Menu ✖

Mode Gelap
Film Banyak Anak Banyak Rejeki Siap Tayang Januari 2027 Lima Tahun Jaga Konsistensi, FIFGROUP Raih The Finance Golden Star Award 2026 Belum Tayang di Bioskop, Fadli Fuad Siapkan Sekuel Film Sumur Jiwo 1977 Bincang Buku Hasrat Kekuasaan dan Erosi Demokrasi, Soroti Tantangan Demokrasi di Indonesia NAY NBC Tetap Konsisten di Dunia Breakdance, Cetak Generasi Muda Berprestasi Penulis Lima Wilayah Gayo Ekspresikan Optimisme Hadapi Bencana Lewat Buku Puisi Dua Bahasa Indonesia-Gayo

EKOBIS

Mungkinkah BBM di Indonesia Ramah Lingkungan?

badge-check


 Direktur Eksekutif PKBB Perbesar

Direktur Eksekutif PKBB

Wartatrans.com, JAKARTA – Mungkinkah bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia akan ramah terhadap lingkungan?

Ya, maklum saja, tingkat polusi udara dampak timbal masih terus tinggi, salah satunya di Jakarta, yang bahkan pernah mendapat peringkat kota tinggi polusi.

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengemukakan, polusi udara terjadi di antaranya karena pembakaran, debu jalanan, bakar sampah terbuka, konstruksi gedung, jalan, jembatan, dan lainnya.

“Nah, 80 persennya polusi udara disebabkan dari transportasi,” ungkap lelaki yang akrab disapa Puput, Kamis (5/2/2026).

Transportasi kaitannya tentu saja dengan BBM, di mana konsumsi kendaraan masih banyak dengan BBM dibandingkan gunakan tenaga listrik.

Saat ini menurutnya, berdasarkan data yang dihimpun, beban emisi kendaraan nasional masih tinggi, yakni 808.571,79 ton per hari.

Sumbernya antara lain 42% dari sepeda motor,  truk (29%), bus (17%), mobil berbahan bakar bensin (7%), mobil berbahan bakar solar (2%), dan bajaj (0,05%).

“Jadi sumber utama (terbesar) pencemaran udara adalah kendaraan bermotor, yang antara lain menyumbangkan parameter emisi PM10 sekitar 47% dan PM2.5 sekitar 57%,” ucap dia.

Adapun dampak pencemaran udara menyebabkan terjadinya kasus sakit/penyakit terkait pernafasan dan berdampak pada
tingginya biaya pengobatan yang harus dibayarkan oleh masyarakat.

Warga DKI Jakarta misalnya kata dia, harus membayar biaya pengobatan ini hingga Rp38,5 triliun atas 5.387.694 kasus sakit/penyakit pada 2010, dan Rp 51,2 triliun atas 6.153.634 kasus sakit/penyakit pada 2016.

“Untuk itu kita perlu mengubah standar BBM yang tersedia, karena saat ini untuk petralite saja, masih pre Euro dan Petramax di bawah standar 3 Euro,” ungkapnya.

Minimal dengan adanya perubahan, dapat berdampak juga pada gas emisi buangnya dan mengurangi tingkat polusi udara. (omy)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

KMP Portlink III Disiapkan ASDP Perkuat Layanan Penyeberangan Merak-Bakauheni

23 Oktober 2026 - 18:41 WIB

AirNav Bersama Malaysia Perkuat Koordinasi Pelayanan Navigasi Penerbangan

23 Oktober 2026 - 15:23 WIB

Tani Merdeka Indonesia dan SPPG Buka Peluang Pasar Baru bagi Petani Aceh

23 Oktober 2026 - 12:43 WIB

Indonesia AirAsia Dukung Kebijakan Pemerintah, Libur Nataru Harga Tiket Domestik Turun Mulai dari 12%

23 Oktober 2026 - 12:13 WIB

CSR Bank BJB Biayai 3 Halte Transjakarta di Jatiasih

23 Oktober 2026 - 07:45 WIB

DAMRI Uji Coba Bus Listrik di Kota Serang, Dukung Transportasi Publik Berkelanjutan

23 Oktober 2026 - 05:01 WIB

WCCE 2026 Hasilkan Jakarta Vision, Indonesia Bidik Masa Depan Ekonomi Kreatif Dunia

22 Oktober 2026 - 19:41 WIB

ASDP Pastikan Penanganan Klaim dan Kawal Pemenuhan Hak Penumpang KMP Batumandi

22 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Dukung UMKM Naik Kelas, Sekjen DPP APPSI Mujiburrohman Kunjungi Zona BakuBae Kota Bitung

22 Oktober 2026 - 17:58 WIB

Hendak Investasi Emas Digital Mulai Rp1.000? Cek di Aplikasi GoPay

22 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Trending di EKOBIS