Wartatrans.com, JAKARTA – Sebanyak 26 UMKM binaan PLN UID Jakarta Raya meraup dan membukukan omzet sekitar Rp200 juta selama rangkaian FIFA ASEAN Cup 2026.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator ekonomi langsung yang sudah dapat diukur dari penyelenggaraan turnamen di Jakarta.
General Manager PLN UID Jakarta Raya Moch. Andy Adchaminoerdin menyampaikan capaian itu, Selasa (6/10/2026). Para pelaku UMKM berjualan secara bergantian di Plaza Timur Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), dengan produk kuliner dan produk lokal yang menyasar suporter.
“Capaian omzet sekitar Rp200 juta yang dibukukan oleh 26 UMKM binaan menunjukkan bahwa event berskala internasional dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” kata Andy.
Capaian tersebut muncul setelah Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 pada Senin (5/10/2026).
Indonesia mengalahkan Thailand melalui adu penalti setelah pertandingan berakhir 2-2. Sebanyak 67.000 tiket pertandingan final di SUGBK dilaporkan terjual habis.
Dari sisi mobilitas, turnamen juga mendorong penggunaan konektivitas antarkota dan transportasi publik.
Kereta Cepat Whoosh mengangkut lebih dari 100 pemain, ofisial, panitia, dan perangkat pertandingan menuju Bandung. Angka itu bukan jumlah penonton, melainkan rombongan yang terkait langsung dengan penyelenggaraan turnamen.
General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa menyampaikan data tersebut pada Kamis (24/9/2026). Dalam salah satu perjalanan, jumlah rombongan mencapai hingga 40 penumpang, termasuk tim Thailand dan Pakistan serta perangkat pertandingan FIFA.
Di Jakarta, MRT juga memperpanjang layanan hingga pukul 01.00 WIB pada Senin (5/10/2026) untuk mendukung mobilitas masyarakat. Perjalanan terakhir dari Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia berangkat pukul 00.37 WIB, sedangkan dari Bundaran HI Bank Jakarta pukul 00.40 WIB.
Namun, data yang tersedia sejauh ini belum cukup untuk menghitung dampak ekonomi FIFA ASEAN Cup 2026 secara keseluruhan. Omzet Rp200 juta hanya mencerminkan transaksi 26 UMKM binaan PLN, sementara data Whoosh mencatat mobilitas peserta turnamen, bukan keseluruhan pergerakan penonton.
Padahal, pemerintah memiliki benchmark dari Piala Dunia U-17 2023.
Kemenpora menghitung perputaran uang mencapai sekitar Rp305 miliar, dengan tambahan produksi barang dan jasa Rp250 miliar serta tambahan PDB Rp229,2 miliar.
Perhitungan tersebut menggunakan survei penonton, pelaku usaha dan volunteer, serta data sekunder.
Karena itu, FIFA ASEAN Cup 2026 baru meninggalkan jejak ekonomi yang terukur pada sebagian aktivitas.
Dampak terhadap hotel, restoran, transportasi, UMKM, pariwisata, dan penerimaan daerah masih perlu dihitung agar manfaat ekonomi turnamen dapat dibandingkan secara objektif dengan event olahraga internasional sebelumnya. (Artha Tidar)


























