Wartatrans.com, TAKENGON — Di balik harumnya nama kopi Arabika Aceh Tengah yang mendunia, tersimpan duka mendalam yang merajam kehidupan warga dan para pekebun di Kampung Berawang Baro, Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah di saat roda modernisasi bergerak cepat di pusat kota, napas kehidupan di pelosok desa ini justru seolah terhenti—ditinggalkan dan dilupakan seperti kawasan tanpa kepastian.
Penelusuran tim pers di lapangan merekam potret miris ketimpangan pembangunan yang teramat mengiris hati. Akses jalan utama menuju Berawang Baro Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah jauh dari kata layak. Jalur berdebu dan bertanah Kuning padat yang tak kunjung tersentuh aspal itu kini berubah menjadi kubangan air berlumpur. Begitu memprihatinkannya kondisi akses ini.
Bagi masyarakat setempat, menembus jalan ini adalah taruhan keselamatan, tak terhitung berapa kali pekebun dan warga terjatuh dari sepeda motor saat mengangkut hasil panen kopi dan hortikultura mereka. Penderitaan makin bertambah pascabencana November 2025 lalu; sejumah titik longsor parah dibiarkan menganga tanpa penanganan berarti, menjadi ancaman maut yang mengintai setiap harinya.
”Berganti-ganti kepemimpinan Bupati di Aceh Tengah, nasib kami tetap sama. Hampir sembilan puluh tahun Republik ini merdeka, tapi jalan dan kehidupan kami di sini tak pernah merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya,” tutur salah seorang warga dengan nada keputusasaan yang mendalam.
Kondisi yang memprihatinkan ini tidak hanya mengebiri perekonomian para petani kopi yang menjadi tulang punggung daerah, tetapi juga merenggut hak masa depan anak-anak mereka. Fasilitas publik seperti Gedung Sekolah Dasar (SD) setempat berdiri sangat ala kadarnya—jauh dari kata ideal untuk proses belajar-mengajar. Kehadiran tenaga pengajar pun sering kali tak menentu, menambah kelam benang kusut pendidikan di pedalaman.

Ironi besar kini menyeruak di tengah duka masyarakat Berawang Baro. Di saat warga bergelut dengan lumpur dan keterisolasian, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mendadak memunculkan angka fantastis dalam APBK Perubahan mencapai Rp121 Miliar.
Masyarakat kecil kini hanya bisa bertanya-tanya dengan tatapan hampa: Apakah dari ratusan miliar anggaran perubahan tersebut, ada setitik kepedulian yang dialokasikan untuk membebaskan Berawang Baro dari penderitaan panjang ini?
Kondisi Berawang Baro adalah cermin retak kemajuan Aceh Tengah saat ini. Jeritan suara hati dari pelosok pedalaman ini sangat membutuhkan perhatian dan tindakan nyata dari para pemangku kebijakan, agar pembangunan tak lagi sekadar menjadi deretan angka di atas kertas, melainkan keadilan sosial yang benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyatnya.*** (Jasa)






















