Menu

Mode Gelap
Angkutan Retail KAI Tumbuh 4,86 Persen pada Januari–April 2026 Diikuti Peserta dari 5 Negara, BPSDMP Sukses Gelar Pelatihan VCT PTPN I Beri 500 Masyarakat Langkat Gratis Berobat Wakaf Al-Qur’an Disalurkan untuk Warga Lhokseumawe, Relawan dan TNI Bersinergi Tebar Kebaikan KAI Perkuat Kesiapan Implementasi Biodiesel B50 pada Sarana Kereta Api KAI Layani 960.893 Pelanggan Selama Long Weekend Kenaikan Yesus Kristus

EKOBIS

Mungkinkah BBM di Indonesia Ramah Lingkungan?

badge-check


 Direktur Eksekutif PKBB Perbesar

Direktur Eksekutif PKBB

Wartatrans.com, JAKARTA – Mungkinkah bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia akan ramah terhadap lingkungan?

Ya, maklum saja, tingkat polusi udara dampak timbal masih terus tinggi, salah satunya di Jakarta, yang bahkan pernah mendapat peringkat kota tinggi polusi.

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengemukakan, polusi udara terjadi di antaranya karena pembakaran, debu jalanan, bakar sampah terbuka, konstruksi gedung, jalan, jembatan, dan lainnya.

“Nah, 80 persennya polusi udara disebabkan dari transportasi,” ungkap lelaki yang akrab disapa Puput, Kamis (5/2/2026).

Transportasi kaitannya tentu saja dengan BBM, di mana konsumsi kendaraan masih banyak dengan BBM dibandingkan gunakan tenaga listrik.

Saat ini menurutnya, berdasarkan data yang dihimpun, beban emisi kendaraan nasional masih tinggi, yakni 808.571,79 ton per hari.

Sumbernya antara lain 42% dari sepeda motor,  truk (29%), bus (17%), mobil berbahan bakar bensin (7%), mobil berbahan bakar solar (2%), dan bajaj (0,05%).

“Jadi sumber utama (terbesar) pencemaran udara adalah kendaraan bermotor, yang antara lain menyumbangkan parameter emisi PM10 sekitar 47% dan PM2.5 sekitar 57%,” ucap dia.

Adapun dampak pencemaran udara menyebabkan terjadinya kasus sakit/penyakit terkait pernafasan dan berdampak pada
tingginya biaya pengobatan yang harus dibayarkan oleh masyarakat.

Warga DKI Jakarta misalnya kata dia, harus membayar biaya pengobatan ini hingga Rp38,5 triliun atas 5.387.694 kasus sakit/penyakit pada 2010, dan Rp 51,2 triliun atas 6.153.634 kasus sakit/penyakit pada 2016.

“Untuk itu kita perlu mengubah standar BBM yang tersedia, karena saat ini untuk petralite saja, masih pre Euro dan Petramax di bawah standar 3 Euro,” ungkapnya.

Minimal dengan adanya perubahan, dapat berdampak juga pada gas emisi buangnya dan mengurangi tingkat polusi udara. (omy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PTPN I Beri 500 Masyarakat Langkat Gratis Berobat

18 Mei 2026 - 20:09 WIB

Ferry jadi Moda Pilihan Utama Masyarakat, Trafik Long Weekend Kenaikan Yesus Kristus Ramai

17 Mei 2026 - 18:20 WIB

Petani Kopi Gayo Desak Pemerintah Hadir Nyata Pasca Bencana

16 Mei 2026 - 15:55 WIB

Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus, Ditjen Hubdat Ramp Check 55 Bus di Rest Area Bogor

16 Mei 2026 - 13:49 WIB

Gerai Kekinian Karya UMKM Lokal Percantik Kawasan Danau Lut Tawar

15 Mei 2026 - 14:40 WIB

INACA Apresiasi Penyesuaian Fuel Surcharge dari Pemerintah

14 Mei 2026 - 20:45 WIB

Pendampingan Intensif PNM Dorong Kemandirian Ibu-Ibu Pelaku Usaha Mikro

14 Mei 2026 - 20:33 WIB

Gelar RUPST, Garuda Indonesia Perkuat Fokus Transformasi

14 Mei 2026 - 12:43 WIB

Jumlah Penumpang Garuda Indonesia Group Tumbuh 6,76% di Kuartal I-2026

14 Mei 2026 - 12:36 WIB

KSP Dudung Abdurachman Tinjau Langsung Pelindo, Dukung Penguatan Tata Kelola Pelabuhan Nasional

13 Mei 2026 - 19:41 WIB

Trending di ANJUNGAN