Wartatrans.com, JAKARTA – Siapa sangka, sebuah rumah sederhana di kawasan Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, pernah menjadi tempat berkumpulnya para maestro seni Indonesia.
Dari ruang tamu dan teras rumah itulah, obrolan, canda, musik hingga gagasan kreatif para seniman melahirkan karya-karya yang kemudian dikenang hingga hari ini.
Kini, rumah peninggalan maestro Bing Slamet tersebut resmi menjadi Museum Bing Slamet.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikannya pada Minggu (27/9/2026), bertepatan dengan hari lahir Bing Slamet sekaligus peringatan Hari Komedi Nasional.
“Rumah ini adalah tempat perjumpaan. Tempat bertemu, berdialog dan berdiskusi para seniman dan budayawan, khususnya pada tahun 50-an, 60-an, dan 70-an,” ujar Fadli.
Bagi keluarga, perubahan rumah menjadi museum bukan sekadar mengabadikan sosok Bing Slamet. Anak Bing Slamet, Adi Bing Slamet, menyebut rumah tersebut merupakan markas kreatif yang pernah menjadi saksi lahirnya berbagai gagasan besar dunia hiburan Indonesia.
“Dari tempat sederhana ini, lahir ide-ide besar, karya yang melegenda, serta naskah komedi yang menghibur jutaan rakyat,” kata Adi.
Museum Bing Slamet kini menyimpan berbagai peninggalan sang maestro, mulai dari gitar, piringan hitam, pakaian, piagam, foto keluarga, surat pribadi, poster film hingga berbagai memorabilia.
Yang menarik, sejumlah bagian asli rumah, termasuk tangga dan ruang-ruang keluarga, tetap dipertahankan.
Museum juga dibuat lebih dekat dengan generasi muda melalui berbagai fasilitas interaktif seperti radio lama, headphone bergaya vintage, AI photo booth, dubbing suara hingga peta digital Jakarta tempo dulu.
Bing Slamet sendiri merupakan sosok seniman multitalenta. Ia dikenal sebagai penyanyi, pencipta lagu, aktor sekaligus komedian. Kiprahnya di dunia lawak antara lain bersama Trio Los Gilos dan Kuartet Jaya.

Fadli berharap Museum Bing Slamet tidak menjadi tempat yang hanya mengenang masa lalu.
“Yang paling penting masyarakat mendukung supaya museum ini menjadi salah satu pusat budaya, tempat untuk belajar, mengapresiasi, mengenang, dan memberikan inspirasi agar lahir seniman dan budayawan seperti Bing Slamet di masa mendatang,” katanya.
Dari rumah tempat para maestro bertukar gagasan, kini lahir sebuah ruang baru untuk generasi berikutnya mengenal, belajar, dan meneruskan jejak kreativitas Bing Slamet.
Museum telah berdiri, persoalan kemudian muncul soal parkir pengunjung nantinya, karena museum berdiri ditengah lingkungan yang padat
“Nanti kami carikan solusinya, agar pengunjung nyaman ketika berkunjung kesini,” pungkas Fadli Zon.*** (Byl)


























