Wartatrans.com, JAKARTA – Indonesia mendorong ekonomi kreatif menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi global. Komitmen tersebut mengemuka dalam penyelenggaraan World Conference on Creative Economy (WCCE) ke-5 di Jakarta yang menghasilkan Jakarta Vision on Creative Economy sebagai landasan penguatan ekosistem kreatif yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, secara resmi membuka konferensi internasional tersebut di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Mengusung tema Inclusively Creative: Collective Continuity, WCCE 2026 menjadi momentum untuk memperluas kolaborasi antarnegara dalam mengoptimalkan potensi ekonomi kreatif.
Melalui forum ini, Indonesia ingin memastikan bahwa kreativitas tidak hanya menghasilkan karya dan inovasi, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat daya saing, serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat.
Presiden Prabowo Subianto, melalui sambutan yang disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa ekonomi kreatif merupakan bagian penting dari strategi pembangunan nasional.
“Bagi Indonesia, ekonomi kreatif bukanlah sekadar kegiatan sampingan (side quest), melainkan bagian dari cerita utama sebagai mesin pertumbuhan baru yang berakar kuat dalam rencana pembangunan nasional hingga panggung global,” ujar Rachmat.
Ekonomi kreatif bukan lagi sektor pelengkap
Besarnya potensi ekonomi kreatif terlihat dari kontribusinya terhadap perekonomian nasional maupun perdagangan dunia. Mengacu pada data UNCTAD, nilai ekspor barang dan jasa kreatif global mencapai 1,7 triliun dolar AS pada 2024.
Di Indonesia, sektor ekonomi kreatif berkontribusi sebesar 7,38 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi kreatif memiliki peran strategis dalam menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru, terutama di tengah perubahan lanskap industri, perkembangan teknologi digital, dan persaingan pasar internasional.
Teuku Riefky mengatakan, perjalanan WCCE yang dimulai di Bali pada 2018 menjadi bukti bahwa gagasan mengenai pentingnya ekonomi kreatif semakin memperoleh tempat dalam percaturan global.
“Delapan tahun lalu, di Bali, kita memulai sebuah gagasan yang berani, bahwa ekonomi kreatif layak mendapat kursinya sendiri di meja tempat dunia mengambil keputusan. Sejak saat itu, gagasan ini telah berkeliling dunia. Hari ini, ia pulang kembali ke Jakarta untuk penyelenggaraan Konferensi Dunia Ekonomi Kreatif WCCE yang kelima,” katanya.
Menurutnya, kreativitas harus ditempatkan sebagai kekuatan strategis dalam pembangunan, bukan semata-mata dipandang sebagai aktivitas yang menghasilkan produk seni atau hiburan.
Jakarta Vision bertumpu pada empat pilar
Salah satu hasil utama WCCE 2026 adalah lahirnya Jakarta Vision on Creative Economy. Dokumen ini dirancang menjadi acuan bersama untuk mengembangkan ekonomi kreatif yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus melindungi kepentingan para pelakunya.
Terdapat empat pilar utama yang menjadi fondasi Jakarta Vision.
Pertama, pemanfaatan teknologi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta transformasi digital dengan tetap menempatkan manusia sebagai pusat pengembangan.
Kedua, penguatan keberlanjutan melalui ekonomi sirkular dan desain regeneratif yang berlandaskan kearifan lokal.
Ketiga, perlindungan kekayaan intelektual, penciptaan sistem ekonomi yang berkeadilan, serta pemenuhan hak-hak para pelaku kreatif.
Keempat, perluasan inklusi, penguatan ekosistem kreatif, dan pemberdayaan komunitas hingga tingkat akar rumput.
Keempat pilar tersebut menegaskan bahwa kemajuan teknologi dan pertumbuhan industri kreatif perlu berjalan beriringan dengan perlindungan hak pencipta, keberlanjutan lingkungan, serta pemerataan kesempatan ekonomi.
“Kreativitas bukan sekadar hasil karya, melainkan cara kita saling berbicara ketika kata-kata biasa tidak lagi cukup,” ujar Teuku Riefky.
Diplomasi kreatif untuk memperkuat posisi Indonesia
Dukungan terhadap pengembangan ekonomi kreatif juga disampaikan Menteri Luar Negeri RI, Arrmanatha Christiawan Nasir. Ia menilai kreativitas masyarakat dapat menjadi modal penting bagi Indonesia dan negara-negara lain dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Menurut Arrmanatha, kolaborasi internasional dibutuhkan untuk merespons berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim hingga perkembangan ekonomi digital dan kecerdasan buatan.
Kerja sama tersebut juga perlu menjamin agar para kreator memperoleh perlindungan atas karya mereka serta kesempatan yang adil untuk memasuki pasar global.
“Inilah sebabnya mengapa Presiden Prabowo Subianto telah menjadikan ekonomi kreatif sebagai pilar ketahanan ekonomi nasional kita. Karena hal ini menciptakan lapangan kerja, memberdayakan para pemuda kita, dan membuat ekonomi kita lebih mandiri,” ujarnya.
Indonesia turut mendorong penguatan agenda ekonomi kreatif melalui berbagai inisiatif di tingkat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk resolusi yang diadopsi pada 2019 dan 2023 serta pembaruan pada Sidang ke-81.
Langkah ini diharapkan memperbesar ruang partisipasi negara-negara Global South dalam membentuk kebijakan ekonomi kreatif internasional, sehingga manfaat perkembangan industri kreatif dapat dirasakan lebih luas.
Hadirkan delegasi lebih dari 80 negara
WCCE 2026 diikuti delegasi dari lebih dari 80 negara dan tujuh organisasi internasional. Forum ini melibatkan 38 menteri dan perwakilan tingkat tinggi, 183 pembicara serta moderator, dan lebih dari 6.000 peserta.
Selain agenda konferensi, penyelenggaraan WCCE menghadirkan Creative Village, ruang yang mempertemukan pelaku industri kreatif, komunitas, dan masyarakat. Area ini diperkirakan menarik sekitar 20.000 pengunjung.
Rangkaian sesi pleno berlangsung pada 22–23 Oktober 2026 dengan menghadirkan 33 sesi diskusi strategis. Pembukaan sesi pleno turut dimeriahkan Pagelaran Sabang Merauke yang menampilkan keragaman seni dan budaya Nusantara kepada delegasi internasional.
Penyelenggaraan WCCE 2026 sekaligus menjadi bagian dari peringatan Bulan Kreasi Nasional menjelang puncak Hari Ekonomi Kreatif Nasional (Hekrafnas) pada 24 Oktober 2026.
Melalui WCCE 2026, Indonesia berharap ekonomi kreatif semakin diperhitungkan dalam agenda pembangunan global. Kehadiran Jakarta Vision menjadi langkah untuk memperkuat kolaborasi lintas negara, melindungi hak para kreator, dan memastikan kreativitas manusia tetap menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi masa depan.*** (Buyil)


























