Wartatrans.com, BANDA ACEH — Peringatan dua tahun Hari Kopi Aceh melalui Pagelaran Seni Budaya Sound of Nanggroe Vol. 17 bertajuk “2nd Aceh Coffee Day” sukses digelar di Waroeng Pak Haji, kawasan Lamlagang, Kota Banda Aceh, Selasa, 15 September 2026.
Perayaan tahunan ini menjadi ruang untuk merayakan kekayaan budaya sekaligus keistimewaan kopi dari Provinsi Aceh, terutama Kopi Gayo yang telah memiliki reputasi hingga ke berbagai belahan dunia.

Acara berlangsung semarak dengan memadukan kopi, seni pertunjukan, musik, tari, puisi, dan seni rupa. Sanggar Rampoe menampilkan musik tradisi Aceh “Peumulia Jamee”, disusul tari kreasi Kopi Gayo oleh Sanggar Geunta Nanggroe, permainan solo violin Nada Zayana Haula, pembacaan puisi oleh Nafis Rakan, serta pameran lukisan kopi karya Zul MS.
Band Made in Made turut menjadi salah satu pengisi utama dengan membawakan sejumlah karya bertema kopi, antara lain Aceh Coffee Day, Pengembara Kopi, Kupi Reggae, Atas Nama Kopi, Hikayat Kup Pancung, dan Keude Kupi.
Pada penghujung penampilan, Made in Made membawakan lagu bertema “Skull and Persiraja”. Lagu tersebut dipersembahkan untuk memberi semangat kepada Persiraja setelah menghadapi Semen Padang. Penampilan lagu itu sekaligus memenuhi permintaan Dedi Heriansyah, owner Old Trafford dan Im Hetroe, yang turut memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan 2nd Aceh Coffee Day.
Dialog Kopi dan Kehangatan Para Pengunjung
Selain pertunjukan seni, perayaan juga diisi Dialog Kopi menghadirkan Nurul Akmal dan Sarjev Hirzy sebagai narasumber. Dialog berlangsung hangat dan interaktif bersama para tamu serta pengunjung.
Sarjev Hirzy, yang juga dikenal sebagai seniman senior Aceh, pada kesempatan tersebut diminta Ketua Umum Majelis Seniman Aceh, Chairiyan Ramli, untuk membawakan salah satu karya lagunya.
Acara dibuka dengan sambutan General Manager Hermes Palace Hotel, Budi Syaiful. Turut hadir GM Hotel Ilona serta Romeo, yang sebelumnya menjabat GM Plum Hotel Lading. Pada peringatan satu tahun Aceh Coffee Day tahun 2025, Plum Hotel Lading menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Sejumlah unsur organisasi dan komunitas juga menghadiri acara, di antaranya perwakilan Majelis Seniman Aceh, Ketua ICMI Kota Banda Aceh, Paguyuban Pasundan Aceh, serta Ikatan Mahasiswa/i Papua Aceh.
Keberagaman pengunjung memberikan warna tersendiri. Salah satunya adalah sebuah keluarga asal Pulau Nias, Sumatera Utara, yang mengikuti kegiatan dan menyampaikan apresiasi dalam sesi dialog.
Suasana semakin meriah dengan antusiasme seluruh karyawan Waroeng Pak Haji. Perayaan Hari Kopi Aceh terasa seperti “khanduri kopi” yang mempertemukan masyarakat dalam suasana gembira dan penuh keakraban.
Ramadhan Moeslem Arrasuly atau Made, penggagas deklarasi Hari Kopi Aceh sekaligus Ketua Panitia Pelaksana, menyampaikan apresiasi kepada pemilik dan seluruh karyawan Waroeng Pak Haji yang telah memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan.
“Kami sangat berterima kasih kepada pihak Waroeng Pak Haji. Pemiliknya sangat terbuka menerima kegiatan ini, begitu pula seluruh karyawan yang memberikan kerja sama dan membantu sehingga acara dapat berjalan dengan sukses,” kata Made.
