Oleh: Males Sutiasumarga
Wartatrans.com, JAKARTA — Ada sebuah cerita tentang perdebatan antara seorang guru besar baru dengan istri dan anak-anaknya, dalam perjalanan dari rumahnya menuju ke tempat sang guru besar itu akan dikukuhkan. Sang guru besar itu berpesan kepada istrinya, jika nanti ada orang bertanya tentang apa jabatannya di kampus, jangan katakan kalau ia adalah seorang guru besar. Katakan saja pada mereka bahwa ia adalah seorang dosen. Mendengar pesan itu, istrinya pun sempat mempertanyakan, mengapa begitu? Bukankah untuk menjadi seorang guru besar harus melewati persyaratan yang sulit. Bukankah guru besar itu merupakan sebuah jabatan fungsional akademik yang paling tinggi? Bukankah menjadi seorang guru besar itu merupakan suatu kebanggaan? Mengapa tidak boleh diberitahu kepada orang?
Dengan santainya, sang bapak pun menjelaskan kepada istrinya, alasan mengapa ia menyampaikan pesan seperti itu. Menurutnya, banyak orang yang tidak kenal dengan istilah “guru besar”. Istilah tersebut hanya popular di kalangan akademik, terutama dosen, karena merupakan jenjang jabatan funsional tertinggi yang diidam-idamkan, setelah Asisten Ahli (AA), Lektor (L), dan Lektor Kepala (LK). Mahasiswa saja, kadang-kadang, juga ada yang tidak tahu dengan istilah tersebut, apalagi orang awam.

Akibatnya, karena ketidakpahaman mereka terhadap istilah tersebut, seringkali mereka menyangka bahwa yang dimaksud dengan “guru besar” itu adalah “guru”, seperti halnya guru di sekolah, atau guru-guru lainnya seperti guru ngaji, guru silat, guru privat dan lain-lain. Menurut bapak itu, daripada disangka “guru” seperti itu, bukankah lebih baik disebut sebagai “dosen”, karena di kalangan orang awam, yang namanya “dosen” itu, dianggap lebih tinggi daripada “guru”, yang diajar guru adalah siswa, sementara yang diajar dosen adalah mahasiswa.
Selain kepada istrinya, bapak itu juga berpesan kepada anak-anaknya yang sudah berstatus sebagai mahasiswa, bahwa jangan menggunakan istilah tersebut kepada orang asing, karena tampaknya di luar negeri istilah tersebut tidak dikenal. Kalau ada orang asing bertanya tentang kerja bapak, katakan saja bahwa bapak adalah seorang dosen (lecturer), jangan bilang bapak seorang guru besar. Jika ingin mengatakan bahwa “Bapak saya adalah seorang guru besar”, dalam bahasa Inggris kepada orang asing, katakan saja, “My father is a professor”, jangan mengatakan “My father a big teacher”, sebab kalau diterjemahkan secara harfiah seperti itu, mereka pasti akan bingung. Apa maksud dengan perkataan “big teacher”? Apalagi kalau mereka melihat perawakan bapak yang kecil, mungkin mereka akan tertawa, dan menganggap bahwa apa yang diucapkan itu adalah sebuah lelucon.
Guru Besar atau Profesor?
Demikian anekdot tentang istilah “guru besar” yang banyak beredar pada masyarakat. Meskipun, pada awalnya, cerita di atas ini hanyalah sebuah anekdot, tapi pada kenyataannya, sampai sekarang istilah tersebut masih sering dijadikan bahan untuk mengolok-olok, seperti halnya yang seringkali diucapkan oleh seorang pengamat politik terkenal pada lawan debatnya yang bergelar profesor pada acara di televisi. “Guru besar, tapi otaknya kecil”, begitu istilahnya. Olok-olok yang sering diucapkan oleh orang yang tidak bergelar profesor, tapi mengaku selalu menggunakan akal sehat pada setiap ucapannya itu, langsung saja menyebar dan viral di masyarakat. Pada satu sisi, olok-olok tersebut membuat para guru besar yang hadir pada acara tersebut tersenyum kecut, tapi di pada sisi yang lain, olok-olok tersebut berhasil membuat para peserta debat lainnya dan para penonton menjadi tertawa terbahak-bahak. Sejak itu, tidak sedikit orang yang menggunakan kata itu setiap kali melihat ada seorang guru besar membuat sebuah kesalahan atau kekeliruan, terutama para guru besar yang berstatus sebagai pejabat publik.
