Menu

Mode Gelap
Libur Panjang Maulid, KAI Daop 1 Catat 38.842 Pelanggan Berangkat dalam Sehari Kereta Compartment Suite Cetak Rekor Pelanggan Tertinggi, Naik 51,47% hingga Juli 2026 Mantap, Bank Berebut Ekosistem Suporter di Kompetisi Super League 2026/2027 Dukung Penanganan Karhutla, Kemenhub Fasilitasi Penggunaan Pesawat Registrasi Asing Bantuan Perbaikan Rumah Rp30 Juta bagi Korban Gempa NTT Presiden Prabowo Tinjau Karhutla Kalimantan

BANDARA

Helikopter Dinilai Lebih Optimal, Drone Bantuan Sugiono untuk Aceh Tengah Belum Dioperasikan dan Akan Dikembalikan

badge-check


 Helikopter Dinilai Lebih Optimal, Drone Bantuan Sugiono untuk Aceh Tengah Belum Dioperasikan dan Akan Dikembalikan Perbesar

Wartatrans.com TAKENGON — Upaya percepatan distribusi bantuan pascabencana di Aceh Tengah terus dilakukan dengan berbagai pertimbangan teknis dan efisiensi lapangan. Meski sebelumnya dua unit drone didatangkan sebagai bagian dari dukungan logistik, penggunaan helikopter akhirnya dipilih sebagai sarana utama distribusi ke wilayah terdampak.

Penanggung jawab drone bantuan, Defriandi, menjelaskan bahwa setelah Posko Udara dibuka di Bandara Rembele, operasional helikopter dinilai jauh lebih efektif untuk menjangkau daerah-daerah terpencil. Helikopter memiliki kapasitas angkut hingga satu ton serta mampu menjangkau lokasi luas tanpa bergantung pada jaringan internet.

“Dalam kondisi darurat, kecepatan dan daya angkut menjadi prioritas. Helikopter lebih efisien untuk membawa logistik dalam jumlah besar sekaligus,” ujar Defriandi saat ditemui, Selasa (16/12/2025).

Menurutnya, jangkauan operasional drone relatif terbatas, hanya sekitar 60 kilometer pulang-pergi. Selain itu, untuk menjangkau sejumlah wilayah seperti Serule, drone dan operator harus lebih dulu diangkut menggunakan jalur laut menuju Bintang, yang memerlukan biaya tambahan.

Faktor logistik lainnya juga menjadi pertimbangan. Drone tersebut hanya dapat menggunakan bahan bakar jenis Pertamax Dex atau Pertamax Turbo, sementara ketersediaannya di wilayah terdampak bencana sangat terbatas. Dari sisi regulasi, operasional drone juga memerlukan izin terbang khusus di area Bandara Rembele.

“Kendala teknis lainnya, sistem drone menggunakan bahasa Mandarin, sehingga membutuhkan operator khusus dari China dan dukungan jaringan yang stabil,” tambahnya.

Saat ini, dua unit drone tersebut dititipkan sementara di Gedung KIR. Ke depan, drone direncanakan akan dikembalikan kepada pihak pemberi bantuan secara swadaya tanpa melibatkan anggaran Pemerintah Daerah.

Dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, penggunaan helikopter dinilai sebagai langkah paling realistis untuk memastikan bantuan dapat segera diterima masyarakat terdampak bencana di Aceh Tengah.***  (Jasa)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Dukung Penanganan Karhutla, Kemenhub Fasilitasi Penggunaan Pesawat Registrasi Asing

23 Agustus 2026 - 09:32 WIB

Bantuan Perbaikan Rumah Rp30 Juta bagi Korban Gempa NTT

23 Agustus 2026 - 08:03 WIB

Presiden Prabowo Tinjau Karhutla Kalimantan

23 Agustus 2026 - 06:58 WIB

49,29% Warga Jakarta Masuk MBT, Pramono Dorong Rusun Jadi Public Housing

23 Agustus 2026 - 06:53 WIB

Kesehatan Gubernur Tak Ganggu Pemerintahan Aceh, Bima Arya: Tugas Berjalan Lewat Pendelegasian

23 Agustus 2026 - 06:01 WIB

Kebakaran Hutan Dan Lahan Di Kalimantan Makin Meluas, Presiden Prabowo Turun Tangan

23 Agustus 2026 - 05:56 WIB

Kisah Porter Sunarto Rawat Anak Berkebutuhan Khusus, KAI Services Beri Bantuan di Stasiun Bandung

22 Agustus 2026 - 21:40 WIB

IPCC Layani Sepenuh Hati, Dukung Pengiriman Bantuan Kemanusiaan PMI ke Nusa Tenggara Timur

22 Agustus 2026 - 21:21 WIB

KAI Commuter Dekatkan Transportasi Publik dengan Generasi Muda Lewat Commuter Skate Games

22 Agustus 2026 - 20:57 WIB

Suluh Fajar Barakah di Reubee, Dewan Da’wah Pidie Tegaskan Larangan Tegas Perilaku Kaum Luth dalam Islam  

22 Agustus 2026 - 17:23 WIB

Trending di RAGAM