Menu ✖

Mode Gelap
Dari Malang, 4.524 Pramuka Santri Didorong Jadi Generasi Tangguh dan Peduli Lingkungan 33 Juta Liter Air Sehari untuk AI, Data Center Jatiluhur Disetop Sementara Catatan Iwan Piliang: Batik, Becak Listrik dan Kejaksaan Agung Konsolidasi Portofolio Bisnis: Penggabungan PPI ke MMI Perkuat Ekosistem Layanan dan Kapabilitas Pelindo Group Keributan Terjadi di Eskalator Stasiun Bekasi, Diduga Dipicu Perselisihan Pasangan Sambut Wamen Baru, Menteri Trenggono Tekankan Akselerasi 6 Program Prioritas

RAGAM

Catatan Iwan Piliang: Batik, Becak Listrik dan Kejaksaan Agung

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Batik, Becak Listrik dan Kejaksaan Agung Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Hari Batik Nasional pada 2 Oktober bukan sekadar momentum mengenakan batik.

Di balik selembar kain yang kita pakai, ada sejarah panjang, pengetahuan, ketekunan, kreativitas dan tangan-tangan rakyat yang menjadikannya hidup. Batik bukan sekadar motif. Ia adalah identitas yang tumbuh dari kebudayaan masyarakat Indonesia.

Karena itu, merawat batik berarti merawat manusia yang berada di belakangnya: pembatik, perajin, pelaku usaha kecil, pedagang, desainer hingga generasi muda yang meneruskan kreativitasnya.

Batik mengajarkan satu hal penting: kemajuan bangsa tidak boleh memutus mata rantai kehidupan rakyat yang menjadi fondasinya.

Di sinilah saya melihat batik memiliki hubungan yang menarik dengan becak listrik.

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, baru kali ini pem-becak mulai dimanusiawikan melalui bantuan becak listrik.

Selama puluhan tahun pem-becak menjadi bagian dari lanskap kehidupan kota. Mereka hadir sejak pagi, mengayuh dalam panas, hujan dan kemacetan. Mereka mengantar manusia dan barang, sekaligus membawa pulang penghasilan untuk keluarganya.

Tetapi sering kali mereka hanya dilihat sebagai bagian dari pemandangan kota, bukan sebagai manusia pekerja yang juga berhak menikmati kemajuan teknologi.

Becak listrik mengubah perspektif itu. Ia bukan sekadar becak yang diberi motor listrik. Di baliknya terdapat pesan sosial yang lebih besar: teknologi semestinya tidak hanya dinikmati mereka yang memiliki modal besar. Teknologi juga harus turun kepada rakyat yang setiap hari bekerja dengan tenaga tubuhnya.

Kalau benar kemajuan hendak disebut kemajuan, maka ia harus terasa sampai ke lapisan paling bawah.

Pem-becak tidak lagi semata-mata menjadi objek pembangunan. Ia harus ditempatkan sebagai subjek yang ikut menikmati hasil pembangunan.

Di sinilah negara menjadi penting. Negara hadir bukan hanya ketika membangun jalan, bendungan, gedung atau kawasan industri. Negara juga hadir ketika membuat pekerjaan rakyat kecil menjadi lebih manusiawi.

Karena itu, saya mengapresiasi langkah Presiden Prabowo memberikan perhatian kepada pem-becak melalui becak listrik.

Terima kasih, Presiden.

Tetapi membangun negara tentu tidak berhenti pada program sosial dan ekonomi. Ada satu fondasi lain yang tidak kalah penting: institusi penegakan hukum.

Karena itu saya kembali mengajukan satu gagasan mengenai Kejaksaan Agung.

Jaksa Agung dan Wakil Jaksa Agung, menurut pandangan saya, sebaiknya sama-sama dipilih dan ditetapkan Presiden.

Wakil Jaksa Agung bukan semata-mata menjadi konsekuensi dari pilihan atau usulan Jaksa Agung.

Gagasannya: Presidential Appointed & Single Commando from the President.

Mengapa?