Kalau melihat beberapa sumber tentang pengertian “guru besar”, banyak tulisan yang menyandingkan istilah tersebut dengan kata “profesor” di sampingnya, baik itu dipisahkan dengan menggunakan “tanda miring”, seperti guru besar/profesor atau dengan menggunakan kata “atau” di antaranya, seperti guru besar atau profesor, sehingga secara selintas, orang akan beranggapan bahwa arti dari kedua istilah tersebut adalah sama. Padahal, pada sumber lain disebutkan bahwa “guru besar” itu adalah nama sebuah jabatan, sedangkan “profesor” itu adalah nama sebuah gelar atau sebutan bagi orang yang memperoleh jabatan tersebut. Tapi, tanpa melihat dari apa arti dari kedua istilah tersebut, memang tampaknya, orang awam itu lebih akrab dengan sebutan “profesor” dibandingkan dengan “guru besar”.
Mungkin, ini terjadi, karena kata “profesor” itu lebih popular, lebih simpel dan juga banyak digunakan di berbagai negara di dunia.
Dulu, baik dari kalangan akademisi maupun orang awam, mereka mempunyai kesamaan pandangan dalam pemberian makna terhadap kata “profesor”, yaitu bahwa “profesor” itu adalah “orang yang pintar”. Bagi para akademisi, orang pintarlah yang bisa memenuhi berbagai persyaratan yang sulit untuk bisa menduduki jabatan fungsional tertinggi dan memperoleh gelar profesor, orang pintarlah yang bisa disebut sebagai profesor oleh institusi di luar negeri, karena telah mengajar di institusi tersebut dalam kurun waktu tertentu, meskipun belum pernah mengenyam pendidikan doktoral.
Demikian pun di mata orang awam, sejak dulu sudah terpatri bahwa yang namanya “profesor” itu adalah “orang yang pintar”, sehingga muncul candaan yang memberikan julukan “profesor” kepada laki-laki dewasa yang rambut depannya botak, karena dianggap banyak berpikir.
Imej Orang Awam
Ketidakpahaman orang awam terhadap istilah-istilah tersebut tampaknya berpengaruh juga terhadap pandangan mereka mengenai kesejahteraan orang yang menyandang profesi tersebut. Orang awam berpandangan bahwa karena secara keilmuan profesi dosen dianggap lebih tinggi daripada guru, maka kesejahteraan para dosen pun dianggap lebih baik daripada para guru. Seorang profesor yang oleh orang awam dianggap pintar, mempunyai ilmu pengetahuan yang luas dalam bidangnya, secara finansial dianggap lebih sejahtera daripada dosen biasa. Memang hal yang sangat wajar jika orang awam berpandangan umum seperti itu. Mereka hanya melihat dari sudut pandang hirarkinya, tidak melihat dari lamanya seorang bekerja di sebuah institusi atau jabatan struktural yang dipegangnya.
Dulu, dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, orang awam masih berpandangan bahwa profesi dosen, apalagi yang bergelar profesor, adalah orang yang mempunyai martabat yang tinggi, sehingga lebih disegani dibandingkan dengan profesi setara lainnya. Karena berpendidikan lebih tinggi, mereka pun menyangka bahwa kesejahteraan para dosen dan profesor lebih baik dibandingkan penghasilan profesi yang lainnya. Tapi, sekarang, apakah orang awam masih berpandangan sama setelah membaca berita-berita di media sosial, bahwa ada dosen muda yang paginya mengajar, sorenya ojek online; gajinya kalah dari negara tetangga; dalam satu minggu bekerja 70 jam dan hari libur tetap masuk? Semoga saja orang awam masih menghormati profesi dosen, baik yang bergelar profesor maupun tidak, meskipun kesejahteraannya tidak beda jauh dari UMR.***
(Penulis adalah Guru Besar FIB-UI)


























