Wartatrans.com, JAKARTA – Peralihan sebagian penumpang dari pesawat ke kapal sebagai alternatif moda di Kaimana, Papua Barat, memperlihatkan peran angkutan laut dalam menjaga konektivitas ketika kabut asap mengganggu penerbangan.
Jaringan pelabuhan dan pelayaran menjadi jalur alternatif bagi masyarakat untuk melanjutkan perjalanan antardaerah saat perjalanan udara terkendala.
Kepala Cabang PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) Jayapura Daulad Apul Gervasius Naibaho memastikan operasional kapal penumpang dan kapal perintis di wilayah kerjanya tetap berjalan normal.
Dalam keterangan yang diberitakan pada Jumat (16/10/2026), dijelaskannya, pemantauan kondisi pelayaran tetap dilakukan untuk menjaga keselamatan kapal dan penumpang.
“Keselamatan pelayaran, penumpang, awak kapal, dan lingkungan merupakan prioritas utama yang tidak boleh dikompromikan dengan target perusahaan,” kata Daulad.
Pemantauan operasional mencakup kondisi cuaca, jarak pandang, kecepatan angin, lalu lintas pelayaran, kondisi alur, serta peringatan dini dari sumber resmi.
Nakhoda juga diminta memastikan peralatan berfungsi baik dan menyesuaikan kecepatan kapal dengan kondisi pelayaran.
Peralihan moda terlihat di Kaimana pada Kamis (15/10/2026), ketika KM Sabuk Nusantara 96 tiba membawa ratusan penumpang.
Sejumlah penumpang memilih jalur laut setelah perjalanan udara terganggu kabut asap, termasuk rombongan jemaah umrah yang harus melanjutkan perjalanan menuju Sorong menggunakan kapal.
Angkutan laut menyediakan pilihan perjalanan antardaerah, meskipun waktu tempuh dan jadwalnya berbeda dari transportasi udara.
Gangguan konektivitas itu berlangsung di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan di Tanah Papua.
Data SiPongi+ Kementerian Kehutanan mencatat luas areal terbakar di enam provinsi di Tanah Papua mencapai 33.787,54 hektare selama Januari-Juli 2026. Papua Selatan menyumbang 25.838,53 hektare, jauh melampaui lima provinsi lainnya.
Kebakaran tersebut merupakan persoalan lingkungan yang berlangsung sebelum gangguan penerbangan pada Oktober.
Namun, luas areal terbakar tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab gangguan di setiap bandara, karena operasional penerbangan antara lain ditentukan oleh kondisi jarak pandang aktual di lokasi.
Keterhubungan rute dan kapasitas layanan menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan angkutan laut menopang mobilitas antardaerah.
Pelindo Regional 4 mencatat arus penumpang di wilayah kerjanya mencapai 6,02 juta orang selama Januari-Agustus 2026, naik 12,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sebesar 5,33 juta orang.
Data tersebut menggambarkan pertumbuhan aktivitas penumpang di pelabuhan kawasan timur Indonesia, tetapi tidak secara khusus menunjukkan kondisi kapasitas layanan di Papua.
Bagi Papua, tantangannya bukan hanya memastikan kapal tetap beroperasi, melainkan menjaga tersedianya pilihan perjalanan ketika penerbangan terganggu.
Kepastian jadwal, keterhubungan antarmoda, dan kelancaran distribusi barang menjadi faktor penting agar jaringan pelabuhan dapat menopang konektivitas masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah. (Artha Tidar)



























