Menu ✖

Mode Gelap
Ode Untuk Namamu, Ketika Puisi dan Lukisan Merayakan Cinta serta Perjuangan Pompa Air Sempat Gangguan, Fasilitas Toilet dan Musala Stasiun Jatinegara Kembali Normal Demokrat Belum Bersikap Soal Pemakzulan Gibran, Soliditas Koalisi Prabowo Jadi Sorotan ​46 Tahun Sanggar Matahari: Merawat Seni, Sastra, dan Kemanusiaan Bersama Lintas Generasi Endatoe Foundation Gelar Webinar “Career Abroad”: Buka Jalan Pemuda-Pemudi Aceh Menjadi Tenaga Medis di Jerman Pentingnya Penanganan Penertiban Kendaraan ODOL di Pelabuhan untuk Keselamatan

SENI BUDAYA

Ode Untuk Namamu, Ketika Puisi dan Lukisan Merayakan Cinta serta Perjuangan

badge-check


 Ode Untuk Namamu, Ketika Puisi dan Lukisan Merayakan Cinta serta Perjuangan Perbesar

Wartatrans.com, MAGELANG — Sastra dan seni rupa bertemu dalam perayaan cinta, perjuangan, dan kreativitas melalui Ode Untuk Namamu, sebuah antologi puisi karya penyair Rekki Zakia yang berkolaborasi dengan perupa Hisam Al Gibran. Acara yang berlangsung di Kebun Makna, Jalan Trayem, Karangsanggrahan, Plosogede, Ngluwar, Kabupaten Magelang, Sabtu (10/10/2026) malam, menghadirkan lebih dari 100 pengunjung dalam suasana akrab dan penuh apresiasi terhadap seni.

Mengusung tema Ode Untuk Namamu, kegiatan ini tidak sekadar menjadi peluncuran buku, tetapi juga ruang perjumpaan antara kata, warna, bunyi, dan ekspresi. Pengunjung menikmati rangkaian pertunjukan secara gratis, ditemani kudapan khas kampung yang menambah kehangatan suasana.

Pameran dibuka secara resmi oleh Ugo Untoro, pelukis, pematung, penulis, dan seniman asal Purbalingga, Jawa Tengah, yang berdomisili di Yogyakarta. Lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu menandai pembukaan dengan goresan di atas kanvas.

Dalam pengantarnya, perbedaan antara sastra dan seni rupa menjadi salah satu pokok refleksi. Sastra mengandalkan bahasa untuk merangkai cerita, gagasan, dan emosi, sedangkan lukisan menyampaikan pengalaman melalui garis, warna, tekstur, dan bidang.

Keduanya memiliki karakter berbeda, tetapi bertemu dalam satu tujuan: menyampaikan pengalaman batin dan membuka ruang tafsir bagi penikmatnya. Jika sastra berkembang melalui dimensi waktu, lukisan menawarkan pengalaman melalui dimensi ruang.

Puisi, Musik, dan Generasi Muda

Acara dibuka dengan pembacaan puisi oleh penyair Hernadi Sasmoyo Aji bersama siswa-siswi MI Ma’arif Sirahan, Kabupaten Magelang. Penampilan ini menghadirkan perjumpaan antara penyair dan generasi muda sekaligus menempatkan sastra sebagai ruang pembelajaran dan pewarisan kebudayaan.

Panggung berikutnya diisi Wicahyanti Rejeki bersama putranya, Kenan Datu. Rangkaian acara juga menghadirkan Claudia Olivia, penulis dan penyair dari Australia berdarah Kroasia, serta Hisam Al Gibran sebagai perupa yang berkolaborasi dalam buku tersebut.

Peluncuran buku kedua Ode Untuk Namamu edisi mewah atau lux menjadi salah satu agenda utama. Mengangkat subtema Cinta dan Perjuangan, buku ini memadukan karya puisi Rekki Zakia dengan karya visual Hisam Al Gibran.

Sebagai pendiri Kebun Makna, Rekki Zakia turut menyampaikan sambutan mengenai penyelenggaraan kegiatan yang mempertemukan para pelaku seni dan masyarakat. Sementara itu, pertunjukan musikalisasi puisi oleh Siddiyoko serta Ida Bagus Rahmat bersama putranya, Daya, memperkaya pengalaman penonton dalam menikmati puisi melalui medium bunyi.

Perayaan ditutup dengan penampilan musik reggae Eggy and Friend, melengkapi suasana malam yang memadukan sastra, seni rupa, dan musik dalam satu ruang kebudayaan.

Seni sebagai Ruang Harapan

Pameran lukisan dijadwalkan berlangsung selama satu minggu setelah pembukaan. Karya-karya yang dipamerkan juga ditawarkan kepada masyarakat, khususnya pencinta seni dan kolektor lukisan.

Lebih dari sekadar agenda pameran, Ode Untuk Namamu memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas disiplin dapat membuka ruang pertemuan yang lebih luas antara seniman dan publik. Seni tidak hanya hadir sebagai objek untuk dinikmati, tetapi juga sebagai medium untuk merawat kepekaan, menghidupkan dialog, dan menumbuhkan harapan.

Di tengah kehidupan politik yang diwarnai berbagai tanda tanya, ruang-ruang kebudayaan seperti Kebun Makna menjadi penting untuk menjaga daya kritis sekaligus merawat optimisme masyarakat. Cinta, perjuangan, dan kreativitas dapat menjadi energi positif dalam membangun masa depan bangsa.

Malam di Kebun Makna pun menjadi pengingat bahwa masa depan tidak hanya dibentuk melalui keputusan politik, tetapi juga melalui pendidikan, kebudayaan, dan karya-karya yang menumbuhkan nilai kemanusiaan.***

(RM. Sudarmono)

Baca Lainnya

​46 Tahun Sanggar Matahari: Merawat Seni, Sastra, dan Kemanusiaan Bersama Lintas Generasi

11 Oktober 2026 - 10:03 WIB

Hisam Al Gibran dan Rekki Zakkia Hadirkan Dialog Seni tentang Cinta, Perjuangan, dan Tanah Air

10 Oktober 2026 - 08:50 WIB

Hamdi Afkar Hadirkan Keindahan Alam Aceh dalam Kanvas di Pameran Internasional USK

8 Oktober 2026 - 18:18 WIB

Krishna Sakti Buktikan Talenta Anak Indonesia, Rilis Dua Single dengan Dua Wajah Berbeda

8 Oktober 2026 - 17:01 WIB

Tanzil Murda Hadirkan Ingatan Budaya Aceh Lewat Rampagoe: Peeling Time

8 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Zulfikar Kirbi, Seni Harus Terus Mengalir, Jangan Sampai Berhenti

7 Oktober 2026 - 18:40 WIB

Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 Hadirkan Semangat Persahabatan Lintas Negara di USK

7 Oktober 2026 - 12:38 WIB

Sembilan Tahun Ruang Baca, Doa untuk Negeri Mengiringi Perayaan

5 Oktober 2026 - 21:37 WIB

Komunitas Ruang Baca Rayakan HUT ke-9 Lewat Galeri Esai di Warung Kopi

5 Oktober 2026 - 20:34 WIB

Wahyu Zein, Penyany Sekaligus Komposer Rilis EP dan Sukses Tembus 8 Ribuan Montly Listeners di Spotify

5 Oktober 2026 - 08:25 WIB

Trending di SENI BUDAYA