Menu

Mode Gelap
Tiket KA Lebaran 2026 Masih Tersedia, KAI Daop 1 Jakarta Buka Pemesanan hingga H+1 KAI Daop 1 Jakarta Gandeng Kejati DKI Jakarta Tangani Permasalahan Hukum dan Pengamanan Aset INACRAFT 2026 Dibuka, UMKM Pertamina Langsung Bukukan Penjualan Rp1,9 Miliar Satu Dekade Mengaspal Layani Jakarta, 120 Armada BRT DAMRI Purna Tugas dengan Kondisi Prima KSOP Cirebon Sosialisasi Kespel Sungai dan Danau di Situ Lengkong Panjalu Mungkinkah BBM di Indonesia Ramah Lingkungan?

WISATA

Catatan Halimah Munawir: Berpuisi di Bawah Langit Mesir – Montazah, Senja, dan Jejak Magis Peradaban Kuno

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Berpuisi di Bawah Langit Mesir – Montazah, Senja, dan Jejak Magis Peradaban Kuno Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM —Di bawah langit Bumi Para Nabi, di tepi Laut Mediterania yang tenang, kami berdiri di kawasan Istana Montazah—istana peristirahatan Raja Farouk yang menjadi saksi bisu kemegahan masa lalu Mesir. Senja datang perlahan, seakan memberi isyarat bahwa waktu adalah sesuatu yang bisa dibaca, bahkan ditulis, melalui puisi.

Sebagai penyair, momen itu tak mungkin dilewatkan. Maka terjadilah peristiwa kecil yang intim dan sakral: berkejaran membaca puisi dengan matahari yang kian tenggelam. Langit melukis dirinya dengan warna jingga keemasan, terpantul di permukaan Laut Mediterania, sementara angin sepoi membelai lembut wajah dan perasaan. Pandangan sejauh mata memandang memperlihatkan lanskap berbukit, menyatu dengan laut dan cahaya, menciptakan harmoni visual yang nyaris ilahi.

Berpuisi di antara lukisan alam semacam itu menghadirkan nuansa magis nan romantis. Ada rasa menyatu—antara manusia, alam, dan sejarah. Seakan tubuh dan jiwa menjadi bagian dari Mesir itu sendiri, terikat erat dalam pelukan magis peradaban tua yang tak pernah benar-benar usang oleh waktu.

Mesir bukan sekadar bentang geografis atau negara modern; ia adalah ruang peradaban yang sarat makna spiritual. Dalam sejarah awalnya, ibu kota kuno Mesir dikenal sebagai Memphis, atau Het-ka-Ptah, yang berarti “Rumah Roh Ptah”. Dari nama inilah, melalui perjalanan panjang lintas peradaban, Mesir mengalami transformasi penamaan. Dalam bahasa Babilonia dikenal sebagai Hikuptah, lalu diadaptasi oleh bangsa Yunani menjadi Aigyptos, yang kemudian berubah menjadi Aegyptus—nama yang hingga kini menjadi rujukan dunia.

Sebagai salah satu negeri para nabi, Mesir memiliki hubungan yang erat dengan praktik spiritual kuno. Dalam peradaban Mesir Kuno dikenal konsep Heka, sebuah bentuk kekuatan atau sihir suci yang digunakan untuk komunikasi spiritual, perlindungan melalui jimat, serta ritual-ritual kuil. Heka bukan sekadar sihir dalam pengertian mistik, melainkan energi kosmis yang diyakini mengatur keseimbangan antara manusia, alam, dan para dewa.

Jejak magis ini bahkan masih terasa hingga hari ini. Fanous, lentera Ramadan yang kini menjadi simbol budaya Mesir, menyimpan nuansa spiritual yang khas—perpaduan antara cahaya, doa, dan tradisi. Ia menjadi pengingat bahwa spiritualitas di Mesir selalu hadir dalam bentuk yang indah dan simbolik.

Akar peradaban kuno yang misterius itu dapat kita saksikan secara nyata melalui peninggalan-peninggalan agung seperti Piramida Giza, Sphinx, dan kompleks Kuil Luxor. Bangunan-bangunan ini bukan hanya monumen batu, tetapi juga teks peradaban yang menyimpan pengetahuan kosmologi, spiritualitas, dan filosofi kehidupan.

Dalam masa kerajaan kuno, Mesir bahkan dikenal dengan nama Kemet, yang berarti “Tanah Hitam”—merujuk pada tanah subur di sepanjang Lembah Nil yang menjadi sumber kehidupan. Sebutan ini berlawanan dengan Deshret atau “Tanah Merah”, wilayah gurun yang mengelilingi kesuburan Nil. Dualitas ini mencerminkan cara orang Mesir Kuno memandang dunia: kehidupan dan kematian, kesuburan dan kekeringan, terang dan gelap—semuanya berada dalam satu kesatuan kosmis.

Di Montazah, saat senja meredup dan puisi berakhir, kesadaran itu kian menguat: Mesir bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dirasakan. Ia adalah pelajaran tentang waktu, spiritualitas, dan peradaban yang terus berbisik kepada siapa pun yang bersedia mendengar—melalui angin, cahaya senja, dan bait-bait puisi yang dilafalkan di tepi laut abadi.***

Mesir 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

INACRAFT 2026 Dibuka, UMKM Pertamina Langsung Bukukan Penjualan Rp1,9 Miliar

5 Februari 2026 - 18:09 WIB

Satu Dekade Mengaspal Layani Jakarta, 120 Armada BRT DAMRI Purna Tugas dengan Kondisi Prima

5 Februari 2026 - 17:32 WIB

Polres Pelabuhan Tanjung Priok Bagikan Helm SNI kepada Pedagang dalam Ops Keselamatan Jaya 2026

5 Februari 2026 - 14:34 WIB

Sinetron “Istiqomah Cinta” Siap Temani Ramadan 1447 H di SCTV

5 Februari 2026 - 13:58 WIB

Haili Yoga Tindak Tegas Calon P3K Paruh Waktu Saat Pelantikan

5 Februari 2026 - 12:41 WIB

Trending di PERISTIWA