Menu ✖

Mode Gelap
Pengembangan Terminal Purabaya dan Betan Subing Ditawarkan Kemenhub Melalui KPBU AirNav Tegaskan Komitmen Penguatan Layanan Navigasi Penerbangan Catatan Iwan Piliang: Ketika Solusi Karhutla Terbentur Birokrasi Satpol PP Fakfak Beri Tenggat 3×24 Jam, Bangunan Liar di Pasar Kelapa Dua Terancam Dibongkar Bupati Fakfak Pimpin Sertijab Sekda Definitif Arif H. Rumagesan, Tekankan Sinergi OPD Dalam 2 Tahun Pariwisata Gerakkan Peningkatan Perekonomian

PERON

KAI: 61 Persen Aktivitas Penumpang Kereta Api Terjadi di Luar 10 Stasiun Terpadat

badge-check


 KAI: 61 Persen Aktivitas Penumpang Kereta Api Terjadi di Luar 10 Stasiun Terpadat Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat sebanyak 29.858.267 pelanggan menggunakan kereta api jarak jauh dan kereta api lokal yang dikelola KAI sepanjang Semester I 2026. Pelayanan tersebut tersebar melalui 232 stasiun di Jawa dan Sumatra.

Dalam pencatatan per stasiun, satu perjalanan pelanggan menghasilkan satu aktivitas naik di stasiun keberangkatan dan satu aktivitas turun di stasiun tujuan. Berdasarkan metode tersebut, tercatat 59.716.534 aktivitas naik dan turun pelanggan selama Januari–Juni 2026.

Sebanyak 36.560.181 aktivitas atau 61,22 persen dari jumlah tersebut berlangsung di 222 stasiun di luar kelompok 10 stasiun dengan volume tertinggi. Artinya, lebih dari tiga dari setiap lima aktivitas naik dan turun pelanggan berlangsung di luar stasiun-stasiun terpadat.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, komposisi tersebut menggambarkan kebutuhan perjalanan yang tersebar di berbagai daerah dengan tujuan yang beragam.

“Di balik 36,56 juta aktivitas naik dan turun tersebut terdapat perjalanan menuju sekolah, kampus, rumah sakit, tempat kerja, pasar, pusat pelayanan publik, destinasi wisata, serta keluarga di daerah lain. Sebaran ini memperlihatkan peran transportasi dalam memperluas kesempatan masyarakat,” kata Anne.

Sementara itu, 10 stasiun dengan volume tertinggi mencatat 23.156.353 aktivitas naik dan turun atau 38,78 persen dari total Semester I 2026. Stasiun Pasar Senen menempati posisi tertinggi dengan 3.849.606 aktivitas, disusul Gambir sebanyak 3.227.508 aktivitas dan Yogyakarta 3.217.240 aktivitas.

Berikutnya, Stasiun Semarang Tawang mencatat 2.152.894 aktivitas, Surabaya Gubeng 1.904.845 aktivitas, Purwokerto 1.839.475 aktivitas, Surabaya Pasarturi 1.823.529 aktivitas, Semarang Poncol 1.740.518 aktivitas, Solo Balapan 1.706.290 aktivitas, serta Bandung 1.694.448 aktivitas.

Porsi yang lebih besar di luar 10 stasiun tersebut menunjukkan bahwa mobilitas berbasis kereta api juga bertumpu pada kota menengah, ibu kota kabupaten, kawasan pendidikan, pusat perdagangan daerah, serta wilayah yang terhubung dengan kota-kota di sekitarnya.

Pola yang sama terlihat ketika penghitungan diperluas hingga di luar kelompok 50 stasiun dengan volume tertinggi. Sebanyak 182 stasiun di luar kelompok tersebut secara kumulatif mencatat 13.066.904 aktivitas naik dan turun pelanggan atau 21,88 persen dari keseluruhan pergerakan selama Semester I 2026.

“Volume pelayanan setiap stasiun memang berbeda. Namun, arti sebuah stasiun juga terlihat dari kebutuhan masyarakat yang dijangkau. Layanan dari stasiun terdekat dapat membuka pilihan perjalanan yang lebih terencana menuju pendidikan, fasilitas kesehatan, pekerjaan, perdagangan, dan berbagai kebutuhan keluarga,” ujar Anne.

Sebaran pelayanan semakin luas dengan mulai dilayaninya aktivitas naik dan turun pelanggan di Stasiun Comal, Plabuan, dan Rajapolah pada April 2026. Perkembangan selama tiga bulan berikutnya memperlihatkan adanya kebutuhan perjalanan masyarakat melalui ketiga stasiun tersebut.

Stasiun Comal mengawali pelayanan dengan 512 aktivitas naik dan turun pelanggan pada April. Jumlahnya meningkat menjadi 5.623 aktivitas pada Mei dan 5.861 aktivitas pada Juni. Secara kumulatif, Stasiun Comal mencatat 11.996 aktivitas selama April–Juni 2026, dengan volume Juni meningkat 4,23 persen dibandingkan Mei.

Pada periode yang sama, Stasiun Plabuan mencatat 23 aktivitas pada April, kemudian meningkat menjadi 375 aktivitas pada Mei dan 416 aktivitas pada Juni. Total pelayanan selama tiga bulan mencapai 814 aktivitas, sedangkan volume Juni meningkat 10,93 persen dibandingkan Mei.

