan KA Sindang Marga, yang mendukung mobilitas masyarakat untuk perjalanan regional maupun antarkota.
Sepanjang Januari–September 2026, stasiun ini mencatat 380.481 aktivitas pelanggan, terdiri atas 192.460 pelanggan naik dan 188.021 pelanggan turun. Angka tersebut menunjukkan peran Lubuk Linggau sebagai salah satu akses transportasi kereta api di Sumatra Selatan.
Aktivitas pelanggan mencapai 3,89 juta
Secara keseluruhan, sepuluh stasiun tersebut mencatat 3.898.074 aktivitas naik-turun pelanggan sepanjang Januari–September 2026. Angka itu memperlihatkan perbedaan karakter mobilitas di setiap wilayah, mulai dari tingginya aktivitas Commuter Line di kawasan Bandung Raya hingga layanan regional di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan.
Cimahi dan Cimindi berkaitan erat dengan pergerakan masyarakat di kawasan Bandung Raya. Sementara itu, Garut dan Lubuk Linggau mendukung perjalanan antarkota dan regional. Adapun Nagreg, Cipeundeuy, Siantar, Baja Linggei, Dolok Merangir, dan Kayutanam menjadi bagian dari layanan kereta api pada koridor dengan karakter geografis yang beragam.
“Dari Nagreg di +848 meter hingga Lubuk Linggau di +130 meter, setiap stasiun memiliki cerita geografis, sejarah, dan pola perjalanan yang berbeda. Data aktivitas pelanggan menunjukkan bahwa stasiun-stasiun pada lintasan dengan elevasi tinggi tersebut tetap menjadi bagian dari mobilitas masyarakat hingga hari ini,” tutup Anne.(fahmi)


























