Wartatrans.com, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghanguskan sekitar 10 hektare lahan di Bagendang Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Rabu (7/10/2026).
Kebakaran di kawasan yang sama dengan lokasi Pelabuhan Bagendang itu memunculkan perhatian terhadap potensi risiko asap bagi akses transportasi dan kelancaran distribusi barang, meski pengelola menyatakan aktivitas terminal tetap normal.
Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menyampaikan kondisi operasional pelabuhan tersebut setelah meninjau Pelabuhan Bagendang Sabtu (10/10/2026).
Ia mengatakan, kelancaran aktivitas pelabuhan perlu dijaga karena fasilitas itu berperan dalam mendukung perekonomian daerah.
“Berdasarkan penjelasan pihak pengelola, aktivitas di Pelabuhan Bagendang berjalan lancar ya,” kata Agustiar saat peninjauan.
Kepala Terminal Peti Kemas (TPK) Bagendang Bumiharjo, Akhmad Fajar, juga menyatakan aktivitas terminal tidak terganggu.
Distribusi barang, terutama kebutuhan pokok, disebut tetap berjalan normal di tengah kondisi karhutla.
“Alhamdulillah, selama kondisi kebakaran hutan dan lahan ini, aktivitas kita tetap normal, terutama distribusi bahan sembako kepada masyarakat,” ujar Akhmad.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Kotawaringin Timur mencatat petugas Pos Damkar Sektor Samuda berangkat menuju lokasi pada pukul 13.05 WIB, Rabu (7/10/2026), dan tiba pukul 13.36 WIB. Pemadaman dimulai pukul 13.40 WIB dan selesai pukul 15.30 WIB.
Penyebab kebakaran belum diketahui, sedangkan laporan petugas menyebut tidak ada korban jiwa.
Keterkaitan karhutla dengan pelabuhan terletak pada potensi dampaknya terhadap lingkungan operasional dan jalur distribusi.
Jika asap mencapai akses jalan atau jalur pelayaran, jarak pandang dapat berkurang dan perjalanan kendaraan maupun kapal berisiko terganggu.
Namun, belum ada data yang menunjukkan kondisi tersebut terjadi akibat kebakaran di Bagendang Hilir kali ini.
Risiko kabut asap terhadap transportasi sungai pernah terlihat di Sungai Mentaya, Sampit, pada Minggu (15/9/2019).
Saat itu, jarak pandang dilaporkan sekitar 500 meter pada pukul 07.00 WIB dan turun menjadi 400 meter pada pukul 10.00 WIB. Hendrik Sugiharto,
Manajer PT Dharma Lautan Utama Cabang Sampit mengatakan, kapal masih dapat beroperasi dengan dukungan teknologi navigasi, tetapi mengingatkan risiko bagi perahu tradisional.
“Alhamdulillah kapal kami masih bisa lancar karena teknologi navigasi yang memadai. Tapi yang perlu diperhatikan adalah lalu lintas kapal atau perahu tradisional milik masyarakat karena asap dikhawatirkan mengganggu jarak pandang,” kata Hendrik di Sampit.
Kejadian pada 2019 tersebut menjadi ilustrasi risiko asap terhadap transportasi sungai, bukan bukti adanya gangguan pelayaran di Pelabuhan Bagendang pada Oktober 2026.
Dari sisi bisnis, TPK Bagendang mencatat arus peti kemas sebanyak 75.175 twenty-foot equivalent units (TEUs) sepanjang 2025, meningkat sekitar 4 persen dibandingkan 72.233 TEUs pada 2024.
Besarnya arus barang membuat kelancaran terminal penting bagi distribusi kebutuhan pokok dan kegiatan usaha di wilayah sekitarnya.
Sejauh ini, pengelola menyatakan layanan terminal tetap normal. Dampak ekonomi karhutla terhadap pelabuhan baru dapat dinilai lebih jauh jika tersedia data mengenai keterlambatan kapal dan truk, perubahan produktivitas bongkar muat, atau hambatan pengiriman barang. (Artha Tidar)
























