Menu ✖

Mode Gelap
Sambut Wamen Baru, Menteri Trenggono Tekankan Akselerasi 6 Program Prioritas Dua Hari 10 Ha TPA Ajibarang Semarang Terbakar, Gubernur Ahmad Luthfi Turun Tangan Pemkab Fakfak Siapkan Langkah Strategis Amankan Pala Tomandin dari Ancaman Kekeringan Catatan M. Mujiburrohman: MBG dan Cara Kita Membaca Uang Negara BGN Keluarkan Aturan Baru Tentang Insentif SPPG, Berlaku Mulai 5 Oktober 2026 Pencuri Kabel Whoosh Berhasil Ditangkap, KCIC: Aksinya Bisa Membahayakan Keselamatan Perjalanan

RAGAM

Pemkab Fakfak Siapkan Langkah Strategis Amankan Pala Tomandin dari Ancaman Kekeringan

badge-check


 Pemkab Fakfak Siapkan Langkah Strategis Amankan Pala Tomandin dari Ancaman Kekeringan Perbesar

Wartatrans.com, FAKFAK — Prediksi kondisi kemarau panjang, sesuai rilis data (BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Rendani Manokwari) per (1/10/2026) yang diperkirakan berlangsung hingga awal tahun 2027 menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Fakfak. Langkah ini diambil guna menjaga keberlanjutan komoditas pala sebagai salah satu unggulan utama daerah, khususnya varietas khas daerah tersebut.

​Menghadapi potensi kemarau yang berkepanjangan, Pemkab Fakfak melalui Dinas Perkebunan menyiapkan sejumlah langkah antisipasi dan pengendalian. Fokus utama perlindungan ditujukan kepada tanaman Pala Tomandin Fakfak, terutama tanaman muda, tanaman hasil perluasan dan rehabilitasi, serta kebun yang berada di wilayah dengan keterbatasan sumber air.

​Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T., mengatakan bahwa kondisi kekeringan berkepanjangan memiliki risiko yang cukup besar terhadap kelangsungan hidup tanaman pala.

​”Kondisi kekeringan yang berkepanjangan itu sesungguhnya sangat berisiko terhadap tanaman pala muda, tanaman hasil rehabilitasi, serta kebun pada wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air,” ujar Widhi saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (2/10/2026).

​Menurutnya, strategi yang disiapkan tidak hanya diarahkan untuk menyelamatkan tanaman yang telah terdampak kekeringan, melainkan juga membangun ketahanan jangka panjang kebun pala dalam menghadapi perubahan iklim. Dengan demikian, program Pala Unggul tetap dapat berjalan dan produktivitas tanaman dapat dipertahankan.

​Sedikitnya terdapat sembilan langkah strategis yang diperkuat Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak dalam menghadapi ancaman kemarau panjang.

​Pemetaan Wilayah dan Tanaman Berisiko : Dinas Perkebunan bersama kelompok tani memutakhirkan data kebun dengan memprioritaskan tanaman pala muda, tanaman rehabilitasi, serta wilayah yang menunjukkan gejala kekurangan air.

​Penguatan Konservasi Air di Tingkat Kebun : Petani didorong membuat lubang biopori, rorak, parit konservasi, embung, dan penampungan air sederhana, serta memperluas penggunaan mulsa organik untuk mempertahankan kelembapan tanah.

​Perlindungan Khusus Tanaman Muda : Pemberian mulsa dan naungan sementara diprioritaskan bagi bibit serta tanaman pala yang masih berumur muda.

​Intervensi Nutrisi dan Kesehatan Tanaman : Tim teknis dan Brigade Pala Tomandin melakukan pengamatan berkala guna mengidentifikasi tanaman yang mengalami stres kekeringan, kekurangan unsur hara, maupun serangan organisme pengganggu.

​Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) : Monitoring rutin dilakukan untuk mendeteksi dini peningkatan kerentanan tanaman akibat kekeringan sesuai prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

​Program Rehabilitasi Tanaman Terdampak : Pendataan dan verifikasi dilakukan terhadap tanaman yang mati akibat kekeringan guna menjadi dasar penyulaman serta rehabilitasi agar populasi pala tidak turun secara permanen.

​Penguatan Peran Petani : Komunikasi antara pemerintah dan kelompok tani ditingkatkan agar setiap perubahan kondisi kebun dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti.

​Pencegahan Kebakaran Kebun : Mengingat bahan organik yang mengering memicu risiko kebakaran, petani diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak membakar lahan secara sembarangan.

​Menjaga Keberlanjutan Program Pala Unggul : Agenda peningkatan mutu genetik, pengembangan kebun sumber benih, perluasan, hilirisasi, hingga peningkatan mutu hasil tetap berjalan dengan menyesuaikan kondisi iklim.

​Widhi menegaskan bahwa menghadapi ancaman kemarau panjang tidak cukup sekadar menyelamatkan tanaman yang telanjur terdampak. Diperlukan sistem perkebunan yang adaptif mulai dari pengelolaan air, perlindungan tanaman muda, hingga penguatan peran petani.

​Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah tantangan kemarau hingga awal 2027 menjadi momentum untuk membangun sistem perkebunan Pala Tomandin yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Pada akhirnya, keberhasilan ini sangat bergantung pada kesiapan pemerintah, petani, serta seluruh pemangku kepentingan dalam mengantisipasi risiko sejak dini.*** (ASAH)

​

Baca Lainnya

Catatan M. Mujiburrohman: MBG dan Cara Kita Membaca Uang Negara

1 Oktober 2026 - 23:01 WIB

BGN Keluarkan Aturan Baru Tentang Insentif SPPG, Berlaku Mulai 5 Oktober 2026

1 Oktober 2026 - 20:41 WIB

El Nino Sangat Kuat, 669 Hotspot Terdeteksi di Fakfak

1 Oktober 2026 - 17:16 WIB

Lima Tahun Merger, Pelindo Regional 2 Perkuat Transformasi Layanan dan Kinerja Kepelabuhanan

1 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Dukung Mobilitas Kemayoran, DAMRI Jadi Mitra Operasional Layanan Kemon

1 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Lima Tahun Pascamerger, Pelindo Teguhkan Transformasi Berlandaskan Semangat Persatuan

1 Oktober 2026 - 14:43 WIB

Sambut Hari Pelindo, Regional 4 Gelar Donor Darah dan Target 100 Kantong

1 Oktober 2026 - 14:29 WIB

Pengobatan Gratis BMPRI Dekatkan Layanan Kesehatan kepada Warga Kampung Antalisa

1 Oktober 2026 - 12:49 WIB

AI Mengubah Wajah Demokrasi, Akademisi: Verifikasi Jadi Senjata Publik

1 Oktober 2026 - 10:43 WIB

Penerapan Biometrik Meluas, dari Registrasi SIM Card hingga Perjalanan Udara

1 Oktober 2026 - 09:31 WIB

Trending di RAGAM