Wartatrans.com, JAKARTA – Industri air minum dalam kemasan (AMDK) nasional menunjukkan prospek pertumbuhan yang positif pada 2026. Namun, di balik optimisme tersebut, struktur pasar dinilai semakin terkonsentrasi setelah dua merek besar, Aqua dan Le Minerale, menguasai sekitar 71,6 persen preferensi konsumen.
Temuan itu berdasarkan survei Diskursus Network & Ecosystem terhadap 1.033 outlet ritel di 10 kota besar Indonesia. Aqua menjadi merek paling banyak dipilih dengan pangsa preferensi 44,2 persen atau 368 sebutan responden, disusul Le Minerale sebesar 27,4 persen atau 228 sebutan.

Sementara itu, merek lain tertinggal cukup jauh, yakni Vit 4,7 persen, Cleo 4,1 persen, dan Aquviva 3,7 persen. Kondisi tersebut menggambarkan tingginya konsentrasi pasar pada dua pemain utama.
Kepala Riset Diskursus Network & Ecosystem, Agustinus Dwianto, mengatakan kepercayaan konsumen masih menjadi faktor dominan dalam memilih produk AMDK.
“Berdasarkan survei, faktor kepercayaan, keamanan sumber air, dan kualitas menjadi determinan utama dalam pemilihan air minum sehari-hari,” ujarnya, Kamis (2/7/2026).
Survei juga menunjukkan Aqua menjadi produk dengan tingkat penjualan tertinggi di berbagai daerah. Sebanyak 57 persen pedagang ritel menyebut Aqua sebagai merek paling laris di tokonya. Dominasi tersebut terlihat di Bali yang mencapai 98 persen, Solo 80 persen, Malang 75 persen, Medan 74 persen, Surabaya 66 persen, Makassar 42 persen, dan Balikpapan 41 persen.
Pengamat ekonomi industri dari Indef, Ahmad Heri Firdaus, menilai konsentrasi pasar di atas 70 persen oleh dua pelaku usaha merupakan sinyal kuat terbentuknya pasar oligopoli.
“Konsentrasi pasar di atas 70 persen oleh dua pemain mengindikasikan oligopoli ketat yang berpotensi mematikan inovasi,” katanya.
Menurutnya, tanpa pengawasan yang efektif dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), peluang produsen lokal untuk berkembang akan semakin terbatas. Padahal, industri AMDK merupakan salah satu sektor yang didorong pemerintah sebagai penopang pertumbuhan industri nonmigas.
Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Produsen Air Kemasan Nusantara (Amdatara), Karyanto Wibowo, tetap optimistis terhadap prospek industri pada tahun ini.
“Tahun 2026 merupakan periode krusial bagi industri AMDK untuk menunjukkan ketahanan dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional,” ujarnya.
Optimisme tersebut juga didukung proyeksi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional berada pada kisaran 5,0 hingga 5,4 persen sepanjang 2026.
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), Adhi Lukman, menilai meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap higienitas menjadi salah satu pendorong pertumbuhan konsumsi AMDK. Meski demikian, ia mengingatkan agar pemerintah tetap menjaga iklim persaingan usaha sehingga pertumbuhan industri tidak hanya dinikmati oleh segelintir perusahaan besar, tetapi juga membuka ruang bagi produsen nasional untuk berkembang.*** (Artha Tidar)






























