Wartatrans.com, JAKARTA – Layanan makan dan minum di perjalanan kereta api telah berkembang hampir seabad, sejak mulai dikenal pada era 1930-an hingga kini hadir melalui kereta makan modern dan pelayanan prama-prami di sepanjang rangkaian.
Ada cerita yang berlangsung di dalam kereta sejak puluhan tahun lalu. Ketika perjalanan antarkota membutuhkan waktu berjam-jam, pelanggan membutuhkan makanan dan minuman selama perjalanan. Dari kebutuhan sederhana tersebut, pelayanan di dalam kereta berkembang, melewati berbagai generasi sarana dan petugas hingga hadir dalam bentuk yang dikenal pelanggan saat ini.
Catatan sejarah resmi KAI Services menyebut restoran kereta api mulai dibentuk pada rentang 1930-an, ketika pada masa Pemerintah Hindia Belanda muncul kebutuhan menyediakan layanan makan dan minum bagi pelanggan selama perjalanan. Jejak tersebut menjadi bagian awal perjalanan panjang pelayanan konsumsi di atas kereta api Indonesia.
Pada masa awal, aktivitas pelayanan berpusat pada kereta restorasi atau kereta makan. Petugas yang dikenal sebagai pelayan restorasi bertugas melayani kebutuhan konsumsi pelanggan. Seiring berkembangnya perjalanan kereta api, pelayanan kemudian semakin dekat dengan pelanggan di sepanjang rangkaian. Dari perjalanan panjang tersebut berkembang profesi pramugara dan pramugari kereta api yang kini dikenal sebagai prama dan prami.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan perubahan tersebut berjalan bersama perkembangan kereta api dan kebutuhan masyarakat.
“Pelayanan di dalam kereta memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Bermula dari kebutuhan menyediakan makanan dan minuman selama perjalanan, bentuk pelayanan terus berkembang bersama perubahan sarana dan kebutuhan pelanggan. Kereta makan serta petugas yang melayani pelanggan menjadi bagian dari pengalaman perjalanan dari generasi ke generasi,” ujar Anne.
RESTORKA dan Perkembangan Pelayanan di Dalam Kereta
Pengelolaan pelayanan restorasi semakin terstruktur memasuki era Perusahaan Jawatan Kereta Api atau PJKA.
KAI mencatat perubahan kelembagaan perkeretaapian Indonesia dari Perusahaan Nasional Kereta Api atau PNKA pada 1963 menjadi PJKA pada 1971.
Pada periode tersebut, RESTORKA tercatat menjadi bagian dari lingkungan PJKA dan berkantor di Jalan Stasiun Timur No. 6 Bandung. Catatan sejarah KAI Services juga menyebut salah satu minuman yang dikenal pada masa awal RESTORKA adalah Es Siripit.
Perkembangan organisasi berlangsung setahun kemudian. Berdasarkan Surat Keputusan Direksi PJKA Nomor 4805/SK/72 tanggal 5 Desember 1972, RESTORKA ditempatkan sebagai unit khusus dalam struktur organisasi PJKA. Dengan posisi tersebut, penyelenggaraan dan pengelolaan restoran kereta api mendapatkan wadah tersendiri.
Periode tersebut juga meninggalkan cerita kuliner yang bertahan dalam ingatan perjalanan kereta api. Salah satunya adalah Nasi Goreng Parahyangan, yang tercatat dalam perjalanan sejarah RESTORKA dan kemudian dikenal sebagai salah satu menu legendaris kereta api.
“Kalau kita melihat perjalanan tersebut, makanan ternyata mempunyai tempat tersendiri dalam sejarah kereta api. Ada pelanggan yang mengingat perjalanan melalui keretanya, pemandangan yang dilewati, hingga makanan yang dinikmati selama berada di atas kereta. Pengalaman-pengalaman seperti inilah yang ikut membentuk memori perjalanan dari masa ke masa,” kata Anne.
Dari Pelayan Restorasi hingga Prama-Prami
Perubahan pelayanan juga terlihat pada petugas yang bekerja di dalam rangkaian.
Jika pada masa awal pelayanan berpusat pada kereta restorasi, dalam perkembangannya petugas hadir semakin dekat dengan pelanggan. Pramugara dan pramugari kemudian menjadi bagian dari pelayanan perjalanan kereta api, sebelum istilah prama dan prami semakin dikenal seperti sekarang.
