Wartatrans.com, MAGELANG — Sastra dan seni rupa bertemu dalam perayaan cinta, perjuangan, dan kreativitas melalui Ode Untuk Namamu, sebuah antologi puisi karya penyair Rekki Zakia yang berkolaborasi dengan perupa Hisam Al Gibran. Acara yang berlangsung di Kebun Makna, Jalan Trayem, Karangsanggrahan, Plosogede, Ngluwar, Kabupaten Magelang, Sabtu (10/10/2026) malam, menghadirkan lebih dari 100 pengunjung dalam suasana akrab dan penuh apresiasi terhadap seni.
Mengusung tema Ode Untuk Namamu, kegiatan ini tidak sekadar menjadi peluncuran buku, tetapi juga ruang perjumpaan antara kata, warna, bunyi, dan ekspresi. Pengunjung menikmati rangkaian pertunjukan secara gratis, ditemani kudapan khas kampung yang menambah kehangatan suasana.
Pameran dibuka secara resmi oleh Ugo Untoro, pelukis, pematung, penulis, dan seniman asal Purbalingga, Jawa Tengah, yang berdomisili di Yogyakarta. Lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu menandai pembukaan dengan goresan di atas kanvas.
Dalam pengantarnya, perbedaan antara sastra dan seni rupa menjadi salah satu pokok refleksi. Sastra mengandalkan bahasa untuk merangkai cerita, gagasan, dan emosi, sedangkan lukisan menyampaikan pengalaman melalui garis, warna, tekstur, dan bidang.
Keduanya memiliki karakter berbeda, tetapi bertemu dalam satu tujuan: menyampaikan pengalaman batin dan membuka ruang tafsir bagi penikmatnya. Jika sastra berkembang melalui dimensi waktu, lukisan menawarkan pengalaman melalui dimensi ruang.
Puisi, Musik, dan Generasi Muda
Acara dibuka dengan pembacaan puisi oleh penyair Hernadi Sasmoyo Aji bersama siswa-siswi MI Ma’arif Sirahan, Kabupaten Magelang. Penampilan ini menghadirkan perjumpaan antara penyair dan generasi muda sekaligus menempatkan sastra sebagai ruang pembelajaran dan pewarisan kebudayaan.

Panggung berikutnya diisi Wicahyanti Rejeki bersama putranya, Kenan Datu. Rangkaian acara juga menghadirkan Claudia Olivia, penulis dan penyair dari Australia berdarah Kroasia, serta Hisam Al Gibran sebagai perupa yang berkolaborasi dalam buku tersebut.
Peluncuran buku kedua Ode Untuk Namamu edisi mewah atau lux menjadi salah satu agenda utama. Mengangkat subtema Cinta dan Perjuangan, buku ini memadukan karya puisi Rekki Zakia dengan karya visual Hisam Al Gibran.
Sebagai pendiri Kebun Makna, Rekki Zakia turut menyampaikan sambutan mengenai penyelenggaraan kegiatan yang mempertemukan para pelaku seni dan masyarakat. Sementara itu, pertunjukan musikalisasi puisi oleh Siddiyoko serta Ida Bagus Rahmat bersama putranya, Daya, memperkaya pengalaman penonton dalam menikmati puisi melalui medium bunyi.
Perayaan ditutup dengan penampilan musik reggae Eggy and Friend, melengkapi suasana malam yang memadukan sastra, seni rupa, dan musik dalam satu ruang kebudayaan.
Seni sebagai Ruang Harapan
Pameran lukisan dijadwalkan berlangsung selama satu minggu setelah pembukaan. Karya-karya yang dipamerkan juga ditawarkan kepada masyarakat, khususnya pencinta seni dan kolektor lukisan.
Lebih dari sekadar agenda pameran, Ode Untuk Namamu memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas disiplin dapat membuka ruang pertemuan yang lebih luas antara seniman dan publik. Seni tidak hanya hadir sebagai objek untuk dinikmati, tetapi juga sebagai medium untuk merawat kepekaan, menghidupkan dialog, dan menumbuhkan harapan.
Di tengah kehidupan politik yang diwarnai berbagai tanda tanya, ruang-ruang kebudayaan seperti Kebun Makna menjadi penting untuk menjaga daya kritis sekaligus merawat optimisme masyarakat. Cinta, perjuangan, dan kreativitas dapat menjadi energi positif dalam membangun masa depan bangsa.
Malam di Kebun Makna pun menjadi pengingat bahwa masa depan tidak hanya dibentuk melalui keputusan politik, tetapi juga melalui pendidikan, kebudayaan, dan karya-karya yang menumbuhkan nilai kemanusiaan.***
(RM. Sudarmono)


























