Menu ✖

Mode Gelap
Hajatan FIFGROUP Pondok Gede Hadirkan Beragam Promo, Hiburan, dan Kegiatan Sosial untuk Masyarakat Apresiasi Pencapaian Prestasi Bank Jakarta oleh Kamaksi Jejak Kereta Api di Ujung Jawa dan Sumatra: Merak, Ketapang, Krueng Mane dan Tanjungkarang OPINI: Peralihan Pucuk Pimpinan Polri – Murni Bebenah atau Sekadar Alat Kekuasaan Baru? Tanjung Lesung Kini Terhubung Dengan Bandara Soekarno-Hatta Melalui Layanan DAMRI Viral Dugaan Penganiayaan Awak Kapal, KKP Amankan KM Maulana 23 di Laut Aru

PERON

Jejak Kereta Api di Ujung Jawa dan Sumatra: Merak, Ketapang, Krueng Mane dan Tanjungkarang

badge-check


 Jejak Kereta Api di Ujung Jawa dan Sumatra: Merak, Ketapang, Krueng Mane dan Tanjungkarang Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Jaringan kereta api Indonesia memiliki cerita menarik di titik-titik terjauhnya. Di Pulau Jawa terdapat Stasiun Merak di sisi barat dan Stasiun Ketapang di ujung timur. Di Sumatra, perjalanan kereta api penumpang aktif menjangkau Krueng Mane di Aceh pada sisi barat jaringan, sementara Tanjungkarang di Lampung menjadi salah satu pintu utama perjalanan kereta api di sisi tenggara Sumatra.

Keempatnya lahir dari perjalanan sejarah yang berbeda. Ada yang berkembang bersama pelabuhan, ada yang menjadi penghubung kota pesisir, dan ada pula yang menjadi bagian dari pembangunan jaringan kereta api sejak lebih dari satu abad lalu. Hingga kini, stasiun-stasiun tersebut tetap hidup bersama mobilitas masyarakat.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan posisi geografis setiap stasiun membuat perjalanan kereta api memiliki karakter tersendiri.

“Menarik melihat bagaimana rel menjangkau berbagai sisi Jawa dan Sumatra. Di beberapa tempat perjalanan bertemu dengan pelabuhan dan laut, di tempat lain kereta api menjadi penghubung masyarakat antarkota. Jejak sejarah itu masih digunakan masyarakat sampai hari ini,” ujar Anne.

Di barat Pulau Jawa, Stasiun Merak berada dekat dengan Pelabuhan Merak yang menghubungkan Jawa dan Sumatra melalui penyeberangan Selat Sunda. Jejak kereta api menuju Merak telah hadir sejak awal abad ke-20 dan sampai sekarang stasiun tersebut melayani perjalanan masyarakat pada lintas Rangkasbitung–Merak. Kedekatan stasiun dan pelabuhan membuat perjalanan dapat diteruskan menuju Sumatra melalui penyeberangan Merak–Bakauheni.

Di sisi timur Jawa, perjalanan rel mencapai Stasiun Ketapang di Banyuwangi. Sejarah jaringan kereta api di kawasan tersebut bermula ketika jalur menuju Banyuwangi dibuka pada 2 Februari 1903. Seiring perkembangan kawasan dan perpindahan aktivitas pelabuhan, jaringan kemudian menjangkau Ketapang. Kini stasiun tersebut menjadi salah satu akses menuju Banyuwangi sekaligus perjalanan lanjutan ke Bali melalui Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk.

Aktivitasnya terus bertumbuh. Sepanjang Januari–September 2026, Stasiun Ketapang mencatat 615.161 pergerakan pelanggan naik dan turun, terdiri atas 292.618 pelanggan berangkat dan 322.543 pelanggan tiba. Jumlah tersebut meningkat 8,56 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 566.643 pergerakan.

Cerita berbeda berada jauh di barat Sumatra. Stasiun Krueng Mane di Aceh menjadi salah satu titik ujung layanan penumpang aktif pada jaringan KA Cut Meutia yang menghubungkan Krueng Geukueh–Bungkaih–Krueng Mane. Kehadiran layanan tersebut membuat perjalanan kereta api tetap menjadi bagian dari mobilitas masyarakat Aceh sekaligus meneruskan jejak panjang perkeretaapian di bagian utara Sumatra.

Sementara di sisi tenggara Sumatra, Stasiun Tanjungkarang memiliki perjalanan sejarah yang erat dengan perkembangan jalur kereta api dan Pelabuhan Panjang. Pembangunannya dimulai pada 1911 dan stasiun tersebut diresmikan pada 30 Juni 1914. Pada masa awal, Tanjungkarang ikut melayani pergerakan pegawai dan material dari Pelabuhan Panjang sebelum kemudian berkembang menjadi salah satu stasiun utama di Lampung.

Lebih dari satu abad kemudian, aktivitasnya tetap kuat. Sepanjang Januari–September 2026, Stasiun Tanjungkarang mencatat 562.993 pergerakan pelanggan naik dan turun, terdiri atas 280.094 pelanggan berangkat dan 282.899 pelanggan tiba. Jumlah tersebut tumbuh 13,99 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 493.881 pergerakan.

Anne mengatakan keberadaan titik-titik tersebut memperlihatkan bahwa stasiun memiliki makna lebih luas daripada tempat memulai dan mengakhiri perjalanan.

“Dari Merak yang menghadap Selat Sunda, Ketapang yang membuka perjalanan menuju Bali, Krueng Mane di Aceh, hingga Tanjungkarang yang tumbuh bersama sejarah Lampung, setiap stasiun memiliki cerita wilayahnya sendiri. Rel menghubungkan cerita itu dengan kehidupan masyarakat hari ini, dan kami ingin konektivitas tersebut terus memberi manfaat bagi perjalanan, ekonomi, keluarga, dan pariwisata di berbagai daerah,” tutup Anne.(fahmi)

 

Baca Lainnya

KA Mutiara Timur Catat 304.522 Pelanggan, Banyuwangi Makin Terhubung dengan Surabaya

4 Oktober 2026 - 17:26 WIB

KAI Catat 11,34 Juta Pergerakan Pelanggan di Sumatra, Naik 12,02 Persen

4 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Commuter Run 2026 Diikuti 2.500 Peserta, KAI Commuter Dorong Gaya Hidup Sehat dan Transportasi Publik

4 Oktober 2026 - 09:07 WIB

KA Harina Tembus 567 Ribu Pelanggan, Hubungkan Bandung-Surabaya via Jalur Utara

3 Oktober 2026 - 16:20 WIB

Dilema Aturan Impor KRL Bekas dan Kebutuhan Layanan Publik

3 Oktober 2026 - 15:06 WIB

Menhub Dudy Tegaskan  Keselamatan Transportasi Harus jadi Perhatian Utama

3 Oktober 2026 - 14:48 WIB

Angkutan Non-Batu Bara KAI Capai 9,15 Juta Ton, Hasil Pertanian Banyuwangi–Jakarta Mulai Dibidik

2 Oktober 2026 - 18:10 WIB

Keributan Terjadi di Eskalator Stasiun Bekasi, Diduga Dipicu Perselisihan Pasangan

2 Oktober 2026 - 08:47 WIB

Pencuri Kabel Whoosh Berhasil Ditangkap, KCIC: Aksinya Bisa Membahayakan Keselamatan Perjalanan

1 Oktober 2026 - 19:07 WIB

KAI Percepat Implementasi Rekomendasi KNKT, 190 Titik Perlintasan Jadi Prioritas

1 Oktober 2026 - 15:12 WIB

Trending di PERON