Wartatrans.com, JAKARTA – PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) merencanakan investasi sekitar Rp10 triliun untuk membangun pabrik ban kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Karawang, Jawa Barat.
Rencana ekspansi ini membuka peluang memasuki pasar ban dengan kebutuhan teknologi berbeda, tetapi realisasinya bergantung pada kepastian pendanaan, permintaan pasar, dan kemampuan perusahaan mengamankan kontrak pemasokan.
Informasi yang dipublikasikan pada Oktober 2026 menyebut proyek tersebut direncanakan menggunakan lahan sekitar 200 hektare.
Namun, jadwal konstruksi dan operasi komersial belum dapat dipastikan melalui konfirmasi langsung perusahaan. Karena itu, tahapan dan jadwal pelaksanaan proyek masih perlu diperjelas oleh manajemen GJTL.
Presiden Direktur GJTL Suryopratomo membahas pengembangan industri ban dalam Investor Daily Summit 2026 di Raffles Jakarta, dikutip Rabu (14/10/2026).
Ia menekankan pentingnya sumber daya manusia untuk menjaga keberlanjutan dan daya saing industri.
“Industri itu harus ditopang oleh ketersediaan SDM, karena industri hidup kalau kemudian SDM-nya bisa menjalankan industri tersebut,” kata Suryopratomo. GJTL mengembangkan pendidikan vokasi melalui Politeknik Gajah Tunggal sejak 1984.
Produksi perusahaan disebut mencapai sekitar 143.000 ban per hari untuk berbagai segmen, termasuk sepeda motor, truk, dan bus.
Namun, kapasitas produksi tersebut tidak otomatis menunjukkan kesiapan produksi khusus ban EV yang membutuhkan penyesuaian desain dan karakteristik teknis.
Kinerja keuangan GJTL pada semester I/2026 menunjukkan perbaikan. Penjualan bersih mencapai sekitar Rp8,99 triliun, naik 5,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih meningkat sekitar 76,8% menjadi Rp796,37 miliar, sedangkan EBITDA mencapai sekitar Rp1,46 triliun. Per 30 Juni 2026, kas dan setara kas tercatat Rp859 miliar.
Dengan nilai investasi yang mendekati ekuitas perusahaan sebesar Rp11,01 triliun, struktur pendanaan menjadi perhatian penting.
Manajemen perlu menjelaskan skema pembiayaan dan proyeksi pengembalian investasi agar ekspansi tidak menekan arus kas secara berlebihan.
Dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik, Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) Kukuh Kumara menyoroti penerapan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Dalam diskusi Indonesia Business Forum pada Rabu (26/8/2026), sebagaimana dipublikasikan GAIKINDO pada Jumat (4/9/2026), ia mengatakan, “Jadi yang harus dikawal adalah masalah TKDN, dan ini kan nanti di tahun 2027 ada peningkatan. Tapi betulkah itu akan dilakukan? Ini yang jadi PR tersendiri.”
Pernyataan tersebut menyoroti perlunya kepastian kebijakan dan kesiapan rantai pasok dalam pengembangan kendaraan listrik. Namun, Kukuh tidak secara khusus menilai rencana investasi GJTL.
Sementara itu, dinamika pasar ekspor menjadi tantangan tersendiri. Peneliti senior Indonesia Tyre Market Research (ITMR), Akhmad Fuadi, pada Jumat (28/8/2026), menyebut sekitar 70% produksi ban Indonesia ditujukan untuk ekspor.
“Tetapi, di luar negeri pun permintaan pabrikan atau Original Equipment Manufacturer (OEM) juga menyusut, meski tipis karena faktor geopolitik yang berimbas ke ekonomi,” katanya.
Fuadi juga menjelaskan bahwa permintaan ban untuk kendaraan elektrifikasi yang harus memenuhi ketentuan TKDN turut menopang pasar. Meski demikian, informasi tersebut belum menunjukkan besarnya permintaan ban EV secara nasional.
Bagi GJTL, investasi Rp10 triliun baru akan bernilai strategis jika ditopang teknologi kompetitif, kontrak pemasokan, utilisasi pabrik yang memadai, serta akses pasar ekspor.
Kepastian jadwal pembangunan dan skema pembiayaan menjadi penentu apakah ekspansi tersebut dapat menghasilkan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan. (Artha Tidar)




























