Wartatrans.com, NAGAN RAYA — Ada keputusan yang tidak lahir dalam sehari. Ada pula keyakinan yang membutuhkan waktu panjang sebelum akhirnya diikrarkan.
Masjid Agung Baitul A’la, yang lebih dikenal sebagai Masjid Giok Nagan Raya, menjadi saksi perjalanan panjang itu, Senin (5/10/2026). Di masjid kebanggaan masyarakat Nagan Raya tersebut, seorang warga negara Tiongkok, Lu Haiying, resmi memeluk Islam dan kemudian menyandang nama Luhay Ahmad Budiman Syah.
Di hadapan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Nagan Raya, Tgk. H. Said Muntazar, serta Bupati Nagan Raya Teuku Raja Keumangan, Wakil Bupati Raja Sayang, Ketua DPRK Mohd. Rizki Ramadhan dan unsur Forkopimda, Budiman mengucapkan dua kalimat syahadat dengan penuh khidmat.
Namun, bagi Budiman, prosesi itu bukan sekadar sebuah seremoni.
Ia mengaku, keinginan untuk memeluk Islam telah tumbuh dalam dirinya sejak sepuluh tahun silam. Waktu yang panjang itu akhirnya menemukan jawabannya di Masjid Giok.
“Niat saya masuk Islam sudah ada sejak 10 tahun lalu, dan Alhamdulillah baru terwujud hari ini. Ini menjadi awal baru bagi kehidupan saya,” ujar Budiman.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Bupati Nagan Raya dan masyarakat yang telah memberikan dukungan serta bimbingan dalam perjalanan tersebut.
Dari Niat Pribadi Menjadi Harapan untuk Daerah
Bupati Nagan Raya Teuku Raja Keumangan menyambut keputusan Budiman sebagai sebuah kabar yang patut disyukuri.
Menurutnya, keinginan Budiman untuk menjadi mualaf sebenarnya telah lama diketahui. Karena itu, keputusan memilih Masjid Agung Baitul A’la sebagai tempat mengikrarkan keislamannya dinilai memiliki makna tersendiri.
“Pak Budiman sudah lama ingin masuk Islam, cuma belum terwujud dan akhirnya memilih masuk Islam di Masjid Agung kita ini. Kita harus mensyukuri, mudah-mudahan ini menjadi rahmat bagi Kabupaten Nagan Raya,” kata TRK.
Menariknya, perjalanan Budiman tidak berhenti pada keputusan spiritual tersebut.
Ia juga dipercaya sebagai Duta Investasi Aceh yang ditunjuk oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh. Posisi itu membuat keberadaannya di Nagan Raya tidak hanya berkaitan dengan perjalanan pribadi, tetapi juga dengan upaya mendorong investasi dan pembangunan ekonomi daerah.
Budiman bahkan menyatakan komitmennya untuk ikut memberikan kontribusi bagi Nagan Raya, termasuk membantu keberlanjutan pembangunan Masjid Giok Baitul A’la.
Dengan demikian, Senin itu bukan hanya menjadi hari ketika seorang pria asal Tiongkok mengucapkan syahadat.
Masjid Giok menjadi titik temu antara sebuah penantian selama sepuluh tahun, lahirnya identitas baru, dan tekad untuk ikut membangun daerah yang kini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Prosesi ditutup dengan penyerahan sertifikat mualaf, bingkisan edukasi keislaman, serta doa bersama untuk ketenteraman dan kemakmuran masyarakat Nagan Raya.*** (Jasa)






















