Menu ✖

Mode Gelap
KAI Operasikan 9 Gardu Pelintasan, Progres Pembangunan 190 Titik JPL Capai 98 Persen 32 Dosen Poltekpel Surabaya Tambah Gelar Setelah Dilantik sebagai Insinyur Elektrifikasi Truk Logistik: Investasi Mahal, Efisiensi Dipertaruhkan Menhub Dudy Pastikan Diskon Perjalanan di Libur Nataru Kembali Ada Kemenhub Perkuat Aksi Nyata Penanganan Kendaraan ODOL di Jatim Catatan Iwan Piliang: Nazali Lempo untuk Jaksa Agung – Menguji Kapasitas, Integritas, dan Kepastian Hukum

RAGAM

Rocky Gerung, Nama yang Paling Menyita Perhatian di Antara 26 Wantimpres Prabowo

badge-check


 Rocky Gerung, Nama yang Paling Menyita Perhatian di Antara 26 Wantimpres Prabowo Perbesar

JAKARTA — Pelantikan 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Prabowo Subianto, 2 Oktober 2026, menghadirkan sejumlah nama dengan latar belakang politik, akademisi, agama, bisnis hingga pemerintahan.

Di antara deretan tersebut, Rocky Gerung menjadi salah satu nama yang paling menyita perhatian publik. Bukan semata karena popularitasnya sebagai pengamat dan filsuf, tetapi juga karena rekam jejaknya yang selama ini dikenal kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Kini, posisi Rocky berubah. Dari ruang publik yang kerap digunakan untuk menyampaikan kritik, ia masuk ke lembaga yang bertugas memberikan pertimbangan dan nasihat kepada Presiden.

Rocky sendiri menegaskan bahwa Wantimpres harus tetap kritis terhadap kebijakan. Menurutnya, kritik bukan berarti berseberangan, melainkan bagian dari mekanisme memberikan pertimbangan agar kebijakan negara dapat diuji dan dipertimbangkan secara lebih matang.

Selain Rocky, Wantimpres juga diisi sejumlah tokoh yang telah lama dikenal masyarakat, antara lain Pratikno, Hatta Rajasa, Sinta Nuriyah, Quraish Shihab, Agum Gumelar, Chairul Tanjung, Bambang Soesatyo, Jusuf Hamka, Anwar Usman dan Ignasius Jonan.

Namun, kehadiran Rocky membawa dimensi tersendiri. Ia memperlihatkan bahwa ruang pertimbangan Presiden tidak hanya membutuhkan orang-orang yang memiliki pengalaman pemerintahan, tetapi juga suara kritis yang dapat menjadi bagian dari proses pengujian gagasan dan kebijakan.

Bagi publik, menarik melihat bagaimana seorang tokoh yang selama ini berada di luar lingkar kekuasaan kini menjalankan peran dari dalam sistem.

Rocky pun menyebut tugas Wantimpres bersifat etis, bukan teknis. Artinya, kekuatan lembaga ini bukan pada kewenangan eksekusi, melainkan pada kualitas nasihat dan pertimbangan yang disampaikan kepada Presiden.

Pada titik inilah publik akan menunggu: apakah suara kritis Rocky tetap terdengar ketika ia kini berada di ruang yang lebih dekat dengan pengambil keputusan negara.*** (Jasa)

Baca Lainnya

32 Dosen Poltekpel Surabaya Tambah Gelar Setelah Dilantik sebagai Insinyur

10 Oktober 2026 - 19:24 WIB

Catatan Iwan Piliang: Nazali Lempo untuk Jaksa Agung – Menguji Kapasitas, Integritas, dan Kepastian Hukum

10 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Nazali Lempo dan Wacana Jaksa Agung: Pengalaman Militer, Kepastian Hukum, dan Perluasan Peran TNI di Era Prabowo

10 Oktober 2026 - 15:21 WIB

Antrean Solar Mengular di SPBU Gintong Pidie, Pengemudi L300 Kesal Menunggu Berjam-jam

10 Oktober 2026 - 14:59 WIB

Wasda di Cariu, H. Fikri Serap Aspirasi dan Dorong Penguatan Pertanian Warga

10 Oktober 2026 - 13:07 WIB

Libatkan Perempuan Jagatara, Jumat Berkah Wartawan Berbagi 100 Paket Makanan di Tebet & Kuningan Jaksel

10 Oktober 2026 - 12:20 WIB

PNM dan BAZNAS Perluas Layanan Kesehatan, 15 Daerah Terima Ambulans PNM Peduli

10 Oktober 2026 - 12:16 WIB

NPCT1 Raih Penghargaan “Container Terminal Operator of the Year” pada Indonesia Logistics Awards 2026

10 Oktober 2026 - 11:19 WIB

Kemenhaj Perkuat Integrasi Data Kependudukan untuk Lindungi Hak Jemaah Haji

10 Oktober 2026 - 08:54 WIB

Anggota DPR RI FPDIP Komarudin Watubun Minta Gibran Mundur, DPR Buka Opsi Tindak Lanjuti Putusan MK

9 Oktober 2026 - 20:17 WIB

Trending di RAGAM