Menu ✖

Mode Gelap
Angkutan Semen dan Klinker KAI Tembus 1,82 Juta Ton dalam Sembilan Bulan Stasiun di Jawa dan Sumatra Ramai, Bogor Paledang Catat Pertumbuhan Tertinggi MBG di Bogor Diduga Mubazir, Siswa Belajar Daring dan Libur Tetap Dikirimi Makanan, Menu Monoton Dikeluhkan Arief Okep Budiman, Menduniakan Karya Sinema Broadcast Lewat DR Production myJasfren Jasa Raharja Hadirkan Fitur Jaminanku, Akses Layanan jadi Makin Mudah KKP Dorong Pengakuan Sertifikat Pelaut Perikanan Indonesia di Portugal dan Spanyol

PERON

Stasiun di Jawa dan Sumatra Ramai, Bogor Paledang Catat Pertumbuhan Tertinggi

badge-check


 Stasiun di Jawa dan Sumatra Ramai, Bogor Paledang Catat Pertumbuhan Tertinggi Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Mobilitas masyarakat menggunakan kereta api sepanjang 2026 tumbuh di berbagai daerah. Data PT Kereta Api Indonesia (Persero) memperlihatkan kenaikan aktivitas pelanggan terjadi di sejumlah stasiun di Jawa dan Sumatra, mulai dari kota besar, kota penyangga, hingga kawasan regional.

Berdasarkan aktivitas naik dan turun pelanggan sepanjang Januari–September 2026, Stasiun Bogor Paledang mencatat kenaikan dari 395.471 aktivitas pada 2025 menjadi 825.011 aktivitas pada 2026, atau tumbuh 108,61 persen.

Pertumbuhan berikutnya tercatat di Stasiun Purwakarta, dari 201.953 menjadi 321.384 aktivitas, naik 59,14 persen. Di Sumatra Barat, Stasiun Air Tawar meningkat dari 258.929 menjadi 330.554 aktivitas, atau tumbuh 27,66 persen.

Sementara itu, Stasiun Purwosari di Solo mencatat 494.319 aktivitas atau tumbuh 22,17 persen, sedangkan Stasiun Karawang mencapai 306.533 aktivitas, naik 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan perjalanan kereta api tidak terkonsentrasi pada satu kawasan.

“Yang menarik dari data ini adalah pertumbuhan muncul dengan karakter wilayah yang berbeda. Ada kota penyangga metropolitan, pusat kegiatan regional, kawasan pendidikan, kota industri, sampai destinasi perjalanan masyarakat. Kereta api digunakan untuk kebutuhan yang semakin beragam,” ujar Anne.

Pola serupa terlihat pada sejumlah stasiun lainnya. Semarang Tawang mencatat 3.329.748 aktivitas, tumbuh 16,68 persen. Cilacap meningkat 17,51 persen menjadi 358.605 aktivitas, sedangkan Baturaja di Sumatra Selatan tumbuh 16,57 persen menjadi 293.252 aktivitas.

Di Sumatra, aktivitas Stasiun Tanjungkarang mencapai 562.993 atau naik 13,99 persen, Kertapati mencapai 862.450 atau tumbuh 13,78 persen, dan Padang mencapai 921.282 aktivitas atau naik 13,74 persen.

Pertumbuhan juga terlihat pada stasiun dengan volume pelanggan lebih besar. Purwokerto mencatat 2.770.189 aktivitas, naik 12,41 persen, sementara Surabaya Pasarturi mencapai 2.789.112 aktivitas atau tumbuh 12,32 persen.

Anne menjelaskan bahwa aktivitas stasiun dihitung dari akumulasi pelanggan yang naik dan turun. Dengan demikian, data tersebut menggambarkan seberapa intens sebuah stasiun digunakan sebagai titik awal maupun tujuan perjalanan masyarakat.

“Setiap stasiun punya cerita pergerakan yang berbeda. Purwokerto dan Surabaya Pasarturi memiliki volume besar, sementara Bogor Paledang dan Purwakarta memperlihatkan laju pertumbuhan yang tinggi. Data seperti ini membantu kami melihat bagaimana kebutuhan perjalanan berkembang dari satu daerah ke daerah lain,” kata Anne.

Perkembangan tersebut berjalan searah dengan tingginya perjalanan masyarakat secara nasional. Badan Pusat Statistik mencatat 104,30 juta perjalanan wisatawan domestik pada Agustus 2026, meningkat 11,47 persen dibandingkan Agustus 2025.

Menurut Anne, data perjalanan wisatawan domestik dan aktivitas pelanggan stasiun merupakan indikator yang berbeda. Namun, keduanya memperlihatkan besarnya pergerakan masyarakat antardaerah pada 2026.

Aktivitas yang tumbuh juga menjadi bahan evaluasi KAI dalam melihat kebutuhan pelayanan, kapasitas ruang pelanggan, pola perjalanan, jadwal kereta, hingga akses menuju dan dari stasiun.

“Pertumbuhan pelanggan perlu dibaca sampai tingkat stasiun karena kebutuhan setiap daerah berbeda. Ada stasiun yang berkembang bersama kawasan wisata, pendidikan, industri, pusat pemerintahan, maupun aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari,” ujar Anne.

KAI akan terus menggunakan data perjalanan untuk membaca perkembangan kebutuhan pelanggan di berbagai wilayah operasional.

“Ketika aktivitas stasiun meningkat, artinya semakin banyak perjalanan masyarakat yang bertemu dengan jaringan kereta api. Kami ingin pertumbuhan itu diikuti layanan yang relevan dengan karakter masing-masing daerah,” tutup Anne.(fahmi)

 

Baca Lainnya

Angkutan Semen dan Klinker KAI Tembus 1,82 Juta Ton dalam Sembilan Bulan

15 Oktober 2026 - 12:11 WIB

KCIC Bangun Dua Akses Baru ke Stasiun Whoosh Karawang, Hubungkan Trans Heksa dan Deltamas

14 Oktober 2026 - 20:39 WIB

Barang Tertinggal di Kereta Api? Ini Cara Melapor dan Mengambilnya Lewat Layanan KAI

14 Oktober 2026 - 19:10 WIB

KAI Daop 1 Catat 3.634 Barang Tertinggal Senilai Rp4,46 Miliar, 2.089 Dikembalikan

14 Oktober 2026 - 18:35 WIB

Eskalator Stasiun Duri Kembali Beroperasi, KAI Commuter Minta Pengguna Tak Berjalan

14 Oktober 2026 - 09:00 WIB

KAI Services Perkuat Kompetensi Petugas Keamanan untuk Tingkatkan Layanan Pelanggan

13 Oktober 2026 - 21:21 WIB

KAI Raih Dua Penghargaan CX100 2026, Peringkat ke-7 BUMN Terbaik dalam Pengalaman Pelanggan

13 Oktober 2026 - 20:40 WIB

KAI Mulai Kaji FRMCS, Siapkan Teknologi Komunikasi Kereta Api Berbasis 5G

13 Oktober 2026 - 11:16 WIB

KAI Catat 7,85 Juta Aktivitas Mobilitas Kereta ke Bandung, Pekalongan, Solo, dan Malang

13 Oktober 2026 - 11:11 WIB

KAI Angkut 2,04 Juta Ton BBM hingga September 2026, Naik 3,92 Persen

12 Oktober 2026 - 23:11 WIB

Trending di PERON