Menu

Mode Gelap
Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen Ramainya WNA Naik Whoosh Sepanjang 2026, Malaysia Jadi Penumpang Terbanyak HUT ke-23, KAI Services Tegaskan Komitmen Perkuat Layanan dan Keamanan Pangan Lewat Sertifikasi ISO 22000 Pegawai KSOP Utama Tanjung Priok Raih Medali Emas ISKA, Harumkan Nama Kemenhub

EKOBIS

Mungkinkah BBM di Indonesia Ramah Lingkungan?

badge-check


 Direktur Eksekutif PKBB Perbesar

Direktur Eksekutif PKBB

Wartatrans.com, JAKARTA – Mungkinkah bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia akan ramah terhadap lingkungan?

Ya, maklum saja, tingkat polusi udara dampak timbal masih terus tinggi, salah satunya di Jakarta, yang bahkan pernah mendapat peringkat kota tinggi polusi.

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengemukakan, polusi udara terjadi di antaranya karena pembakaran, debu jalanan, bakar sampah terbuka, konstruksi gedung, jalan, jembatan, dan lainnya.

“Nah, 80 persennya polusi udara disebabkan dari transportasi,” ungkap lelaki yang akrab disapa Puput, Kamis (5/2/2026).

Transportasi kaitannya tentu saja dengan BBM, di mana konsumsi kendaraan masih banyak dengan BBM dibandingkan gunakan tenaga listrik.

Saat ini menurutnya, berdasarkan data yang dihimpun, beban emisi kendaraan nasional masih tinggi, yakni 808.571,79 ton per hari.

Sumbernya antara lain 42% dari sepeda motor,  truk (29%), bus (17%), mobil berbahan bakar bensin (7%), mobil berbahan bakar solar (2%), dan bajaj (0,05%).

“Jadi sumber utama (terbesar) pencemaran udara adalah kendaraan bermotor, yang antara lain menyumbangkan parameter emisi PM10 sekitar 47% dan PM2.5 sekitar 57%,” ucap dia.

Adapun dampak pencemaran udara menyebabkan terjadinya kasus sakit/penyakit terkait pernafasan dan berdampak pada
tingginya biaya pengobatan yang harus dibayarkan oleh masyarakat.

Warga DKI Jakarta misalnya kata dia, harus membayar biaya pengobatan ini hingga Rp38,5 triliun atas 5.387.694 kasus sakit/penyakit pada 2010, dan Rp 51,2 triliun atas 6.153.634 kasus sakit/penyakit pada 2016.

“Untuk itu kita perlu mengubah standar BBM yang tersedia, karena saat ini untuk petralite saja, masih pre Euro dan Petramax di bawah standar 3 Euro,” ungkapnya.

Minimal dengan adanya perubahan, dapat berdampak juga pada gas emisi buangnya dan mengurangi tingkat polusi udara. (omy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin

3 Juli 2026 - 21:05 WIB

Perkuat Kualitas Layanan Navigasi AirNav Indonesia-ASA Gelar Program ITSAP

3 Juli 2026 - 17:11 WIB

Dukung Konektivitas Nasional, ASDP dan Pemprov Jatim Percepat Transformasi Pelabuhan Ketapang

3 Juli 2026 - 15:15 WIB

Citilink Serahkan Hadiah Undian Mobil dan Tiket Gratis untuk Pelanggan Setia

3 Juli 2026 - 14:57 WIB

Pelindo Terminal Petikemas Berikan Wajah Baru Sarana Publik Masyarakat Ring 1 Terminal Teluk Lamong

3 Juli 2026 - 14:24 WIB

Pengoperasian QCC 004 Perkuat Daya Saing Pelabuhan Panjang sebagai Gerbang Logistik Sumatera

3 Juli 2026 - 13:35 WIB

Gubernur Pramono Kaji Pembangunan Flyover di Pejompongan, Universitas Pancasila, dan Bintaro

3 Juli 2026 - 12:56 WIB

Duet Air Kemasan Kuasai 71,6 Persen Pasar AMDK, Pengamat Soroti Potensi Oligopoli

3 Juli 2026 - 02:12 WIB

Gelar RUPS Tahunan, PT Pelindo Solusi Maritim Catat Pertumbuhan Kinerja Positif pada 2025

2 Juli 2026 - 13:06 WIB

Yayasan HAkA Dampingi Perempuan Beutong Bersatu Bangun Kemandirian Ekonomi

2 Juli 2026 - 11:24 WIB

Trending di EKOBIS