Menu

Mode Gelap
Sekjen IABI: Kompensasi Delay Bentuk Tanggung Jawab Maskapai Bahlil Prioritaskan Warga Tanimbar dan Maluku Barat Daya Bekerja di Proyek LNG Blok Masela KAI Angkut 10.050 Ton Pupuk pada Semester I 2026, Perkuat Distribusi Antardaerah Perkuat Ketahanan Energi Nasional, PTPN I Kembangkan Bioetanol Syarat Kapal Nelayan 30-200 GT Dapat Solar Rp15.000 per Liter, Ini Kata Kementerian-KP Wow Banyak! KAI Kelola 12.856 Sarana Perkeretaapian untuk Dukung Mobilitas dan Logistik Nasional, Ini Dia Rinciannya

BANDARA

Helikopter Dinilai Lebih Optimal, Drone Bantuan Sugiono untuk Aceh Tengah Belum Dioperasikan dan Akan Dikembalikan

badge-check


 Helikopter Dinilai Lebih Optimal, Drone Bantuan Sugiono untuk Aceh Tengah Belum Dioperasikan dan Akan Dikembalikan Perbesar

Wartatrans.com TAKENGON — Upaya percepatan distribusi bantuan pascabencana di Aceh Tengah terus dilakukan dengan berbagai pertimbangan teknis dan efisiensi lapangan. Meski sebelumnya dua unit drone didatangkan sebagai bagian dari dukungan logistik, penggunaan helikopter akhirnya dipilih sebagai sarana utama distribusi ke wilayah terdampak.

Penanggung jawab drone bantuan, Defriandi, menjelaskan bahwa setelah Posko Udara dibuka di Bandara Rembele, operasional helikopter dinilai jauh lebih efektif untuk menjangkau daerah-daerah terpencil. Helikopter memiliki kapasitas angkut hingga satu ton serta mampu menjangkau lokasi luas tanpa bergantung pada jaringan internet.

“Dalam kondisi darurat, kecepatan dan daya angkut menjadi prioritas. Helikopter lebih efisien untuk membawa logistik dalam jumlah besar sekaligus,” ujar Defriandi saat ditemui, Selasa (16/12/2025).

Menurutnya, jangkauan operasional drone relatif terbatas, hanya sekitar 60 kilometer pulang-pergi. Selain itu, untuk menjangkau sejumlah wilayah seperti Serule, drone dan operator harus lebih dulu diangkut menggunakan jalur laut menuju Bintang, yang memerlukan biaya tambahan.

Faktor logistik lainnya juga menjadi pertimbangan. Drone tersebut hanya dapat menggunakan bahan bakar jenis Pertamax Dex atau Pertamax Turbo, sementara ketersediaannya di wilayah terdampak bencana sangat terbatas. Dari sisi regulasi, operasional drone juga memerlukan izin terbang khusus di area Bandara Rembele.

“Kendala teknis lainnya, sistem drone menggunakan bahasa Mandarin, sehingga membutuhkan operator khusus dari China dan dukungan jaringan yang stabil,” tambahnya.

Saat ini, dua unit drone tersebut dititipkan sementara di Gedung KIR. Ke depan, drone direncanakan akan dikembalikan kepada pihak pemberi bantuan secara swadaya tanpa melibatkan anggaran Pemerintah Daerah.

Dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, penggunaan helikopter dinilai sebagai langkah paling realistis untuk memastikan bantuan dapat segera diterima masyarakat terdampak bencana di Aceh Tengah.***  (Jasa)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sekjen IABI: Kompensasi Delay Bentuk Tanggung Jawab Maskapai

17 Juli 2026 - 15:24 WIB

KAI Dampingi UMK Binaan dari Penguatan Kapasitas hingga Akses Pasar di INACRAFT Festival Yogyakarta 2026

16 Juli 2026 - 21:07 WIB

Pelindo Regional 2 Catat Pertumbuhan Positif di Seluruh Lini Layanan Kepelabuhanan

16 Juli 2026 - 20:38 WIB

Komitmen ASRI Berbuah Prestasi, IPCC Sabet Penghargaan Green and Smart Port 2026

16 Juli 2026 - 20:18 WIB

FIFGROUP Salurkan Rp1,88 Miliar Dana Bergulir Bagi 524 UMKM Binaan

16 Juli 2026 - 13:16 WIB

⁠Dukung Kelancaran Arus Logistik Pelabuhan, KSOP Utama Tanjung Priok berikan kebijakan penyesuaian YOR

16 Juli 2026 - 13:03 WIB

Pelindo Regional 4 Perkuat Budaya Keselamatan bagi Peserta Magang

16 Juli 2026 - 09:53 WIB

QRIS Tembus 45 Juta Merchant, Tunai Tetap Masih Mendominasi Daerah

16 Juli 2026 - 05:25 WIB

Diduga Kuat Truk Colt diesel Tanpa Nopol Mengangkut Minyak Mentah Ilegal Melintas dijalan Lintas Medan-Sumut

15 Juli 2026 - 21:35 WIB

Pejuang Agraria Desak Penyelesaian Konflik Hak Adat atas Tanah di Aceh Timur

15 Juli 2026 - 21:18 WIB

Trending di RAGAM