Wartatrans.com, JAKARTA — Congklak telah begitu lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Ia hadir di rumah-rumah, dimainkan anak-anak, menjadi permainan pengisi waktu, bahkan melekat dalam ingatan masa kecil banyak generasi.
Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan sebuah perjalanan sejarah yang menarik.
Congklak – atau permainan sejenis yang dikenal dalam rumpun mancala—bukan permainan yang pertama kali lahir di Indonesia. Sejumlah catatan sejarah menempatkan permainan papan berlubang semacam ini sebagai salah satu permainan kuno yang telah dikenal ribuan tahun lalu. Jejak permainan sejenis mancala bahkan kerap dikaitkan dengan temuan arkeologis di kawasan Timur Tengah, termasuk Yordania, yang diperkirakan berasal dari milenium ke-7 hingga ke-5 SM.
Lalu bagaimana permainan itu sampai ke Nusantara?
Salah satu teori yang berkembang menyebutkan, permainan ini dibawa oleh para pedagang dari kawasan Arab dan jalur perdagangan Timur Tengah ke Asia Tenggara. Proses masuknya ke Nusantara diperkirakan berlangsung dalam beberapa fase. Pada sekitar abad ke-7 hingga abad ke-10, permainan semacam ini diduga telah dikenal di lingkungan tertentu, sebelum kemudian mengalami penyebaran yang lebih luas.
Memasuki sekitar abad ke-17, permainan ini semakin dikenal di berbagai wilayah Nusantara dan mengalami proses lokalisasi. Bentuk papan, jumlah lubang, aturan permainan, hingga penyebutannya kemudian berkembang sesuai dengan budaya setempat.
Di titik inilah menariknya sebuah kebudayaan.
Sesuatu yang datang dari luar tidak selalu tetap menjadi “milik luar”. Ketika telah diterima, dimainkan, diberi nama, diwariskan, dan dihidupkan terus-menerus oleh masyarakat, ia dapat berubah menjadi bagian dari identitas budaya setempat.
Maka, menyebut congklak sebagai permainan tradisional Indonesia bukan berarti harus menghapus jejak sejarah asal-usulnya.
Justru sebaliknya. Budaya yang besar tidak selalu lahir dari ruang yang tertutup. Ia tumbuh dari perjumpaan.
Congklak adalah salah satu contohnya. Jejak awalnya mungkin membawa kita jauh ke Timur Tengah, tetapi perjalanan panjangnya di Nusantara membuat permainan itu memperoleh wajah baru – wajah Indonesia.
Karena itu, penting membedakan antara asal-usul sebuah tradisi dan tempat di mana tradisi itu kemudian tumbuh, berkembang, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Congklak boleh jadi bukan lahir di tanah Nusantara. Tetapi setelah berabad-abad dimainkan dan diwariskan dari generasi ke generasi, congklak telah menjadi bagian dari cerita kebudayaan Indonesia.
Catatan kecil tentang sebuah permainan sederhana: sejarah budaya ternyata tidak selalu berjalan dalam garis lurus. Ia berpindah, berjumpa, beradaptasi, lalu menemukan rumah barunya.***
Duren Sawit 2026





















