Wartatrans.com, SURABAYA – Sebanyak 32 dosen Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Surabaya bertambah gelar akademiknya setelah resmi dilantik sebagai insinyur dalam Pelantikan Insinyur Periode II Tahun Akademik 2025/2026 di Widya Mandala Hall, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Jumat (9/10/2026).
Para dosen tersebut menyelesaikan pendidikan Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) selama satu semester untuk menyesuaikan kompetensi yang dibutuhkan.
Pencapaian ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kompetensi profesional dan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya bagi tenaga pendidik di lingkungan Poltekpel Surabaya.
Direktur Poltekpel Surabaya, Ir. Moejiono turut menjadi salah satu lulusan yang dilantik.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menerima penghargaan sebagai “Mahasiswa Terpeduli” atas dedikasi dan kepeduliannya selama mengikuti pendidikan.
Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi sivitas akademika Poltekpel Surabaya sekaligus memperkuat komitmen institusi dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalisme tenaga pendidik.
Moejiono turut mengapresiasi penyelenggaraan pendidikan profesi insinyur melalui jalur RPL yang memberikan kesempatan kepada para profesional dan tenaga pendidik untuk meningkatkan kompetensi berdasarkan pengalaman serta pembelajaran yang telah dimiliki.
Pelantikan ini merupakan pencapaian yang membanggakan, tidak hanya bagi para dosen yang telah menyelesaikan pendidikan profesi insinyur, tetapi juga bagi Poltekpel Surabaya sebagai institusi pendidikan vokasi di bidang pelayaran.
“Gelar insinyur ini diharapkan semakin memperkuat kompetensi, profesionalisme, dan integritas para dosen dalam melaksanakan pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat,” ujar Moejiono.
Rektor UKWMS, apt. Sumi Wijaya dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi kepada seluruh insinyur yang dilantik.
Ia mengakui bahwa pencapaian tersebut membutuhkan perjuangan, kedisiplinan, dan komitmen yang kuat, terutama bagi peserta yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UKWMS, Prof. Ir. Felycia Edi Soetaredjo menekankan pentingnya menjaga profesionalisme dan kedaulatan keilmuan di tengah perkembangan teknologi.
Menurutnya, seorang insinyur harus mampu mempertahankan kedalaman substansi, orisinalitas, serta akuntabilitas atas setiap karya teknis yang dihasilkan.
Ia menjelaskan bahwa desain teknis yang dihasilkan menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tetap memerlukan pemeriksaan dan pengesahan oleh tenaga profesional yang berwenang.
Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap dokumen dan hasil pekerjaan teknis dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Sehebat apa pun gambar desain teknis yang dihasilkan oleh AI, dokumen tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan di lapangan bila bukan insinyur yang mengesahkan dan menandatanganinya,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh insinyur untuk melindungi profesinya dengan mematuhi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran.
Felycia menyampaikan apresiasi kepada seluruh lulusan dan berharap ilmu, pengalaman, serta integritas yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UKWMS dapat menjadi bekal utama untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.
Keberhasilan 32 dosen Poltekpel Surabaya menyelesaikan Program Profesi Insinyur menjadi wujud komitmen institusi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan.
Dengan kompetensi profesional yang semakin kuat, para dosen diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat serta menghasilkan lulusan yang kompeten dan berintegritas.
Di tengah perkembangan teknologi dan pemanfaatan AI, penguasaan kompetensi teknis harus tetap diimbangi dengan integritas serta tanggung jawab profesi.
“Melalui pencapaian ini, Poltekpel Surabaya berharap para dosen dapat terus berkontribusi dalam pengembangan pendidikan vokasi pelayaran dan mendukung kemajuan sektor transportasi laut Indonesia,” tutup Moejiono. (omy)






















