Menu ✖

Mode Gelap
Okupansi KA Joglosemarkerto Tembus 256 Persen, Ini 10 KA Jarak Jauh Terpadat Dampak Karhutla pada Penerbangan Meluas hingga Sulawesi dan Sumatera Bagian Utara 15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital KAI Services Hadirkan Warteg on Train di Kereta Batavia, Penumpang Bisa Pilih Menu Rumahan KA Sangkuriang Angkut 330 Ribu Pelanggan dalam Lima Bulan, Okupansi Tembus 284 Persen Pimpin PABERSI Sulteng, Farid Podungge Bidik Prestasi Atlet di PON 2028

PERON

Okupansi KA Joglosemarkerto Tembus 256 Persen, Ini 10 KA Jarak Jauh Terpadat

badge-check


 Okupansi KA Joglosemarkerto Tembus 256 Persen, Ini 10 KA Jarak Jauh Terpadat Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Akhir pekan menghadirkan beragam cerita perjalanan. Ada yang pulang untuk bertemu keluarga, berpindah kota menghadiri agenda, menikmati kuliner, hingga mengambil waktu singkat untuk berwisata. Pola mobilitas tersebut turut terlihat di perjalanan kereta api, ketika satu layanan dapat melayani banyak pasangan kota dalam satu lintasan.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat dinamika tersebut pada sejumlah KA jarak jauh komersial sepanjang Januari–September 2026. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, sejumlah perjalanan mencatat okupansi di atas 100 persen karena tempat duduk dapat digunakan secara bergantian oleh pelanggan pada segmen perjalanan yang berbeda. Berdasarkan data KAI, KA Joglosemarkerto mencatat okupansi tertinggi hingga 256 persen.

Sepuluh perjalanan KA jarak jauh komersial dengan okupansi tertinggi selama Januari–September 2026 adalah:

1. KA 187 Joglosemarkerto relasi Solo Balapan–Semarang Tawang–Tegal–Purwokerto–Solo Balapan–Semarang Tawang: 256 persen
2. KA 193 Joglosemarkerto relasi Solo Balapan–Purwokerto–Tegal–Semarang Tawang–Solo Balapan: 242 persen
3. KA 70 Malabar relasi Bandung–Malang: 178 persen
4. KA 145 Blambangan Ekspres relasi Ketapang–Surabaya Pasarturi–Semarang Tawang–Pasarsenen: 174 persen
5. KA 153 Ranggajati relasi Jember–Surabaya Gubeng–Cirebon: 173 persen
6. KA 157 Wijayakusuma relasi Ketapang–Surabaya Gubeng–Cilacap: 173 persen
7. KA 146 Blambangan Ekspres relasi Pasarsenen–Semarang Tawang–Surabaya Pasarturi–Ketapang: 170 persen
8. KA 158 Wijayakusuma relasi Cilacap–Surabaya Gubeng–Ketapang: 168 persen
9. KA 248 Logawa relasi Purwokerto–Surabaya Gubeng–Ketapang: 167 persen
10. KA 91 Jayabaya relasi Malang–Surabaya Pasarturi–Pasarsenen: 167 persen

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan data tersebut menggambarkan bagaimana perjalanan kereta api antarkota melayani kebutuhan mobilitas masyarakat yang semakin beragam.

“Dalam satu perjalanan, ada pelanggan yang menempuh jarak panjang dan ada yang bergerak pada segmen antarkota yang lebih pendek. Setelah pelanggan tiba di tujuan, tempat duduk yang sama dapat digunakan pelanggan berikutnya. Pola tersebut membuat satu perjalanan kereta api dapat melayani semakin banyak kebutuhan mobilitas masyarakat,” ujar Anne.

Joglosemarkerto menjadi salah satu gambaran menarik. Pola perjalanannya menghubungkan berbagai kota di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Solo, Semarang, Yogyakarta, Purwokerto, Tegal, serta kota-kota di sepanjang lintasan menjadi bagian dari pergerakan masyarakat untuk bekerja, belajar, berkunjung kepada keluarga, menikmati kuliner, maupun berwisata. Sepanjang Januari–September 2026, Joglosemarkerto telah melayani lebih dari 1,10 juta pelanggan.

Karakter perjalanan lintas kota juga terlihat pada Malabar, Blambangan Ekspres, Ranggajati, Wijayakusuma, Logawa, dan Jayabaya. Panjangnya lintasan dan banyaknya kota yang dilayani memberi masyarakat lebih banyak pilihan untuk menentukan titik keberangkatan dan tujuan sesuai agenda perjalanan, termasuk untuk perjalanan singkat pada akhir pekan.

Anne menjelaskan bahwa okupansi di atas 100 persen tidak berarti jumlah pelanggan di dalam rangkaian pada saat bersamaan melampaui kapasitas tempat duduk. Angka tersebut merupakan akumulasi pemanfaatan tempat duduk sepanjang perjalanan, karena kursi dapat kembali digunakan setelah pelanggan sebelumnya turun di stasiun tujuan.

“Angka okupansi ini pada akhirnya bercerita tentang pergerakan manusia dan kota. Ada yang pulang, bekerja, belajar, bertemu keluarga, berwisata, lalu kembali melanjutkan aktivitas. Semakin banyak pasangan kota yang dapat dilayani dalam satu perjalanan, semakin luas pula pilihan masyarakat untuk bergerak dengan kereta api. Kami ingin setiap perjalanan tetap memberi ruang bagi masyarakat untuk terhubung dengan tujuan dan cerita mereka masing-masing,” tutup Anne.(fahmi)

 

Baca Lainnya

KAI Services Hadirkan Warteg on Train di Kereta Batavia, Penumpang Bisa Pilih Menu Rumahan

17 Oktober 2026 - 21:46 WIB

KA Sangkuriang Angkut 330 Ribu Pelanggan dalam Lima Bulan, Okupansi Tembus 284 Persen

17 Oktober 2026 - 21:36 WIB

KAI Daop 1 Gelontorkan Rp972 Juta, Bantu Renovasi Kelas hingga Pengadaan Komputer

17 Oktober 2026 - 10:40 WIB

KAI Desak INKA Tuntaskan Gangguan KRL, Keselamatan dan Keandalan Jadi Sorotan

17 Oktober 2026 - 10:25 WIB

Gangguan LRT Jabodebek Pagi Hari, Penumpang Jatimulya-Dukuh Atas Dialihkan di Halim

16 Oktober 2026 - 23:26 WIB

KRL Buatan INKA Bermasalah Lagi, Dua Rangkaian Gangguan hingga 5 Perjalanan Dibatalkan

16 Oktober 2026 - 21:10 WIB

KAI Siapkan Integrasi LRT Jakarta dan Stasiun Manggarai, 8,17 Juta Aktivitas KRL Tercatat

16 Oktober 2026 - 20:55 WIB

Hingga 2026, KAI Rawat 17.025 Bantalan Rel KA Beton dan 3.556 Bantalan Sintetis

16 Oktober 2026 - 19:55 WIB

KAI Daop 1 Jakarta Imbau Penumpang KA Tiba di Stasiun 1 Jam Sebelum Berangkat

16 Oktober 2026 - 19:41 WIB

Jakpro Benahi Fasilitas LRT Jakarta, dari Jalur Pemandu hingga Akses Kursi Roda

16 Oktober 2026 - 10:39 WIB

Trending di PERON