Wartatrans.com, JAKARTA – Pemerintah masih mengevaluasi usulan penurunan tarif verifikasi biometrik registrasi kartu SIM dari Rp3.000 menjadi Rp600 per akses, seiring meluasnya penggunaan teknologi tersebut untuk mengikat identitas pelanggan dengan data kependudukan.
Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Teguh Setyabudi mengatakan, penetapan tarif mempertimbangkan kewajaran biaya serta kepentingan sejumlah pemangku kepentingan.
“Tentu saja penurunan tarif akan dilakukan dengan mempertimbangkan kewajaran, masukan penilai pemerintah serta kepentingan berbagai stakeholders, termasuk Dukcapil sendiri dalam mencapai target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang ditetapkan tiap tahunnya,” kata Teguh, Selasa (29/9/2026).
Hingga Juli 2026, sekitar 10 juta pelanggan kartu SIM telah melakukan registrasi berbasis biometrik. Sementara itu, pelanggan existing belum diwajibkan melakukan verifikasi ulang.
Direktur & Chief Regulatory Officer XLSMART Telecom Sejahtera Tbk Merza Fachys mengatakan penurunan tarif menjadi Rp600 akan mengurangi biaya operator Rp2.400 atau 80% setiap akses.
“Dengan demikian, semakin besar volume validasi pelanggan existing, semakin besar pula pengurangan biaya yang dapat diperoleh operator,” kata Merza dihari yang sama
Registrasi kartu SIM baru dengan verifikasi wajah berlaku secara nasional sejak 1 Juli 2026. Ketentuan tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 7 Tahun 2026 tentang Registrasi Pelanggan Jasa Telekomunikasi melalui Jaringan Bergerak Seluler.
Perluasan penggunaan biometrik tidak hanya terjadi dalam registrasi pelanggan telekomunikasi.
Teknologi serupa mulai masuk ke layanan penerbangan melalui konsep Seamless Travel, yang menggunakan verifikasi identitas biometrik untuk membuat perjalanan penumpang lebih terintegrasi.
Pada registrasi kartu SIM, biometrik digunakan untuk memastikan identitas pelanggan melalui pencocokan wajah dengan data kependudukan.
Sementara di penerbangan, teknologi tersebut diarahkan untuk mengurangi pemeriksaan identitas secara manual pada sejumlah tahapan perjalanan penumpang.
Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I mencatat koordinasi implementasi Seamless Travel berbasis biometrik berlangsung Senin (31/8/2026) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Forum tersebut diarahkan untuk membangun perjalanan penumpang yang aman, efisien dan terintegrasi.
Direktur Utama InJourney Airports Mohammad Rizal Pahlevi menyampaikan, prototipe biometrik berlangsung di Soekarno-Hatta, dengan pengembangan di Juanda dan penerapan layanan domestik di I Gusti Ngurah Rai.
“Jadi kami mengharapkan kegiatan operasi, kegiatan pelayanan di bandara itu lebih seamless sehingga penumpang tidak perlu ribet dan punya waktu luang lebih luas,” kata Rizal, pada Jumat (4/9/2026).
Kedua penerapan tersebut memiliki konteks dan sistem yang berbeda, tetapi memperlihatkan pola penggunaan biometrik sebagai bagian dari infrastruktur verifikasi identitas.
Perluasan ini membawa kebutuhan berbeda pada biaya akses, kapasitas sistem, integrasi data dan pengelolaan identitas dalam skala besar. (Artha Tidar)






















