Wartatrans.com, JAKARTA – Time Out, platform media global yang membahas kota, budaya, perjalanan, dan gaya hidup, merilis pemeringkatan transportasi publik dunia pada Selasa (13/10/2026).
Dalam pemeringkatan tersebut, Jakarta menempati posisi ke-15 dengan skor 79,2 persen.
Jumlah penumpang LRT Jakarta turun 6,81 persen pada Juli 2026, sementara Transjakarta dan MRT Jakarta mencatat kenaikan masing-masing 7,27 persen dan 6,77 persen.
Pergerakan tersebut menjadi bagian dari gambaran transportasi publik Jakarta di tengah penilaian internasional terhadap layanan angkutan umum di ibukota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung belum lama ini mengatakan, konektivitas transportasi publik di Jakarta telah menjangkau lebih dari 93 persen wilayah.
Capaian tersebut menurutnya, menunjukkan perkembangan layanan transportasi publik di ibu kota.
“Alhamdulillah, konektivitas transportasi publik di Jakarta sudah 93 persen lebih. Penggunaan transportasi publik juga terus meningkat, menunjukkan bahwa transportasi Jakarta mengalami perbaikan yang signifikan,” katanya.
Dia juga menyampaikan tingkat kepuasan pengguna Transjakarta rute Blok M–Bandara Soekarno-Hatta mencapai 97,5 persen berdasarkan survei Litbang Kompas.
Survei Time Out melibatkan lebih dari 24.000 responden yang menilai transportasi umum di kota masing-masing.
Jakarta memeroleh skor 79,2 persen, sedangkan Taipei menempati posisi pertama dengan skor 95 persen.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menunjukkan jumlah penumpang Transjakarta pada Juli 2026 mencapai 40.318.180 orang, naik dari 37.585.661 orang pada Juni.
Jumlah penumpang MRT Jakarta juga meningkat, dari 4.349.150 menjadi 4.643.492 orang.
Sementara itu, jumlah penumpang LRT Jakarta pada Juli tercatat 125.118 orang, turun dari 134.264 orang pada Juni.
Selisihnya mencapai 9.146 penumpang. Data ini menjadi bagian dari gambaran pergerakan penumpang transportasi publik Jakarta sepanjang Juli 2026.
Secara tahunan, jumlah penumpang Transjakarta dilaporkan naik 7,19 persen, MRT Jakarta 6,13 persen, dan LRT Jakarta 3,06 persen.
Angka tersebut perlu dibaca sesuai periode pembanding dalam publikasi resmi BPS.
Penjelasan mengenai jangkauan layanan juga disampaikan Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Chico Hakim.
Dalam diskusi “Jakarta Bergerak: From School to Global City” di Jakarta, Senin (28/9/2026), Chico merujuk data Dinas Perhubungan DKI Jakarta untuk menjelaskan makna konektivitas di atas 90 persen.
Menurutmya, capaian tersebut berarti warga dapat menemukan layanan angkutan umum dalam jarak berjalan kaki kurang dari 500 meter dari tempat tinggalnya. Layanan yang dimaksud mencakup JakLingko, Mikrotrans, Transjakarta, dan LRT.
Dari sisi perencanaan, Wakil Direktur Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia Deliani Siregar menekankan pentingnya pemodelan untuk mendukung integrasi transportasi.
Peringkat internasional memberikan gambaran tentang persepsi warga terhadap transportasi publik Jakarta.
Sementara itu, data jumlah penumpang menunjukkan perkembangan penggunaan setiap moda dari waktu ke waktu.
Keduanya memberi sudut pandang berbeda untuk melihat layanan transportasi publik, yang perlu ditopang oleh keandalan operasional, keterjangkauan tarif, kemudahan integrasi, dan akses menuju halte atau stasiun. (Artha Tidar)




























