Wartatrans.com, KOLOM — Hari ini adalah hari yang patut disyukuri. Anniversary pernikahan ke-38 bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW—sebuah peristiwa agung yang bukan hanya penting dalam sejarah Islam, tetapi juga relevan sebagai cermin perjalanan hidup dan rumah tangga.
Isra Mi’raj adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dalam satu malam, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha. Di sanalah Nabi menerima perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan sholat lima waktu. Sebuah perintah yang menjadi tiang agama, sekaligus penopang kehidupan—baik sebagai individu maupun dalam ikatan keluarga.

Tiga puluh delapan tahun pernikahan bukanlah perjalanan singkat. Ia adalah rangkaian waktu yang diisi oleh suka dan duka, kesabaran dan pengorbanan, kegembiraan dan kelelahan, serta proses belajar tanpa henti untuk saling memahami. Dalam rentang waktu sepanjang itu, pernikahan tak lagi semata tentang cinta romantik, melainkan tentang komitmen, keteguhan, dan kesediaan untuk bertahan.
Angka 38, sebagai usia pernikahan, menghadirkan makna spiritual tersendiri. Ia mengingatkan pada pentingnya tauhid—mengesakan Allah sebagai pusat kehidupan, termasuk dalam membangun dan menjaga rumah tangga. Sebab pernikahan yang panjang usia bukan hanya disatukan oleh perasaan, tetapi oleh nilai dan keyakinan yang sama.
Bagi saya, usia 38 tahun pernikahan juga mengingatkan pada doa yang dilafalkan saat duduk di antara dua sujud: permohonan ampun, rahmat, dan petunjuk. Doa yang mencerminkan kerendahan hati seorang hamba—bahwa dalam menjalani pernikahan, manusia kerap keliru, lemah, dan membutuhkan pertolongan Allah agar tetap berada di jalan yang lurus.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah lahir dari kepatuhan dan kesadaran batin. Sementara pernikahan yang panjang mengajarkan bahwa kedekatan antarmanusia hanya dapat dijaga dengan kesabaran, keikhlasan, dan niat ibadah.
Di titik pertemuan antara 38 tahun pernikahan dan peristiwa Isra Mi’raj, syukur menjadi kata kunci. Syukur atas pasangan hidup, atas kebersamaan yang terus terjaga, dan atas kesempatan untuk terus memperbaiki diri—sebagai hamba Allah dan sebagai pasangan dalam ikatan suci pernikahan.***
Duren Sawit 2026









