Wartatrans.com, JAKARTA — Aceh dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi provinsi percontohan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. Selain kekayaan sumber daya alam, Aceh juga memiliki kekhususan kewenangan yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong kebijakan strategis di sektor energi bersih. Hal itu dikemukakan oleh Wakil Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Aceh, Ihsanuddin Zulkarnaen, Selasa (27/01/2026).
Ihsanuddin mengatakan Aceh memiliki posisi strategis untuk diusulkan langsung kepada Presiden sebagai lumbung energi baru terbarukan nasional. Menurut dia, potensi tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga membuka peluang ekspor energi ke negara tetangga seperti Singapura.

“Dengan potensi angin, surya, air, dan biomassa yang besar, Aceh bisa menjadi pionir. Bahkan, Aceh memungkinkan untuk mengekspor energi langsung ke Singapura dan negara-negara kawasan,” kata Ihsanuddin saat menjadi Tamu Redaksi Wartatrans.com, membahas isu energi terbarukan.
Ihsanuddin menegaskan, METI perlu mengambil peran lebih aktif dalam pembangunan bangsa ke depan dengan mengedepankan transisi energi. Menurut dia, pengembangan EBT bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga kemandirian energi, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
“METI harus hadir sebagai mitra strategis pemerintah. Energi terbarukan adalah masa depan, dan Aceh punya semua prasyarat untuk menjadi contoh nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, dukungan regulasi, komitmen pemerintah pusat dan daerah, serta kesiapan infrastruktur menjadi kunci agar Aceh benar-benar mampu bertransformasi menjadi pusat energi bersih. Jika dikelola secara serius, Aceh tidak hanya berkontribusi pada target bauran energi nasional, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam peta energi regional.*** (Dulloh)




















