Wartatrans.com JATENG — Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke 11 Tingkat Provinsi Jawa Tengah diperingati dengan melakukan upacara di Jalan Pancasila Tegal, Kamis (22/10/2026).
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang menjadi pemimpin upacara, mengajak 555 ribu santri di wilayahnya mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah.
“Para santri harus mampu menjadi benteng terakhir dan garda terdepan dalam membangun daerahnya, mulai dari kabupaten hingga provinsi. Caranya dengan mengurangi angka kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan masyarakat,” ujar Luthfi.

Angka kemiskinan Jateng saat ini adalah 9,21% atau sekitar 3,6 juta jiwa. Juga diakui Luthfi bahwa upaya menuntaskan kemiskinan butuh kolaborasi berbagai pihak. Salah satunya peran serta ribuan santri.
Mendukungnya, Pemprov Jateng menjalankan program Pesantren Obah yang mencakup beasiswa pendidikan, bantuan pondok pesantren, pengembangan usaha santri, hingga insentif guru madrasah diniyah.
Beasiswa diberikan kepada 482 santri dan insentif diberikan untuk 230.830 guru agama pada tahun 2025. Total anggarannya mencapai Rp 277 miliar.
Dalam rangka HSN kali ini, Gubernur juga menyerahkan bantuan renovasi kepada Ponpes Al Munawarroh Margadana, Nurul Ma’arif, Insan Tebuireng, dan Mambaul Ulum. Selain itu, diserahkan insentif bagi 1.390 pengajar keagamaan senilai Rp 834 juta.
Peringatan HSN di wilayah Jateng tahun ini, hampir semuanya diisi hanya dengan melakukan upacara dan pemberian bantuan kepada santri dan pondok pesantren.

Di tingkat kota terpantau Walikota Semarang Agustina Wilujeng mengadakan upacara dan membagi bea siswa santri. Demikian juga di taraf Kecamatan seperti Gayamsari yang menggelar apel peringatan HSN dengan dipimpin Camat Yoga Tamtomo.
Kesederhanaan pelaksanaan HSN ke 11 di Jateng mendapat acungan jempol dari SICE Event Organizer. EO internasional ini tiga kali diperlakukan tidak profesional oleh Departemen Agama.
GM SICE Budi Wahyono mengatakan selalu kesulitan menagih termin biaya acara Depag yang telah dikerjakannya. Yang di tahun 2023 malah tidak dibayar karena bendahara instansi terkait masuk penjara kasus penggelapan.
“Saya lebih setuju uang diberikan ke santri untuk pendidikan dan infrastruktur pondok pesantren dari pada dikorupsi orang dalam Depag. Oknum di sini sering tidak amanah saat mengerjakan bermacam acara peringatan HSN yang dananya mencapai milyaran,” ungkap Gus Bud mewakili EO lainnya. *** (Slamet Widodo)
























