Menu

Mode Gelap
Silaturahmi  Walikota Jakarta Timur dengan Lembaga Kemasyarakatan, Perkuat Stabilitas Sosial dan Kerukuan Masyarakat Update Bencana Aceh Tamiang, 101 Orang Meninggal dan 18 Luka-luka 30 Ribu Penumpang Tinggalkan Jakarta Hari Ini, KAI: Tiket Tanggal 16-18 Masih Longgar Catatan Halimah Munawir: 38 Tahun, Isra Mi’raj, dan Jalan Syukur Gangguan Perjalanan KA di Jalur Pantura Jawa Tengah, KAI Sampaikan Permohonan Maaf Hujan Lebat Rendam Jalur Semarang-Kendal, Perjalanan KA Tujuan Jakarta Terlambat

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: 38 Tahun, Isra Mi’raj, dan Jalan Syukur

badge-check


					Catatan Halimah Munawir: 38 Tahun, Isra Mi’raj, dan Jalan Syukur Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Hari ini adalah hari yang patut disyukuri. Anniversary pernikahan ke-38 bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW—sebuah peristiwa agung yang bukan hanya penting dalam sejarah Islam, tetapi juga relevan sebagai cermin perjalanan hidup dan rumah tangga.

Isra Mi’raj adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dalam satu malam, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha. Di sanalah Nabi menerima perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan sholat lima waktu. Sebuah perintah yang menjadi tiang agama, sekaligus penopang kehidupan—baik sebagai individu maupun dalam ikatan keluarga.

Tiga puluh delapan tahun pernikahan bukanlah perjalanan singkat. Ia adalah rangkaian waktu yang diisi oleh suka dan duka, kesabaran dan pengorbanan, kegembiraan dan kelelahan, serta proses belajar tanpa henti untuk saling memahami. Dalam rentang waktu sepanjang itu, pernikahan tak lagi semata tentang cinta romantik, melainkan tentang komitmen, keteguhan, dan kesediaan untuk bertahan.

Angka 38, sebagai usia pernikahan, menghadirkan makna spiritual tersendiri. Ia mengingatkan pada pentingnya tauhid—mengesakan Allah sebagai pusat kehidupan, termasuk dalam membangun dan menjaga rumah tangga. Sebab pernikahan yang panjang usia bukan hanya disatukan oleh perasaan, tetapi oleh nilai dan keyakinan yang sama.

Bagi saya, usia 38 tahun pernikahan juga mengingatkan pada doa yang dilafalkan saat duduk di antara dua sujud: permohonan ampun, rahmat, dan petunjuk. Doa yang mencerminkan kerendahan hati seorang hamba—bahwa dalam menjalani pernikahan, manusia kerap keliru, lemah, dan membutuhkan pertolongan Allah agar tetap berada di jalan yang lurus.

Isra Mi’raj mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah lahir dari kepatuhan dan kesadaran batin. Sementara pernikahan yang panjang mengajarkan bahwa kedekatan antarmanusia hanya dapat dijaga dengan kesabaran, keikhlasan, dan niat ibadah.

Di titik pertemuan antara 38 tahun pernikahan dan peristiwa Isra Mi’raj, syukur menjadi kata kunci. Syukur atas pasangan hidup, atas kebersamaan yang terus terjaga, dan atas kesempatan untuk terus memperbaiki diri—sebagai hamba Allah dan sebagai pasangan dalam ikatan suci pernikahan.***

Duren Sawit 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Silaturahmi  Walikota Jakarta Timur dengan Lembaga Kemasyarakatan, Perkuat Stabilitas Sosial dan Kerukuan Masyarakat

16 Januari 2026 - 10:21 WIB

Diskominfo Kota Depok Dorong Aktivasi Sertifikat Elektronik melalui TTE

16 Januari 2026 - 08:38 WIB

Diskominfo Depok Perkuat Peran PPID dan Admin Medsos Perangkat Daerah

16 Januari 2026 - 08:32 WIB

Menahun Bertahan Dengan Jalan Rusak, Warga Pakansari Desak Pemkab Bogor Segera Lakukan Perbaikan

15 Januari 2026 - 22:09 WIB

DAMRI dan BPTD Kelas II Makassar Teken Kontrak Angkutan Perintis Tahun 2026

15 Januari 2026 - 22:03 WIB

Trending di JALUR