Di sela penampilan Made in Made, dilakukan pula pemotongan kue peringatan dua tahun Hari Kopi Aceh. Kue tersebut dipersiapkan oleh Ketua Komite Perempuan Aceh Bangkit, Nurul Akmal, yang juga menjadi salah seorang narasumber Dialog Kopi.
Kemeriahan bertambah dengan permainan minum kopi pahit yang disponsori Old Trafford. Peserta ditantang menghabiskan segelas kopi pahit dan peserta tercepat mendapatkan hadiah berupa baju bola atau jersey. Pemenang berasal dari kalangan pengunjung dan karyawan Waroeng Pak Haji.
Sementara itu, agenda Konvoi Mobil Kopi mengelilingi Kota Banda Aceh yang sebelumnya direncanakan belum dapat terlaksana karena pertimbangan teknis.
Rangkaian Berlanjut dengan Kelas Kopi dan Film Kopi
Rangkaian 2nd Aceh Coffee Day tidak berhenti pada perayaan 15 September. Sehari kemudian, Rabu, 16 September 2026, kegiatan dilanjutkan dengan Kelas Kopi bersama Gayo Best Coffee serta nonton bareng film bertema kopi. Kedua kegiatan berlangsung di Sophie’s Sunset Library.
Pameran lukisan kopi karya Zul MS bahkan telah lebih dahulu digelar bersamaan dengan Musyawarah Wilayah ICMI Provinsi Aceh di Hotel Azana Oasis. Kegiatan tersebut diketuai Iskandar Nurdin, yang sejak awal turut mendukung perjalanan Aceh Coffee Day, termasuk saat deklarasi Hari Kopi Aceh pada 15 September 2024.
Sehari menjelang perayaan 2nd Aceh Coffee Day, panitia juga mendapat kesempatan hadir di TVRI untuk berbincang mengenai perayaan tersebut melalui program Dapur Medsos V.
Made mengatakan tingginya antusiasme masyarakat menjadi energi penting bagi keberlanjutan Hari Kopi Aceh. Sejumlah pengunjung berharap perayaan tersebut dapat terus diselenggarakan setiap tahun dan memperoleh dukungan lebih luas dari berbagai pihak.
Menurut Made, peringatan Hari Kopi Aceh ke depan tidak harus hanya dilaksanakan oleh panitia yang selama ini menggelarnya. Ia berharap berbagai pelaku usaha, komunitas, hotel, warung kopi, dan elemen masyarakat dapat ikut merayakan 15 September dengan konsep masing-masing.
“Ke depan, Waroeng Pak Haji maupun warung-warung kopi lainnya bisa membuat kegiatan dengan konsep sendiri. Misalnya, setiap 15 September ada segelas kopi gratis untuk pengunjung, menyediakan beuleukat sebagai menu khusus, atau mengadakan temu ramah antarpengusaha warung kopi di Banda Aceh,” ujarnya.
Menurutnya, dengan keterlibatan yang semakin luas, Hari Kopi Aceh dapat berkembang menjadi perayaan bersama masyarakat Aceh sekaligus memperkuat kopi sebagai bagian dari identitas budaya dan ekonomi daerah.
Salah satu peluang pengembangan perayaan berikutnya juga mulai terbuka. GM Hotel Ilona yang menghadiri kegiatan menawarkan agar Aceh Coffee Day 2027 dapat diselenggarakan di hotel tersebut.
Made menambahkan, semangat perayaan kopi akan dilanjutkan dalam waktu dekat.
“Insya Allah, pada 1 Oktober 2026 kita juga akan ikut merayakan International Coffee Day 2026,” kata Made.
Bagi Made, perjalanan dari deklarasi Hari Kopi Aceh pada 15 September 2024, peringatan pertama pada 2025, hingga 2nd Aceh Coffee Day 2026 merupakan upaya membangun tradisi baru: menjadikan kopi bukan sekadar minuman, tetapi ruang perjumpaan antara budaya, seni, kreativitas, pelaku usaha, dan masyarakat.***
(Fikar W Eda)

























