Menu

Mode Gelap
PTP Nonpetikemas Raih Pengakuan ISRA 2026 Kategori Sustainability Report Kemenhub Perkuat SDM Keselamatan Transportasi Jalan, Lantik 205 Lulusan PKTJ Rencana MRT Bali bakal jadi ART, Ini Tantangannya Semester I-2026, MR D.I.Y. Cetak Laba Rp590,7 Miliar KAI Services Resmikan Kantor dan Gudang Regional 8 Surabaya, Perkuat Operasional dan Layanan Pelanggan Garuda Indonesia Kembali Terbangi Rute Bandung–Bali

RAGAM

Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Pidato Presiden Prabowo Subianto hampir selalu memancing perdebatan. Ada yang menganggapnya sebagai pemimpin yang berani menyampaikan gagasan besar, tetapi tidak sedikit pula yang menilai ucapannya hanya retorika politik atau sekadar “omon-omon”. Di era media sosial, potongan-potongan pidato bahkan lebih sering menjadi bahan olok-olok dibandingkan bahan diskusi yang substansial.

Namun, sebuah pemerintahan semestinya tidak hanya diukur dari cara pemimpinnya berbicara, melainkan juga dari arah kebijakan dan hasil yang mulai terlihat.

Indonesia selama bertahun-tahun menghadapi persoalan mendasar: ketergantungan terhadap impor pangan, lemahnya kesejahteraan petani, serta pembangunan yang belum sepenuhnya berpihak kepada sektor produksi. Kondisi tersebut membuat isu ketahanan pangan menjadi salah satu agenda yang terus muncul dari masa ke masa.

Prabowo menjadikan ketahanan pangan sebagai prioritas nasional. Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp164,4 triliun untuk memperkuat sektor pangan melalui peningkatan produksi, pembangunan infrastruktur pertanian, cadangan pangan, hingga distribusi.

Di sisi lain, pemerintah juga mengklaim adanya peningkatan produksi beras. Data yang dipublikasikan pemerintah menunjukkan produksi beras nasional pada 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton, meningkat dibandingkan 30,62 juta ton pada 2024. Cadangan beras pemerintah juga disebut menembus sekitar 4 juta ton, level tertinggi sepanjang sejarah menurut pemerintah.

Tentu, data tersebut tidak otomatis menghapus semua kritik. Masih banyak persoalan yang harus dijawab, mulai dari harga kebutuhan pokok, daya beli masyarakat, lapangan pekerjaan, hingga efektivitas berbagai program strategis pemerintah. Kritik terhadap pemerintah tetap penting sebagai bagian dari demokrasi.

Namun, kritik juga seharusnya berdiri di atas fakta. Jika pemerintah berhasil meningkatkan produksi pangan, memperbesar cadangan beras, atau mengurangi ketergantungan terhadap impor, maka capaian itu layak diakui. Sebaliknya, jika target-target tersebut tidak tercapai, publik juga berhak memberikan penilaian yang kritis.

Dalam sejarah pembangunan Indonesia, perubahan besar memang tidak pernah lahir dalam waktu singkat. Kebijakan membutuhkan proses, konsistensi, serta dukungan berbagai pihak. Karena itu, terlalu cepat menyimpulkan seluruh gagasan Presiden sebagai “omon-omon” juga berpotensi mengabaikan proses yang sedang berjalan.

Yang dibutuhkan bangsa ini bukanlah politik yang hanya dipenuhi ejekan atau pemujaan. Yang dibutuhkan adalah penilaian yang objektif. Apresiasi diberikan ketika pemerintah berhasil, sementara kritik disampaikan ketika kebijakan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan pidato yang indah semata. Rakyat membutuhkan hasil nyata: harga pangan yang stabil, petani yang sejahtera, lapangan kerja yang terbuka, dan ekonomi yang terus tumbuh. Jika arah kebijakan Prabowo mampu membawa Indonesia menuju tujuan tersebut, maka sejarah yang akan memberikan penilaian. Sebaliknya, apabila janji-janji itu gagal diwujudkan, publik pun memiliki hak penuh untuk mengkritiknya.

Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang menolak kritik, melainkan demokrasi yang menempatkan fakta di atas prasangka. Dan bagi seorang presiden, pembuktian terbaik bukanlah melalui pidato, melainkan melalui hasil kerja yang benar-benar dirasakan oleh rakyat. ***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Haji Fikri: Putusan MK Harus Jadi Momentum Memperkuat Pendidikan dan Menjamin Anak Indonedia Mendapatkan Akses Makanan Bergizi

7 Agustus 2026 - 10:16 WIB

Percepatan Pemulihan Pascabencana, Satgas PPA Aceh Tengah Perkuat Koordinasi Strategis dengan Pemkab

7 Agustus 2026 - 09:51 WIB

Sosialisasi Perjanjian Kerja Bersama, Pelindo Perkuat Harmoni Hubungan Industrial

6 Agustus 2026 - 22:26 WIB

IDSurvey Ajak 330 Siswa di Bidara Cina Menjadi Pelopor Transformasi Hijau Indonesia

6 Agustus 2026 - 22:05 WIB

Perkuat Mitigasi Risiko, IPC TPK Resmi Perpanjang Sinergi Hukum Bersama Kejari Jakut

6 Agustus 2026 - 21:53 WIB

Pemerintah Aceh Luruskan Bantuan Rp2,5 Triliun dari Kementan: Bukan Dana Tunai, Melainkan Program dan Bantuan untuk Petani

6 Agustus 2026 - 21:33 WIB

22 Penumpang Scoot Tujuan Padang Terlantar di Bandara Changi, Klaim Rugi Lebih dari Rp110 Juta

6 Agustus 2026 - 20:23 WIB

Pengukuhan DKJ Dipersoalkan, Arie Batubara Nilai Pergub Dilanggar

6 Agustus 2026 - 18:07 WIB

Dinas Sejarah Angkatan Laut Dukung Pengembangan Film Pahlawan Nasional John Lie sebagai Diplomasi Budaya

6 Agustus 2026 - 16:18 WIB

Pemkab Aceh Tamiang Terima 114 Unit Huntara dari Mercy Malaysia untuk Korban Banjir

6 Agustus 2026 - 15:46 WIB

Trending di RAGAM