Menu ✖

Mode Gelap
KAI Angkut 191 Ribu Ton Barang Retail hingga September 2026, Dorong Efisiensi Logistik Kemenhub dan Kemenlu Fasilitasi Kepulangan 4 Awak Kapal Korban Pembajakan di Somalia Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo B50 Jadi Program Utama KAI, Target Pangkas Emisi 133.676 Ton CO₂e Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan Alhamdulillah, Biaya yang Ditanggung Jemaah Haji 2027 Turun Rp3,4 Juta

RAGAM

Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Pidato Presiden Prabowo Subianto hampir selalu memancing perdebatan. Ada yang menganggapnya sebagai pemimpin yang berani menyampaikan gagasan besar, tetapi tidak sedikit pula yang menilai ucapannya hanya retorika politik atau sekadar “omon-omon”. Di era media sosial, potongan-potongan pidato bahkan lebih sering menjadi bahan olok-olok dibandingkan bahan diskusi yang substansial.

Namun, sebuah pemerintahan semestinya tidak hanya diukur dari cara pemimpinnya berbicara, melainkan juga dari arah kebijakan dan hasil yang mulai terlihat.

Indonesia selama bertahun-tahun menghadapi persoalan mendasar: ketergantungan terhadap impor pangan, lemahnya kesejahteraan petani, serta pembangunan yang belum sepenuhnya berpihak kepada sektor produksi. Kondisi tersebut membuat isu ketahanan pangan menjadi salah satu agenda yang terus muncul dari masa ke masa.

Prabowo menjadikan ketahanan pangan sebagai prioritas nasional. Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp164,4 triliun untuk memperkuat sektor pangan melalui peningkatan produksi, pembangunan infrastruktur pertanian, cadangan pangan, hingga distribusi.

Di sisi lain, pemerintah juga mengklaim adanya peningkatan produksi beras. Data yang dipublikasikan pemerintah menunjukkan produksi beras nasional pada 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton, meningkat dibandingkan 30,62 juta ton pada 2024. Cadangan beras pemerintah juga disebut menembus sekitar 4 juta ton, level tertinggi sepanjang sejarah menurut pemerintah.

Tentu, data tersebut tidak otomatis menghapus semua kritik. Masih banyak persoalan yang harus dijawab, mulai dari harga kebutuhan pokok, daya beli masyarakat, lapangan pekerjaan, hingga efektivitas berbagai program strategis pemerintah. Kritik terhadap pemerintah tetap penting sebagai bagian dari demokrasi.

Namun, kritik juga seharusnya berdiri di atas fakta. Jika pemerintah berhasil meningkatkan produksi pangan, memperbesar cadangan beras, atau mengurangi ketergantungan terhadap impor, maka capaian itu layak diakui. Sebaliknya, jika target-target tersebut tidak tercapai, publik juga berhak memberikan penilaian yang kritis.

Dalam sejarah pembangunan Indonesia, perubahan besar memang tidak pernah lahir dalam waktu singkat. Kebijakan membutuhkan proses, konsistensi, serta dukungan berbagai pihak. Karena itu, terlalu cepat menyimpulkan seluruh gagasan Presiden sebagai “omon-omon” juga berpotensi mengabaikan proses yang sedang berjalan.

Yang dibutuhkan bangsa ini bukanlah politik yang hanya dipenuhi ejekan atau pemujaan. Yang dibutuhkan adalah penilaian yang objektif. Apresiasi diberikan ketika pemerintah berhasil, sementara kritik disampaikan ketika kebijakan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan pidato yang indah semata. Rakyat membutuhkan hasil nyata: harga pangan yang stabil, petani yang sejahtera, lapangan kerja yang terbuka, dan ekonomi yang terus tumbuh. Jika arah kebijakan Prabowo mampu membawa Indonesia menuju tujuan tersebut, maka sejarah yang akan memberikan penilaian. Sebaliknya, apabila janji-janji itu gagal diwujudkan, publik pun memiliki hak penuh untuk mengkritiknya.

Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang menolak kritik, melainkan demokrasi yang menempatkan fakta di atas prasangka. Dan bagi seorang presiden, pembuktian terbaik bukanlah melalui pidato, melainkan melalui hasil kerja yang benar-benar dirasakan oleh rakyat. ***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo

7 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 19:42 WIB

Alhamdulillah, Biaya yang Ditanggung Jemaah Haji 2027 Turun Rp3,4 Juta

7 Oktober 2026 - 18:49 WIB

Pelindo Mengajar, Ajak Siswa SMKN 1 Mempawah Mengenal Dunia Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 18:32 WIB

Perempuan Aceh Bicara di Jakarta, Rumuskan Peta Jalan Kepemimpinan Perempuan Aceh 2045

7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

Apa yang Dibahas Jokowi Saat Sambangi Prabowo di Kertanegara Jelang MK Putus Perkara Gibran?

7 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Usai Putusan MK, Wakil Ketua DPRD Sukabumi Turunkan Foto Gibran dari Ruang Kerjanya

7 Oktober 2026 - 16:58 WIB

MK Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SLTA Gibran, Buku Rismon Kembali Disorot

7 Oktober 2026 - 16:28 WIB

Bengkel Kreatif Aceh Multi Vision, 15 Tahun Mengembangkan Karya dan Ekonomi Kreatif Aceh

7 Oktober 2026 - 14:11 WIB

Pengurus APPSI Aceh Tengah Periode 2025–2030 Siap Dilantik

7 Oktober 2026 - 13:46 WIB

Trending di RAGAM