Wartatrans.com, JAKARTA – Perjalanan menggunakan kereta api dan transportasi laut saling bertemu di sejumlah koridor Indonesia. Sepanjang Januari–September 2026, lima stasiun yang berada di kota atau kawasan pelabuhan, yakni Tanjung Priok, Semarang Tawang, Surabaya Pasar Turi, Merak, dan Ketapang, mencatat total sekitar 11.986.400 aktivitas pelanggan.
Volume terbesar berada di Stasiun Tanjung Priok sebanyak 4.311.585 aktivitas gate in dan gate out, disusul Semarang Tawang 3.329.748 aktivitas naik dan turun, Surabaya Pasar Turi 2.789.112, Merak 940.794, serta Ketapang 615.161. Perhitungan menggunakan basis aktivitas pelanggan sesuai sistem masing-masing operator sehingga menggambarkan intensitas pergerakan pada setiap stasiun.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pola tersebut menunjukkan bahwa perjalanan berbasis rel memiliki fungsi yang berbeda di setiap kawasan pelabuhan.
“Di sejumlah kota, perjalanan pelanggan berlanjut dari kereta api menuju kapal atau sebaliknya. Data hampir 12 juta aktivitas ini memperlihatkan pentingnya melihat perjalanan pelanggan sebagai satu rangkaian antarmoda,” ujar Anne.
Karakter konektivitasnya berbeda. Stasiun Merak menjadi akses menuju Pelabuhan Merak untuk perjalanan penyeberangan Jawa–Sumatra. Stasiun Ketapang berada dekat Pelabuhan Ketapang yang melayani penyeberangan Jawa–Bali. Sementara Stasiun Tanjung Priok melayani kawasan yang berdekatan dengan terminal kapal penumpang di Pelabuhan Tanjung Priok. KAI sebelumnya mencatat ketiga stasiun tersebut telah melayani 3,88 juta aktivitas pelanggan pada Semester I 2026.
Pada skala kota, Semarang Tawang dan Surabaya Pasar Turi menjadi pintu masuk perjalanan kereta api menuju dua kota pelabuhan utama di Jawa. Perjalanan selanjutnya menuju kawasan Tanjung Emas di Semarang maupun Tanjung Perak di Surabaya dilakukan menggunakan angkutan lanjutan melalui jaringan jalan perkotaan.
Aktivitas transportasi laut pada kedua kota tersebut juga besar. Data BPS mencatat selama Januari–Agustus 2026, Pelabuhan Tanjung Priok melayani sekitar 422.947 penumpang datang dan berangkat, sementara Tanjung Perak sekitar 1,51 juta penumpang.
Menurut Anne, angka tersebut memberi konteks bagi pengembangan integrasi antarmoda. Informasi perjalanan lanjutan, akses keluar-masuk stasiun, ketersediaan transportasi penghubung, serta kemudahan membawa barang bawaan menjadi bagian yang memengaruhi pengalaman pelanggan ketika berpindah moda.
KAI melihat pola perjalanan darat–laut sebagai salah satu pasar mobilitas yang perlu terus dibaca, terutama menjelang periode libur ketika perjalanan antarpulau meningkat. Setiap stasiun memiliki karakter yang berbeda sehingga pendekatan integrasi perlu disesuaikan dengan jarak menuju pelabuhan, pola perjalanan pelanggan, dan ketersediaan moda lanjutan.
“Tujuannya sederhana: pelanggan dapat memahami dari awal bagaimana melanjutkan perjalanan setelah turun dari kereta. Semakin jelas koneksi antarmoda, semakin mudah masyarakat merencanakan perjalanan antarkota maupun antarpulau,” tutup Anne.(fahmi)


























