Wartatrans.com, BOGOR — Majelis Taklim Ar Rahmah tumbuh dari sebuah kelompok pengajian kecil menjadi wadah dakwah yang kini memiliki 651 jamaah tetap. Majelis yang didirikan Ustadz Aseph Aonuddien bersama istrinya, Watie, itu sejak awal memilih pendekatan dakwah yang dekat dengan kehidupan masyarakat kecil.
Ustadz Aseph Aonuddien, yang lahir di Pandeglang pada 16 November 1954, menuturkan Majelis Taklim Ar Rahmah didirikannya bersama sang istri belasan tahun lalu. Saat pertama kali berjalan, jamaahnya hanya sekitar 10 orang.
Kini, jumlah jamaah tetap yang memiliki kartu identitas mencapai 651 orang. Mayoritas merupakan ibu-ibu yang berasal dari sedikitnya empat wilayah, yakni Ciangsana, Nagrak, Bojong Kulur dan Cileungsi.
Menariknya, jamaah Ar Rahmah bukan berasal dari kalangan sosial ekonomi menengah atas. Banyak di antara mereka merupakan istri tukang, pekerja kasar, buruh, sopir ojek online, serta warga yang tinggal di kos atau kamar kontrakan.

Kondisi tersebut justru menjadi perhatian utama dalam pola dakwah yang dikembangkan Ustadz Aseph bersama istrinya dan para relawan penggerak dakwah.
Saat ini kegiatan pengajian dilaksanakan di Masjid Athoillah, Kota Wisata. Meski lokasinya berada di kawasan tersebut, para jamaah datang dari berbagai desa di sekitarnya.
Salah satu pendekatan yang membedakan Majelis Taklim Ar Rahmah adalah keterbukaan terhadap jamaah yang datang bersama anak-anak mereka.
Di saat sejumlah majelis taklim membatasi kehadiran anak kecil karena dianggap dapat mengganggu jalannya pengajian, Ar Rahmah justru mengundang para ibu untuk tetap membawa anak-anaknya.
Anak-anak yang ikut pengajian bahkan disediakan makanan ringan seperti kue, wafer hingga es krim.
“Silakan membawa anak. Jangan sampai ibu-ibu tidak bisa mengaji hanya karena tidak ada yang menjaga anaknya,” demikian semangat yang dikembangkan dalam kegiatan majelis tersebut.
Perhatian terhadap jamaah juga diwujudkan melalui dukungan perlengkapan ibadah. Berkat bantuan para donatur, jamaah mendapatkan jilbab untuk digunakan ketika mengikuti pengajian.

Dakwah sambil rekreasi
Kini jilbab tersebut telah tersedia dalam beberapa warna dan menjadi semacam seragam jamaah ketika menghadiri kegiatan Majelis Taklim Ar Rahmah.
Tak hanya pengajian, hubungan antara ustadz, relawan dan jamaah juga dibangun melalui kegiatan kebersamaan. Setahun sekali, jamaah diajak mengikuti rihlah, yakni perjalanan wisata yang dipadukan dengan kegiatan pengajian.
Kegiatan rihlah tersebut kini dapat melibatkan sekitar 10 bus. Jamaah tidak dipungut biaya perjalanan. Mereka hanya diminta membawa bekal makanan masing-masing.
Untuk kenyamanan perjalanan, bus yang digunakan pun diupayakan dalam kondisi baik. Salah satu armada yang biasa digunakan adalah Blue Star.
Bagi Ustadz Aseph dan Watie, perjalanan Majelis Taklim Ar Rahmah bukan sekadar bertambahnya jumlah jamaah. Lebih dari itu, dakwah diharapkan mampu menjadi ruang bagi masyarakat kecil untuk belajar agama, bersilaturahmi dan mendapatkan rasa kebersamaan.
Dari hanya 10 orang, kini 651 ibu-ibu tercatat sebagai jamaah tetap. Pertumbuhan itu memperlihatkan bahwa majelis taklim dapat menjadi ruang dakwah sekaligus ruang sosial yang terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi.*** (Dull)





