Penampilan petugas ikut berubah mengikuti perkembangan identitas perusahaan dan standar pelayanan. Dokumentasi perjalanan perkeretaapian memperlihatkan perubahan seragam dari masa ke masa, sejalan dengan perubahan dari PJKA, Perumka, PT Kereta Api hingga KAI.
KAI tidak menetapkan kronologi warna dan desain setiap generasi seragam sebagai bagian dari catatan sejarah yang dipublikasikan saat ini. Namun, pada era modern, seragam menjadi salah satu identitas prama-prami ketika berinteraksi langsung dengan pelanggan.
Unsur budaya Indonesia juga hadir pada kesempatan tertentu. Pada peringatan Hari Batik Nasional 2025, misalnya, prama-prami KAI Services mengenakan batik karya Anne Avantie dengan motif Sawunggaling dan Truntum. Sawunggaling membawa makna kekuatan dan keteguhan, sementara Truntum merepresentasikan cinta yang tulus dan konsisten.
Perubahan seragam berjalan bersama perubahan ruang dan cara mereka bekerja. Prama-prami kini melayani kebutuhan pelanggan di sepanjang rangkaian serta mendukung pelayanan makanan dan minuman selama perjalanan.
Kereta Makan Juga Berubah
Hampir satu abad setelah restoran kereta api mulai dikenal pada era 1930-an, kereta makan tetap menjadi bagian dari perjalanan KA Jarak Jauh.
Namun, kereta makan yang ditemui pelanggan saat ini berasal dari berbagai generasi sarana. KAI masih mengoperasikan kereta makan eksisting, melakukan peningkatan terhadap kereta makan melalui program modifikasi, serta secara bertahap menerima kereta makan baru sebagai bagian dari program regenerasi sarana.
Secara fungsi, kereta makan dilengkapi dapur dan ruang saji untuk mendukung penyediaan makanan dan minuman selama perjalanan. Pada sejumlah kereta makan tersedia pula tempat duduk yang memungkinkan pelanggan menikmati makanan dan minuman sembari perjalanan berlangsung.
Modernisasi salah satunya dilakukan melalui kemampuan internal KAI di Balai Yasa Tegal.
Sepanjang 2024–2025, sebanyak 17 Kereta Makan M1 selesai dimodifikasi, terdiri atas empat unit pada 2024 dan 13 unit pada 2025. Seluruhnya kemudian digunakan kembali untuk mendukung operasional sejumlah perjalanan KA Jarak Jauh.
Program tersebut berlanjut pada 2026 dengan 10 Kereta Makan M1 yang masuk program modifikasi.
Pekerjaan menyentuh berbagai bagian sarana, mulai dari pemeriksaan rangka dasar, sistem roda, pengereman dan kelistrikan hingga peningkatan pencahayaan, tata ruang serta fasilitas bagi pelanggan. Setiap sarana kemudian melewati pemeriksaan kualitas dan pengujian fungsi sebelum kembali digunakan.
Hasil modifikasi tersebut bahkan telah melayani perjalanan di luar Jawa. Salah satunya digunakan pada KA Sindang Marga relasi Kertapati–Lubuklinggau PP di Sumatra Selatan.
“Modernisasi tidak selalu berarti mengganti sarana lama dengan yang baru. KAI juga meningkatkan sarana yang masih laik melalui program modifikasi. Dengan demikian, peningkatan kualitas pelayanan dapat dilakukan melalui regenerasi sarana baru sekaligus optimalisasi kereta eksisting,” ujar Anne.
Kereta Makan Baru Hadir Bertahap
Pada saat yang sama, regenerasi berlangsung melalui pengadaan kereta baru produksi PT INKA.
Dalam kontrak pengadaan 612 kereta periode 2023–2027, komposisinya mencakup 297 kereta eksekutif, 199 kereta ekonomi, 57 kereta makan, 57 kereta pembangkit, dan dua kereta bagasi.
Angka 57 kereta makan tersebut merupakan jumlah dalam kontrak pengadaan, sehingga tidak menggambarkan jumlah seluruh kereta makan KAI maupun jumlah kereta makan baru yang sudah beroperasi saat ini. Proses produksi, serah terima, dan pengoperasian berlangsung secara bertahap.
