Wartatrans.com, JAKARTA – Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi mendorong kegiatan seni, khususnya melukis, menjadi bagian dari upaya pemulihan psikologis anak-anak setelah mengalami bencana alam.
Hal tersebut disampaikan Armia saat menghadiri pameran seni bertajuk “Ekraf Peduli” yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) di Sin Space Gallery, kawasan SCBD, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Pameran tersebut merupakan bagian dari program Pemulihan dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) Sumatera. Sebanyak 20 lukisan karya siswa SD dan SMP dari Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Pariaman dipamerkan dalam kegiatan tersebut.
Karya-karya itu merupakan hasil pendampingan terhadap 200 anak terdampak bencana. Dari jumlah tersebut, 20 karya terbaik dipilih untuk dibawa dan dipamerkan di Jakarta, masing-masing 10 karya dari Aceh Tamiang dan 10 karya dari Pariaman.
Armia menilai bencana alam tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan trauma bagi masyarakat, terutama anak-anak. Karena itu, menurutnya, kegiatan seni dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri sekaligus membantu proses pemulihan mental.
“Bencana alam itu membuat trauma semua orang, dengan adanya kegiatan ini, saya sangat setuju dan apresiasi sekali. Apalagi program ini dari Kementerian Ekonomi Kreatif yang berhasil dibuat,” ujar Armia.
Ia berharap pendekatan serupa dapat diterapkan di daerah lain yang mengalami bencana. Menurut Armia, kegiatan melukis dapat diarahkan sebagai bagian dari program pemulihan anak di lokasi bencana agar mereka memiliki aktivitas positif untuk mengalihkan perhatian dari pengalaman traumatis.
“Sehingga saya ingin menyarankan juga, kalau bisa, di manapun di Indonesia, ada bencana alam, terutama untuk anak anak, kurikulum kegiatan melukis ini diprogramkan di tempat bencana tersebut supaya untuk mengalihkan trauma,” katanya.
Armia mengatakan pemulihan pascabencana perlu memperhatikan kondisi psikologis anak. Tidak cukup hanya membangun kembali fasilitas yang rusak, pemerintah juga perlu memastikan anak-anak mendapatkan pendampingan agar dapat kembali menjalani aktivitas pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
“Ini merupakan suatu wujud kita untuk melihat, aspek mental mereka,” ujarnya.
Menurut Armia, kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian terhadap kondisi mental anak-anak terdampak bencana. Ruang berekspresi melalui seni diharapkan dapat membantu mereka melewati pengalaman traumatis.
“Kita hilangkan traumanya supaya mereka bisa sekolah lagi dengan baik,” kata Armia.
Pameran Ekraf Peduli juga mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar mendorong terapi ekspresi seni seperti melukis menjadi bagian dari standar minimum pemulihan psikologis (psychological recovery) anak di lokasi bencana.
Muhaimin menilai karya anak-anak korban bencana memiliki nilai emosional sekaligus ekonomi kreatif. Bahkan, ia turut membeli empat lukisan dalam proses lelang untuk dipajang di kantor Kemenko Pemberdayaan Masyarakat.
“Seni lukis dari anak-anak korban bencana ini memiliki jiwa, cerita, dan semangat yang tidak bisa ditandingi oleh teknologi seperti AI. Selain menjadi pemulihan trauma, pameran di tempat strategis juga memberikan nilai tambah ekonomi kreatif serta apresiasi terhadap potensi seni mereka,” kata Muhaimin.
Sementara itu, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan menilai kolaborasi tersebut penting untuk memberikan ruang ekspresi dan membangun kembali kepercayaan diri anak-anak pascabencana.
Ia juga mengusulkan agar karya anak-anak terdampak bencana dapat dipamerkan di pusat perbelanjaan atau mal sehingga memperoleh apresiasi masyarakat yang lebih luas.
Pemerintah daerah Aceh Tamiang dan Kota Pariaman menyambut positif program tersebut. Pameran di Jakarta dinilai menjadi bentuk apresiasi terhadap anak-anak sekaligus menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana dapat dilakukan melalui pendekatan yang menyentuh aspek psikologis, pendidikan, dan pengembangan kreativitas.
Armia berharap dukungan terhadap kegiatan seni bagi anak-anak terdampak bencana dapat terus dilanjutkan. Menurutnya, pemulihan mental anak merupakan bagian penting agar mereka dapat kembali belajar dan menjalani kehidupan secara normal setelah bencana.(fahmi)