Karena dalam sebuah organisasi penegakan hukum yang sangat strategis, garis komando dan pertanggungjawaban harus jelas.

Siapa memberikan mandat? Siapa bertanggung jawab? Kepada siapa pertanggungjawaban politik dan administratif itu bermuara?

Semakin terang jawabannya, semakin mudah pula publik meminta pertanggungjawaban ketika terjadi persoalan.

Tentu, gagasan ini bukan perkara sederhana. Ia harus ditempatkan dalam kerangka konstitusi, undang-undang, independensi penegakan hukum, checks and balances, serta mekanisme pengawasan agar kekuasaan tidak terkonsentrasi tanpa kendali.

Tetapi diskusi semacam ini perlu dibuka. Sebab negara yang kuat bukan negara yang hanya memiliki pemimpin kuat. Negara yang kuat adalah negara yang memiliki sistem kuat, institusi kuat, hukum yang bekerja, dan pertanggungjawaban yang terang.

Batik memberi kita pelajaran tentang akar dan identitas. Becak listrik memberi kita gambaran tentang teknologi yang turun kepada rakyat. Kejaksaan memberi kita pertanyaan tentang bagaimana kekuasaan negara dikelola dan dipertanggungjawabkan.

Ketiganya bertemu pada satu kata: manusia.

Batik tidak akan hidup tanpa pembatik. Becak tidak akan bergerak tanpa pem-becak. Institusi hukum tidak akan memiliki makna tanpa manusia yang menjalankannya dengan integritas dan tanggung jawab.

Maka ukuran kemajuan Indonesia seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa tinggi gedung yang dibangun atau seberapa besar angka ekonomi tumbuh.

Lihatlah juga siapa yang mulai merasakan manfaatnya. Lihatlah apakah pekerja kecil semakin dimuliakan. Lihatlah apakah kebudayaan semakin dihargai.

Dan lihatlah apakah institusi negara semakin mampu memberikan kepastian hukum dan rasa keadilan.

Batik kita jaga sebagai identitas. Becak kita dorong menuju masa depan. Kejaksaan kita kuatkan dengan sistem yang jelas.

Dari kain batik hingga becak listrik, dari rakyat kecil hingga institusi negara, semuanya bermuara pada cita-cita yang sama: Indonesia yang maju, tetapi tidak meninggalkan manusianya.***

 

#IwanPiliang

Baca Lainnya

Dari Malang, 4.524 Pramuka Santri Didorong Jadi Generasi Tangguh dan Peduli Lingkungan

2 Oktober 2026 - 13:38 WIB

33 Juta Liter Air Sehari untuk AI, Data Center Jatiluhur Disetop Sementara

2 Oktober 2026 - 13:13 WIB

Konsolidasi Portofolio Bisnis: Penggabungan PPI ke MMI Perkuat Ekosistem Layanan dan Kapabilitas Pelindo Group

2 Oktober 2026 - 11:17 WIB

Pemkab Fakfak Siapkan Langkah Strategis Amankan Pala Tomandin dari Ancaman Kekeringan

2 Oktober 2026 - 08:10 WIB

Catatan M. Mujiburrohman: MBG dan Cara Kita Membaca Uang Negara

1 Oktober 2026 - 23:01 WIB

BGN Keluarkan Aturan Baru Tentang Insentif SPPG, Berlaku Mulai 5 Oktober 2026

1 Oktober 2026 - 20:41 WIB

El Nino Sangat Kuat, 669 Hotspot Terdeteksi di Fakfak

1 Oktober 2026 - 17:16 WIB

Lima Tahun Merger, Pelindo Regional 2 Perkuat Transformasi Layanan dan Kinerja Kepelabuhanan

1 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Dukung Mobilitas Kemayoran, DAMRI Jadi Mitra Operasional Layanan Kemon

1 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Lima Tahun Pascamerger, Pelindo Teguhkan Transformasi Berlandaskan Semangat Persatuan

1 Oktober 2026 - 14:43 WIB

Trending di ANJUNGAN