Wartatrans.com TAKENGON — Upaya percepatan distribusi bantuan pascabencana di Aceh Tengah terus dilakukan dengan berbagai pertimbangan teknis dan efisiensi lapangan. Meski sebelumnya dua unit drone didatangkan sebagai bagian dari dukungan logistik, penggunaan helikopter akhirnya dipilih sebagai sarana utama distribusi ke wilayah terdampak.
Penanggung jawab drone bantuan, Defriandi, menjelaskan bahwa setelah Posko Udara dibuka di Bandara Rembele, operasional helikopter dinilai jauh lebih efektif untuk menjangkau daerah-daerah terpencil. Helikopter memiliki kapasitas angkut hingga satu ton serta mampu menjangkau lokasi luas tanpa bergantung pada jaringan internet.

“Dalam kondisi darurat, kecepatan dan daya angkut menjadi prioritas. Helikopter lebih efisien untuk membawa logistik dalam jumlah besar sekaligus,” ujar Defriandi saat ditemui, Selasa (16/12/2025).
Menurutnya, jangkauan operasional drone relatif terbatas, hanya sekitar 60 kilometer pulang-pergi. Selain itu, untuk menjangkau sejumlah wilayah seperti Serule, drone dan operator harus lebih dulu diangkut menggunakan jalur laut menuju Bintang, yang memerlukan biaya tambahan.
Faktor logistik lainnya juga menjadi pertimbangan. Drone tersebut hanya dapat menggunakan bahan bakar jenis Pertamax Dex atau Pertamax Turbo, sementara ketersediaannya di wilayah terdampak bencana sangat terbatas. Dari sisi regulasi, operasional drone juga memerlukan izin terbang khusus di area Bandara Rembele.
“Kendala teknis lainnya, sistem drone menggunakan bahasa Mandarin, sehingga membutuhkan operator khusus dari China dan dukungan jaringan yang stabil,” tambahnya.
Saat ini, dua unit drone tersebut dititipkan sementara di Gedung KIR. Ke depan, drone direncanakan akan dikembalikan kepada pihak pemberi bantuan secara swadaya tanpa melibatkan anggaran Pemerintah Daerah.
Dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, penggunaan helikopter dinilai sebagai langkah paling realistis untuk memastikan bantuan dapat segera diterima masyarakat terdampak bencana di Aceh Tengah.*** (Jasa)










