Wartatrans.com, ACEH — Saudaraku Juha Christensen, kami menghargai peran dan jasa Anda dalam proses perdamaian Aceh. Anda adalah salah satu saksi penting perjalanan panjang yang mempertemukan Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka hingga lahirnya MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005.
Namun, izinkan kami menyampaikan pesan dari rakyat Aceh.

Jangan hanya mengingatkan rakyat Aceh untuk menjaga perdamaian. Tolong ingatkan pula para juru runding dari kedua belah pihak agar tidak melupakan apa yang telah mereka sepakati dan janjikan di meja perundingan Helsinki.
Sudah 21 tahun perdamaian berjalan. Kami tidak ingin MoU Helsinki hanya menjadi dokumen sejarah yang dibacakan setiap tanggal 15 Agustus. Kami ingin semangat dan isi kesepakatan itu terus dihormati dan diwujudkan.
Jika dulu di Helsinki dibangun semangat “dignity for all” — martabat untuk semua, maka martabat itu harus benar-benar dirasakan oleh rakyat Aceh.
Kami rakyat Aceh tidak meminta siapa pun membuka kembali luka masa lalu. Kami hanya meminta agar sejarah tidak dilupakan dan kesepakatan tidak dipilih-pilih sesuai kepentingan.
Jika ada yang mulai lupa, maka kami berharap Juha menjadi salah satu orang yang mengingatkan mereka.
Jangan hanya meminta rakyat Aceh menjaga perdamaian. Ingatkan juga semua pihak yang membuat janji perdamaian agar menepati janji tersebut.
Karena bagi kami, perdamaian bukan sekadar tidak adanya perang.
Perdamaian adalah ketika janji dihormati, kesepakatan dijalankan, martabat dijaga, dan rakyat merasakan keadilan.
Salam hormat dari rakyat Aceh.
15 Agustus 2026 — 21 Tahun Damai Aceh.***


