Kereta makan baru mulai hadir pada sejumlah rangkaian Stainless Steel New Generation. Kehadirannya melengkapi kereta makan generasi sebelumnya serta kereta makan hasil modifikasi yang masih beroperasi.
Dengan demikian, pelanggan dapat menjumpai karakter kereta makan yang berbeda bergantung pada rangkaian kereta api yang digunakan.
“Setiap generasi sarana mempunyai perjalanan sendiri. Saat ini kereta makan lama yang masih andal, kereta hasil modifikasi, serta kereta baru dapat berada dalam ekosistem operasi yang sama. Regenerasi kami lakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan keselamatan, keandalan, dan kenyamanan pelanggan,” kata Anne.
Apa yang Bisa Dinikmati di Kereta Makan Hari Ini?
Perubahan juga terasa dari makanan dan minuman yang tersedia.
Layanan konsumsi saat ini dikelola KAI Services melalui Kuliner Kereta, dengan pilihan menu yang berkembang mengikuti kebutuhan pelanggan. Beberapa menu yang dikenal dalam perjalanan antara lain Nasi Goreng Parahyangan Legend, Nasi Sei Sapi, dan Nasi Sapi Lada Hitam, disertai berbagai pilihan makanan ringan dan minuman.
Pada momen tertentu, pilihan makanan juga menyesuaikan kebutuhan perjalanan. Selama Ramadan 2026, misalnya, tersedia pilihan seperti Buko Pandan, Bubur Kacang Hijau, Kolak Pisang, kurma, dan gorengan.
Pelanggan juga tidak harus selalu mendatangi kereta makan untuk memperoleh makanan dan minuman. Pelayanan dilakukan oleh prama-prami di sepanjang rangkaian sehingga kebutuhan konsumsi dapat dilayani selama perjalanan.
Di sinilah perjalanan sejarah itu bertemu dengan kondisi hari ini.
Jika pada masa awal pelanggan mendatangi kereta restorasi untuk memperoleh makanan dan minuman, kini pelayanan dapat hadir langsung mendekati tempat duduk pelanggan. Sementara itu, kereta makan tetap menjadi ruang untuk menyiapkan, menyajikan, serta menikmati makanan dan minuman selama perjalanan.
Ruang Makan yang Menjadi Ruang Interaksi
Fungsi kereta makan bahkan berkembang menjadi ruang interaksi selama perjalanan.
Pada berbagai kesempatan, ruang tersebut dapat menjadi tempat pelanggan berbincang dan menikmati perjalanan dengan suasana berbeda dari tempat duduknya. Aktivasi tematik juga pernah dihadirkan KAI Services di dalam kereta, termasuk penyesuaian dekorasi dan busana petugas pada momentum tertentu.
Perubahan tersebut memperlihatkan jarak perjalanan yang panjang dari pelayanan restoran kereta api pada era 1930-an.
Dari pelayan restorasi menuju prama-prami, dari RESTORKA menuju KAI Services, dari kereta makan generasi terdahulu menuju M1 hasil modifikasi dan kereta makan baru, serta dari pilihan konsumsi sederhana menuju ragam Kuliner Kereta, pelayanan di atas kereta terus bergerak mengikuti zamannya.
“Banyak hal telah berubah. Sarana semakin modern, seragam petugas berkembang, pilihan makanan semakin beragam, dan cara pelanggan mendapatkan pelayanan juga semakin mudah. Namun, ada satu benang yang tetap sama sejak puluhan tahun lalu, yaitu menghadirkan pelayanan selama pelanggan menjalani perjalanan dengan kereta api,” ujar Anne.
Menurut Anne, cerita pelayanan tersebut menjadi bagian menarik dari sejarah perkeretaapian Indonesia karena memperlihatkan sisi manusia di balik perkembangan teknologi dan sarana.
“Ketika membicarakan sejarah kereta api, kita sering mengingat lokomotif, stasiun, atau jalurnya. Padahal, di dalam setiap rangkaian juga terdapat orang-orang yang selama puluhan tahun melayani perjalanan pelanggan. Dari pelayan restorasi pada masa lalu hingga prama-prami hari ini, mereka menjadi bagian dari cerita panjang pelayanan kereta api Indonesia,” tutup Anne.(****)


