Perkembangan juga tercatat di Stasiun Rajapolah. Aktivitas naik dan turun pelanggan meningkat dari 88 pada April menjadi 154 pada Mei, kemudian mencapai 286 pada Juni. Volume Juni meningkat 85,71 persen dibandingkan Mei, dengan total 528 aktivitas selama April–Juni 2026.

Secara bersama-sama, Comal, Plabuan, dan Rajapolah melayani 623 aktivitas naik dan turun pelanggan pada April. Jumlah tersebut meningkat menjadi 6.152 aktivitas pada Mei dan 6.563 aktivitas pada Juni. Selama tiga bulan pertama pelayanan, ketiganya mencatat total 13.338 aktivitas pelanggan.

“Perkembangan Comal, Plabuan, dan Rajapolah menunjukkan bahwa kebutuhan perjalanan mulai terlihat ketika pelayanan naik dan turun tersedia. Setiap angka menggambarkan masyarakat yang memperoleh pilihan baru untuk menjangkau kegiatan dan layanan di daerah lain,” kata Anne.

Ketersediaan perjalanan dari lebih banyak stasiun dapat memperluas pilihan pelajar dan mahasiswa menuju sekolah, kampus, serta pusat pendidikan. Jadwal yang pasti juga membantu pasien dan keluarga pendamping merencanakan perjalanan menuju rumah sakit atau fasilitas kesehatan antardaerah.

Konektivitas tersebut turut mendukung pekerja dan pelaku usaha dalam menjangkau pusat pekerjaan, pasar, kawasan perdagangan, dan mitra bisnis. Aktivitas pelanggan di stasiun kemudian menciptakan kebutuhan terhadap transportasi lanjutan, makanan dan minuman, penginapan, perdagangan eceran, serta jasa masyarakat di sekitar stasiun dan daerah tujuan.

Sebaran pergerakan pelanggan memiliki arti yang lebih luas daripada besarnya volume di satu lokasi. Setiap stasiun dapat menjadi pintu bagi masyarakat untuk memperoleh layanan dasar, meningkatkan produktivitas, memperluas jangkauan usaha, serta menemukan peluang ekonomi di wilayah lain.

Arah tersebut sejalan dengan agenda global transportasi berkelanjutan yang menempatkan akses, konektivitas, keselamatan, dan inklusivitas sebagai bagian dari peningkatan kualitas hidup masyarakat. Transportasi menjadi penghubung antara tempat tinggal dengan berbagai kesempatan sosial dan ekonomi.

Di tingkat nasional, pemerataan akses transportasi relevan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. RPJMN merupakan dokumen perencanaan pembangunan Indonesia untuk periode lima tahun yang memuat arah peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi, pengurangan kemiskinan, dan pembangunan wilayah yang lebih merata.

Data naik dan turun pelanggan di setiap stasiun memberikan gambaran mengenai pola mobilitas antardaerah. Perkembangan volume dari waktu ke waktu juga menunjukkan perubahan kebutuhan perjalanan, baik pada stasiun dengan tingkat pelayanan tinggi maupun stasiun yang mulai melayani pelanggan.

“Pemerataan transportasi pada akhirnya membuka pemerataan kesempatan. Ketika perjalanan semakin mudah direncanakan, masyarakat memiliki ruang yang lebih luas untuk belajar, menjaga kesehatan, bekerja, berdagang, dan meningkatkan kualitas hidup,” tutup Anne.(fahmi)

Baca Lainnya

Jelang Musim Tanam, Angkutan Pupuk KAI Meningkat 31,47 Persen

20 Oktober 2026 - 10:43 WIB

Satu KRL INKA Kembali Beroperasi di Lintas Bogor

20 Oktober 2026 - 10:36 WIB

KAI Catat Jutaan Perjalanan Antarkota, Rute Gambir-Yogyakarta Tembus 1 Juta

19 Oktober 2026 - 19:32 WIB

Penumpang Stasiun Sukabumi Naik 7 Persen, Tembus 613 Ribu pada 2026

19 Oktober 2026 - 17:29 WIB

Tiga Kereta Api Andalan Priangan Makin Diminati, Layani 1,1 Juta Pelanggan

19 Oktober 2026 - 17:16 WIB

Warteg on Train Hadir di KA Batavia, Penumpang Kini Bisa Pilih Lauk Favorit di Kereta

19 Oktober 2026 - 15:21 WIB

KAI Hubungkan Kota-Kota Kuliner Nusantara, Tiga KA Catat 2,11 Juta Pelanggan

19 Oktober 2026 - 14:39 WIB

Dua Rangkaian KRL INKA Masih Diperbaiki, 7 Perjalanan Bogor Dibatalkan

19 Oktober 2026 - 04:15 WIB

Cari Inspirasi Liburan Akhir Pekan? Ini 10 Stasiun KAI dengan Pertumbuhan Pelanggan Tertinggi

19 Oktober 2026 - 00:25 WIB

KAI Commuter Batalkan 7 Perjalanan KRL Bogor pada Senin 19 Oktober

18 Oktober 2026 - 22:10 WIB

Trending di PERON