Wartatrans.com, JAKARTA – Penonton MotoGP Mandalika 2026 ditargerkan bakal mencapai lebih dari 145.000.
Ini membuat jaringan transportasi Lombok disiapkan bekerja sebagai satu sistem, dari bandara, shuttle, jalan raya hingga penyeberangan dan jalur logistik.
Tekanannya bukan sekadar jumlah penonton, tetapi kemampuan setiap simpul mengalirkan penumpang, kendaraan dan barang pada periode yang sama.
Target itu hanya naik sekitar 3,3% dari realisasi 140.324 penonton pada 2025. Namun, sistem transportasi 2026 diperluas di lebih banyak titik, menunjukkan beban mobilitas tidak hanya bertumpu pada satu moda.
Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 Troy Reza Warokka mengatakan, 160 shuttle bus gratis disiapkan pada 9–11 Oktober.
“Layanan terdiri atas shuttle luar dan dalam sirkuit, termasuk kendaraan bagi penyandang disabilitas,” ungkap Troy, Senin (5/10/2026).
Dari jalan raya, Direktur Lalu Lintas Polda NTB Kombes Pol. Iman Pribadi Santoso menyatakan, 380 personel dan 50 kendaraan operasional disiapkan. Polisi juga menyiapkan rekayasa lalu lintas dan kanalisasi untuk mengantisipasi kepadatan menuju Mandalika.
Arus barang juga menjadi bagian jaringan. Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol. Mohammad Kholid pada Jumat (2/10/2026) mengatakan patroli di Pelabuhan Barang Lembar dilakukan untuk memastikan distribusi logistik MotoGP menuju Mandalika tetap aman dan lancar.
Di jalur laut, General Manager ASDP Cabang Lembar Anis Adinizam mengungkapkan, 17 kapal disiapkan menghadapi kemungkinan peningkatan arus penumpang dan kendaraan, terutama saat kepulangan penonton.
“Pada MotoGP 2025, lintasan Padangbai–Lembar melayani 29.599 penumpang dan 12.249 kendaraan pada H-5 hingga hari balapan,” katanya.
Dari sisi udara, Direktur Utama InJourney Airports Mohammad R. Pahlevi, Sabtu (3/10/2026) menyebut tiga bandara disiapkan, yakni Lombok, I Gusti Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta.
“Bandara Lombok diproyeksikan melayani 98.670 pergerakan penumpang pada 5–15 Oktober, dengan 1.046 penerbangan serta tambahan kapasitas melalui 66 penerbangan,” ujarnya.
Jaringan itu juga harus tahan terhadap gangguan. BPBD NTB mencatat 143 bencana pada Januari–Agustus 2026, sementara satgas evakuasi MotoGP melibatkan 541 personel dengan skenario gempa lebih dari enam magnitudo dan batas kritis evakuasi 26 menit sebelum potensi gelombang tsunami tiba.
Pola tersebut memperlihatkan perubahan penting: kenaikan target penonton relatif kecil, tetapi jaringan mobilitas diperluas dari pintu kedatangan hingga distribusi terakhir.
Artinya, ukuran keberhasilan transportasi bukan hanya kapasitas, melainkan sinkronisasi antarmoda agar penonton, masyarakat dan logistik tidak saling menghambat.
Dampaknya meluas ke ekonomi lokal. MotoGP 2025 menghasilkan dampak ekonomi nasional Rp4,96 triliun, mencakup peningkatan aktivitas pariwisata, perputaran ekonomi lokal, penciptaan lapangan kerja serta kontribusi terhadap penguatan national branding Indonesia.
Perhelatan tahun ini, kelancaran mobilitas menjadi bagian penting agar manfaat ekonomi tersebut tetap terserap selama periode puncak. (Artha Tidar)



























