Menu ✖

Mode Gelap
KAI Services Apresiasi Petugas Keamanan yang Bantu Penumpang Melahirkan di KRL Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎ KAI Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang, 748 Petugas PJL Disertifikasi hingga Tutup 1.329 Perlintasan Liar Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

SENI BUDAYA

Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda

badge-check


 Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Ada momen menarik sekaligus penuh makna dalam diskusi “Kelas Literasi Sinema Jadi Ruang Promosi Dangdut Menuju UNESCO” di Auditorium Perpustakaan Nasional, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (29/9/2026).

Di tengah diskusi yang menghadirkan Rhoma Irama dan Dr. Mohammad Amin Abdullah, Direktur Musik Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, sebagai narasumber, pedangdut senior H. Mansyur S tiba-tiba mengangkat tangan.

Semua mengira pelantun Rembulan Bersinar Lagi itu hendak mengajukan pertanyaan. Namun, ternyata bukan pertanyaan yang disampaikan Mansyur S. Ia justru meminta wejangan kepada Rhoma Irama tentang masa depan musik dangdut.

“Ji, kita kan sudah sama-sama tua. Makanya ane minta Haji memberikan petuah atau masukan agar musik dangdut bisa terus eksis dan berkembang di kalangan generasi muda?” pinta Mansyur S.

Pertanyaan tersebut sontak membuat Rhoma sempat tersentak, sebelum kemudian tersenyum.

Jawaban Rhoma pun tak kalah menarik. Menurut sang Raja Dangdut, generasi senior harus legowo memberikan ruang kepada generasi muda untuk melanjutkan perjalanan musik dangdut.

“Kita harus legowo menerima estafet. Setiap masa ada orangnya. Jadi jangan pernah takut dangdut ditinggal generasi muda. Kita yang sudah tua tinggal mengarahkan dan mengawal,” jawab Rhoma.

Pernyataan itu sekaligus menjadi pesan bagi para pelaku dangdut senior agar tidak terjebak pada keinginan mempertahankan bentuk dangdut seperti yang mereka kenal pada masa lalu.

Menurut Rhoma, generasi muda harus diberi kebebasan untuk mengekspresikan kecintaannya terhadap dangdut sesuai perkembangan zaman.

“Sebagai pedangdut senior, kita tidak boleh terlalu ego. Jangan memaksakan kehendak agar anak muda menerima dangdut sesuai harapan kita yang senior,” tegas pelantun Begadang dan Darah Muda tersebut.

Rhoma menilai perkembangan teknologi telah mengubah cara generasi muda menikmati sekaligus mengekspresikan musik. Karena itu, perubahan tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai ancaman bagi keberadaan dangdut.

“Biarkan anak muda mengekspresikan kecintaannya kepada musik dangdut dengan caranya. Yang penting tetap menjaga norma agama dan akhlak mulia. Itu sesuai dengan perjuangan PAMDI selama ini,” katanya.

Dangdut Tak Boleh Berhenti di Satu Generasi

Pesan Rhoma tersebut menjadi relevan di tengah upaya membawa musik dangdut menuju pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Menurutnya, salah satu kunci keberlangsungan sebuah warisan budaya adalah adanya proses pewarisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dangdut tidak boleh hanya menjadi milik generasi yang melahirkannya. Musik tersebut harus terus hidup, berkembang dan menemukan bentuk ekspresi baru di tangan generasi berikutnya.

Karena itu, ketika anak muda menggabungkan dangdut dengan berbagai warna musik dan memanfaatkan platform digital sebagai ruang berekspresi, hal tersebut merupakan bagian dari dinamika perkembangan musik.

“Kita yang tua mengawal, yang muda meneruskan,” semangat itulah yang terasa dari jawaban Rhoma kepada Mansyur S.

Dua maestro dangdut yang telah puluhan tahun berada di panggung musik itu seolah sedang menyerahkan tongkat estafet kepada generasi berikutnya.

Sebab, perjuangan mempertahankan dangdut bukan berarti membekukan musik tersebut dalam bentuk masa lalu.

Justru sebaliknya, dangdut harus diberi ruang untuk terus tumbuh tanpa kehilangan akar, nilai dan identitasnya.

Dan jika dangdut ingin benar-benar melangkah menuju panggung dunia, generasi muda adalah bagian penting dari perjalanan tersebut.*** (Byl)

Baca Lainnya

Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

1 Oktober 2026 - 03:44 WIB

Rhoma Irama Menangis Saat Menonton Film Lawas, dari Pengabdian ke Perjuangan Dangdut Menuju UNESCO

30 September 2026 - 08:17 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Mentor Bang Budi dan Lukisan Karya Anak yang Membawa Cerita Aceh Tamiang ke Jakarta

30 September 2026 - 01:37 WIB

Bupati Aceh Tamiang Dorong Terapi Melukis untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana

29 September 2026 - 19:34 WIB

Ekraf Peduli Hadirkan Karya Anak Korban Bencana Sumatra, Pemerintah Dorong Pemulihan Lewat Seni

29 September 2026 - 18:39 WIB

Dianna Dee Full Jadwal Show, Sempatkan Cover Lagu di YouTube, 1 Minggu Tembus Setengah Juta Views

29 September 2026 - 17:10 WIB

HUT ke 81, KAI Daop 4 Semarang Menggelar Acara Baca Puisi Antar Negara

29 September 2026 - 09:44 WIB

Jaja Mihardja Mengidolakan Almarhum Bing Slamet 

29 September 2026 - 03:02 WIB

Grup Musik ‘Dua’ Beranggotanan Naila dan Dhimas Rilis Anthem Gen Z Bertitel ‘Let Go’ Diproduser Ady Ex Naff

28 September 2026 - 19:05 WIB

Trending di SENI BUDAYA