Wartatrans.com, BANDA ACEH — Seni menjadi salah satu cara manusia membangun perjumpaan lintas budaya. Melalui garis, warna, tekstur dan bentuk visual, pengalaman serta identitas seseorang dapat disampaikan kepada orang lain tanpa harus menggunakan banyak kata.
Semangat tersebut hadir dalam Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 bertajuk “Cultural Nuances”, yang digelar di Gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, 5–10 Oktober 2026.
Pameran ini diselenggarakan oleh Sanggar Seni Rupa Trimatra Banda Aceh bersama Universitas Syiah Kuala, dengan mempertemukan seniman dari sejumlah negara serta berbagai daerah di Indonesia dalam satu ruang dialog kreatif.
Pameran tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Trimatra dalam membangun jejaring seni dan kebudayaan. Di balik karya-karya yang ditampilkan, terdapat proses membangun hubungan, menjaga kepercayaan, membuka komunikasi serta memperluas ruang perjumpaan antarperupa.
Perjalanan itu tidak terlepas dari sosok Restu Wardhana, S.Sn., penggagas sekaligus penggerak utama Sanggar Seni Rupa Trimatra. Dengan latar pendidikan seni rupa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan pengalaman berkarya sejak dekade 1990-an, Restu membawa pengalaman artistiknya ke dalam kerja kebudayaan yang lebih luas.
Trimatra Bangun Jejaring Seni Internasional
Trimatra lahir dari gagasan bahwa seni membutuhkan ruang untuk tumbuh. Ruang tersebut menjadi tempat seniman bertemu, bertukar gagasan, memberi kesempatan kepada generasi baru serta membangun hubungan dengan dunia luar.
Langkah tersebut kemudian berkembang melalui sejumlah agenda pameran. Pada 2023, Trimatra menghadirkan “Merajut Eksotisme Peradaban Aceh”. Kemudian pada 2024, digelar Aceh International Collaborative Art Exhibition “Cultural Heritage” yang melibatkan seniman dari delapan negara.

Para, perupa yang ikut dalam pameran bersama.
Jejaring tersebut kembali berkembang pada 2025 melalui pameran “HERO” yang melibatkan seniman dari sebelas negara.
Kini, “Cultural Nuances” 2026 menjadi bagian dari rangkaian perjalanan tersebut.
Kehadiran seniman dari berbagai negara tidak hanya menunjukkan luasnya jaringan yang dibangun, tetapi juga memperlihatkan bagaimana komunitas seni di Aceh terus membuka ruang komunikasi melalui karya dan kerja kebudayaan.
Cultural Nuances Bicara tentang Keberagaman
Tema Cultural Nuances mengangkat perhatian terhadap berbagai detail kebudayaan yang kerap luput dari pandangan. Kebudayaan hidup melalui simbol, pengalaman masyarakat, lanskap, ingatan kolektif serta cara manusia memberikan makna terhadap kehidupannya.
Karena itu, pameran tidak hanya menjadi ruang untuk melihat karya seni, tetapi juga ruang untuk memahami keberagaman perspektif yang dibawa masing-masing seniman.
Rangkaian kegiatan pendukung turut memperkuat semangat tersebut. Salah satunya adalah workshop “Art Making with Tie & Dye” yang menghadirkan Miss Sainab dari Thailand sebagai Lead Trainer.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan kreatif lintas budaya melalui teknik ikat dan pewarnaan. Workshop berlangsung di Kampus Arsitektur Universitas Syiah Kuala pada 5 Oktober 2026.
Sementara itu, pada 9 Oktober 2026, akan digelar pertemuan bersama fotografer Prancis Eva Bonneville dengan tema “Kembara Seorang Juru Foto Prancis di Tanah Bertuah Indonesia” di venue pameran.
Melalui fotografi, pertemuan tersebut membuka perspektif lain dalam melihat Indonesia, mulai dari perjalanan, manusia, kehidupan masyarakat hingga lanskap yang ditemui dalam proses kreatif.
Seni Bertemu Dunia Akademik
Kehadiran Universitas Syiah Kuala dalam kegiatan ini turut memberikan ruang pertemuan antara seni, pendidikan, penelitian dan berbagai disiplin ilmu.
Dukungan pimpinan universitas, sivitas akademika, panitia, komunitas seni, seniman, mahasiswa, mitra kebudayaan serta berbagai pihak menjadi bagian dari kerja bersama dalam menghadirkan pameran internasional tersebut.
Dalam konteks pengembangan pendidikan, kegiatan seni dan kebudayaan juga memiliki keterkaitan dengan gagasan pengembangan Program Magister Seni Kreatif dan Studi Kebudayaan – Master of Arts (M.A.) in Creative Arts and Cultural Studies (MACS) di Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala.
Program tersebut diarahkan pada pemahaman bahwa seni dan kebudayaan semakin berkaitan dengan berbagai bidang, seperti teknologi, pendidikan, industri kreatif, hukum, komunikasi, arsitektur, lingkungan dan persoalan sosial.
Aceh Membuka Ruang Dialog dengan Dunia
Aceh memiliki sejarah dan kekayaan kebudayaan yang panjang. Kehadiran ruang-ruang seni seperti Cultural Nuances menjadi kesempatan bagi generasi baru untuk menafsirkan kembali warisan budaya melalui pendekatan kreatif dan kontemporer.
Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 “Cultural Nuances” menunjukkan bahwa seni dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan manusia dari berbagai latar belakang.
Aceh tidak hanya memperkenalkan kebudayaannya melalui cerita masa lalu, tetapi juga melalui kreativitas yang terus berkembang pada hari ini.
Melalui seni, Aceh membuka ruang bagi dunia untuk melihat, mendengar, berdialog dan memahami keberagaman budaya yang hidup di dalamnya.*** (Kamaruzzaman)

























