Wartatrans.com, MANGGARAI — Gempa telah berlalu, tetapi perjuangan warga Flores belum selesai. Setelah kehilangan rumah, keluarga, dan rasa aman, ribuan warga yang masih bertahan di pengungsian kini menghadapi persoalan lain yang tak kalah mendasar: air bersih.
Kondisi itu mendorong Laznas Dewan Dakwah mengirimkan 24.200 liter air bersih dan 1.615 liter air minum bagi warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Bantuan tersebut disalurkan selama empat hari, 21–24 September 2026, termasuk kepada warga di Kampung Waso, Desa Satar Kampas.
Namun bagi para pengungsi, air bukan sekadar bantuan. Air menentukan apakah mereka bisa minum, memasak, mandi, mencuci, hingga menjalankan ibadah.
Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026 telah menewaskan 156 orang. BNPB mencatat 48 orang meninggal ketika gempa terjadi, sementara 108 lainnya meninggal saat berada di pengungsian.
Lebih dari sebulan setelah bencana, ribuan warga masih belum dapat kembali ke rumah. Data BNPB hingga 28 September 2026 pukul 10.00 WIB mencatat 24.027 warga masih tinggal di pengungsian, sementara 1.620 orang mengalami luka atau sakit.
Di tengah kondisi tersebut, persoalan air menjadi semakin berat.
“Ketika kami datang, warga kekurangan air untuk minum, memasak, sampai wudu. Banyak juga yang sakit,” ujar Fahri, relawan Laznas Dewan Dakwah di lokasi.
Persoalannya bukan semata karena gempa. Sebelum bencana terjadi, sebagian masyarakat di sejumlah wilayah NTT memang telah terbiasa menghadapi keterbatasan air. Untuk mendapatkan air, warga bahkan harus berjalan jauh hingga ke kawasan hutan.
Gempa kemudian memperbesar persoalan. Ribuan orang berkumpul di titik-titik pengungsian, sementara sumber air yang tersedia tidak bertambah.
Karena itu, Laznas Dewan Dakwah tidak hanya mendistribusikan air menggunakan kendaraan. Sebanyak 10 toren air dipasang di 10 titik pengungsian, sebagian besar berada di masjid dan musala yang kini menjadi tempat berlindung warga.
Langkah tersebut membuat warga memiliki sumber penyimpanan air yang lebih dekat.
“Ibu-ibu bisa memasak, anak-anak bisa mandi, dan warga bisa wudu di masjid tanpa harus berjalan jauh atau mencari air ke tempat lain,” kata Fahri.
Direktur Eksekutif Laznas Dewan Dakwah, Ustadz Idris Yusuf, mengatakan bantuan air diprioritaskan karena kebutuhan tersebut paling mendesak di lapangan.
“Di pengungsian, air digunakan untuk semua hal: minum, memasak, mandi, mencuci, dan ibadah. Kalau air tidak cukup, warga mudah sakit,” ujarnya.
Menurut Idris, distribusi air tidak berhenti pada bantuan yang telah disalurkan. Selama warga masih bertahan di pengungsian, Laznas Dewan Dakwah akan terus mengirimkan air sesuai kebutuhan lapangan.
Selain bantuan logistik, Laznas Dewan Dakwah juga menempatkan Ustadz Raja, dai muda asal Aceh lulusan STID Mohammad Natsir, untuk tinggal bersama warga di Kampung Waso.
Kehadirannya bukan hanya untuk mendampingi warga dalam urusan ibadah, tetapi juga membantu mendata kebutuhan dan menyalurkan bantuan.
Di tengah panjangnya masa pengungsian, persoalan air menunjukkan bahwa bencana tidak berakhir ketika gempa berhenti. Bagi mereka yang kehilangan rumah, perjuangan sesungguhnya justru berlanjut setiap hari—untuk mendapatkan air, menjaga kesehatan, dan bertahan hidup.
Laznas Dewan Dakwah menyatakan distribusi bantuan akan terus dilakukan selama kebutuhan masih ada. Seluruh bantuan air bersih, air minum, dan toren tersebut berasal dari dukungan para donatur.
Sebab bagi ribuan pengungsi Flores, satu tangki air hari ini bukan sekadar bantuan. Ia adalah kesempatan untuk tetap hidup dan bertahan sampai mereka dapat kembali ke rumah.*** (Priyo)






















