Menu

Mode Gelap
Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Duet Air Kemasan Kuasai 71,6 Persen Pasar AMDK, Pengamat Soroti Potensi Oligopoli BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga

RAGAM

Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Pidato Presiden Prabowo Subianto hampir selalu memancing perdebatan. Ada yang menganggapnya sebagai pemimpin yang berani menyampaikan gagasan besar, tetapi tidak sedikit pula yang menilai ucapannya hanya retorika politik atau sekadar “omon-omon”. Di era media sosial, potongan-potongan pidato bahkan lebih sering menjadi bahan olok-olok dibandingkan bahan diskusi yang substansial.

Namun, sebuah pemerintahan semestinya tidak hanya diukur dari cara pemimpinnya berbicara, melainkan juga dari arah kebijakan dan hasil yang mulai terlihat.

Indonesia selama bertahun-tahun menghadapi persoalan mendasar: ketergantungan terhadap impor pangan, lemahnya kesejahteraan petani, serta pembangunan yang belum sepenuhnya berpihak kepada sektor produksi. Kondisi tersebut membuat isu ketahanan pangan menjadi salah satu agenda yang terus muncul dari masa ke masa.

Prabowo menjadikan ketahanan pangan sebagai prioritas nasional. Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp164,4 triliun untuk memperkuat sektor pangan melalui peningkatan produksi, pembangunan infrastruktur pertanian, cadangan pangan, hingga distribusi.

Di sisi lain, pemerintah juga mengklaim adanya peningkatan produksi beras. Data yang dipublikasikan pemerintah menunjukkan produksi beras nasional pada 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton, meningkat dibandingkan 30,62 juta ton pada 2024. Cadangan beras pemerintah juga disebut menembus sekitar 4 juta ton, level tertinggi sepanjang sejarah menurut pemerintah.

Tentu, data tersebut tidak otomatis menghapus semua kritik. Masih banyak persoalan yang harus dijawab, mulai dari harga kebutuhan pokok, daya beli masyarakat, lapangan pekerjaan, hingga efektivitas berbagai program strategis pemerintah. Kritik terhadap pemerintah tetap penting sebagai bagian dari demokrasi.

Namun, kritik juga seharusnya berdiri di atas fakta. Jika pemerintah berhasil meningkatkan produksi pangan, memperbesar cadangan beras, atau mengurangi ketergantungan terhadap impor, maka capaian itu layak diakui. Sebaliknya, jika target-target tersebut tidak tercapai, publik juga berhak memberikan penilaian yang kritis.

Dalam sejarah pembangunan Indonesia, perubahan besar memang tidak pernah lahir dalam waktu singkat. Kebijakan membutuhkan proses, konsistensi, serta dukungan berbagai pihak. Karena itu, terlalu cepat menyimpulkan seluruh gagasan Presiden sebagai “omon-omon” juga berpotensi mengabaikan proses yang sedang berjalan.

Yang dibutuhkan bangsa ini bukanlah politik yang hanya dipenuhi ejekan atau pemujaan. Yang dibutuhkan adalah penilaian yang objektif. Apresiasi diberikan ketika pemerintah berhasil, sementara kritik disampaikan ketika kebijakan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan pidato yang indah semata. Rakyat membutuhkan hasil nyata: harga pangan yang stabil, petani yang sejahtera, lapangan kerja yang terbuka, dan ekonomi yang terus tumbuh. Jika arah kebijakan Prabowo mampu membawa Indonesia menuju tujuan tersebut, maka sejarah yang akan memberikan penilaian. Sebaliknya, apabila janji-janji itu gagal diwujudkan, publik pun memiliki hak penuh untuk mengkritiknya.

Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang menolak kritik, melainkan demokrasi yang menempatkan fakta di atas prasangka. Dan bagi seorang presiden, pembuktian terbaik bukanlah melalui pidato, melainkan melalui hasil kerja yang benar-benar dirasakan oleh rakyat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan

2 Juli 2026 - 22:05 WIB

Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan

2 Juli 2026 - 21:58 WIB

Tangis Haru Iringi Peresmian Akses Enang-Enang, Gotong Royong Akhiri Keterisolasian Warga

2 Juli 2026 - 16:23 WIB

Kepala BNN RI Hadiri Doa Bersama Lintas Agama Sambut Hari Bhayangkara ke-80

2 Juli 2026 - 13:08 WIB

Gelar RUPS Tahunan, PT Pelindo Solusi Maritim Catat Pertumbuhan Kinerja Positif pada 2025

2 Juli 2026 - 13:06 WIB

Yayasan HAkA Dampingi Perempuan Beutong Bersatu Bangun Kemandirian Ekonomi

2 Juli 2026 - 11:24 WIB

Pemko Subulussalam Dikritik: Ikut Kegiatan APEKSI di Medan di Tengah Keterbatasan Anggaran

2 Juli 2026 - 11:20 WIB

IKAC Salurkan Bantuan Pangan untuk Ratusan Warga, Kolaborasi dengan Kecamatan Arjawinangun Perkuat Kepedulian Sosial

2 Juli 2026 - 10:08 WIB

Paradoks Lansia Indonesia: Menua dalam Jeratan Sektor Informal

1 Juli 2026 - 17:50 WIB

Terminal Teluk Lamong Raih Digital PR Award 2026 Berkat Strategi Komunikasi Digital yang Inovatif

1 Juli 2026 - 17:36 WIB

Trending di ANJUNGAN