Menu ✖

Mode Gelap
KAI Services Apresiasi Petugas Keamanan yang Bantu Penumpang Melahirkan di KRL Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎ KAI Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang, 748 Petugas PJL Disertifikasi hingga Tutup 1.329 Perlintasan Liar Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

SENI BUDAYA

Rhoma Irama Menangis Saat Menonton Film Lawas, dari Pengabdian ke Perjuangan Dangdut Menuju UNESCO

badge-check


 Rhoma Irama Menangis Saat Menonton Film Lawas, dari Pengabdian ke Perjuangan Dangdut Menuju UNESCO Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA– Tak disangka, Kelas Literasi Sinema yang digelar Perpustakaan Nasional RI justru menghadirkan momen emosional. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama, tak kuasa menahan air mata ketika menyaksikan kembali film Pengabdian, film yang dibintanginya bersama Rica Rachim, Dicky Zulkarnaen dan Mieke Wijaya.

Film yang dirilis pada 1984 itu diputar sebelum diskusi yang menghadirkan Rhoma Irama dan Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA , Direktur Musik Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, sebagai narasumber.

Duduk menyaksikan perjalanan dirinya di layar lebar 42 tahun silam, Rhoma terlihat larut dalam adegan demi adegan. Kenangan masa lalu seolah kembali hadir di hadapannya.

“Saya terharu juga melihat film Pengabdian yang saya mainkan empat puluh dua tahun lalu. Karena ceritanya perpaduan antara true story dan fiksi. Soal true story seperti apa, biar konsumsi saya saja. Karena tidak ada manusia yang sempurna,” ujar Rhoma saat menjawab pertanyaan moderator Waskito, Sekjen PAMDI di Auditorium Perpustakaan Nasional, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (29/9/2026).

Menurut Rhoma, Pengabdian bukan sekadar film hiburan. Ada pesan kuat mengenai perjuangan seorang istri yang berada di belakang kesuksesan suaminya.

“Ceritanya sangat menginspirasi, soal perjuangan istri yang mendorong karier suami agar menjadi superstar dangdut,” ungkap Rhoma dengan nada haru.

Dari Film Pengabdian ke Perjalanan Dangdut Menuju UNESCO

Menariknya, pemutaran Pengabdian seperti membuka kembali lembaran panjang perjalanan Rhoma Irama bersama musik dangdut.

Empat puluh dua tahun setelah film tersebut dibuat, Rhoma masih berada di tengah perjuangan yang sama: membawa dangdut ke tempat yang lebih tinggi.

Jika dahulu dangdut harus berjuang keluar dari stigma sebagai musik pinggiran, kini Rhoma bersama Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia (PAMDI) tengah mendorong agar dangdut semakin dikenal sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.

Bahkan, perjuangan tersebut kini diarahkan ke tingkat dunia melalui upaya agar musik dangdut diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda milik Indonesia.

“Kami tengah memperjuangkan musik dangdut bisa eksis di Eropa. Kalau di Amerika, dangdut sudah menjadi tuan rumah. Bahkan PAMDI memiliki pengurus di Amerika. Ini bukti kalau dangdut sudah mendapat tempat di Amerika,” kata pelantun Begadang dan Darah Muda tersebut.

Menurut Rhoma, perjalanan dangdut yang panjang menjadi alasan kuat mengapa musik tersebut perlu diperjuangkan sebagai warisan budaya Indonesia.

Ia berharap perjuangan yang dilakukan bersama PAMDI mendapatkan dukungan luas dari masyarakat dan berbagai pihak.

“Mohon doanya, agar musik dangdut diakui UNESCO yang tengah kami perjuangkan segera terwujud. Kalau ini terjadi, ini warisan hasil perjuangan saya dan PAMDI untuk insan dangdut,” ujar Rhoma penuh harap.

Perpustakaan Nasional Ikut Membuka Jalan

Rhoma juga memberikan apresiasi kepada Perpustakaan Nasional yang menjadikan literasi sinema sebagai ruang untuk membicarakan perjalanan musik dangdut.

Baginya, forum semacam itu penting karena perjuangan menuju pengakuan UNESCO membutuhkan pemahaman dan dukungan dari berbagai elemen masyarakat.

“Saya sangat berterima kasih kepada Perpustakaan Nasional yang ikut mendorong agar musik dangdut diakui UNESCO,” tuturnya.

Rhoma juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk *Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia*, yang dalam waktu dekat akan menggelar forum “NGULIK Soal Musik Dangdut” dengan tema “Musik Dangdut Milik Indonesia, Saatnya Diakui UNESCO.”

“Saya apresiasi support-nya,” kata Rhoma.

Momen haru saat menonton *Pengabdian* akhirnya menjadi lebih dari sekadar nostalgia. Film yang dibuat 42 tahun lalu itu seakan mengingatkan kembali panjangnya perjalanan Rhoma Irama bersama dangdut.

Dari layar film, panggung musik, hingga perjuangan kebudayaan, perjalanan tersebut belum berhenti.

Kini, setelah puluhan tahun membawa dangdut melewati berbagai zaman, Rhoma ingin melihat musik yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia itu melangkah lebih jauh: menuju pengakuan dunia.*** (Byl)

Baca Lainnya

Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

1 Oktober 2026 - 03:44 WIB

Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda

1 Oktober 2026 - 03:12 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Mentor Bang Budi dan Lukisan Karya Anak yang Membawa Cerita Aceh Tamiang ke Jakarta

30 September 2026 - 01:37 WIB

Bupati Aceh Tamiang Dorong Terapi Melukis untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana

29 September 2026 - 19:34 WIB

Ekraf Peduli Hadirkan Karya Anak Korban Bencana Sumatra, Pemerintah Dorong Pemulihan Lewat Seni

29 September 2026 - 18:39 WIB

Dianna Dee Full Jadwal Show, Sempatkan Cover Lagu di YouTube, 1 Minggu Tembus Setengah Juta Views

29 September 2026 - 17:10 WIB

HUT ke 81, KAI Daop 4 Semarang Menggelar Acara Baca Puisi Antar Negara

29 September 2026 - 09:44 WIB

Jaja Mihardja Mengidolakan Almarhum Bing Slamet 

29 September 2026 - 03:02 WIB

Grup Musik ‘Dua’ Beranggotanan Naila dan Dhimas Rilis Anthem Gen Z Bertitel ‘Let Go’ Diproduser Ady Ex Naff

28 September 2026 - 19:05 WIB

Trending di SENI BUDAYA