Wartatrans.com, LUAR NEGERI —Keputusan Syifa bergabung dengan Army National Guard Amerika Serikat membuka percakapan yang lebih luas tentang identitas, kewarganegaraan, dan peluang di era mobilitas global. Di tengah dunia yang kian terbuka, pilihan seorang warga negara Indonesia menempuh jalur militer asing tak lagi semata soal profesi, melainkan juga soal posisi warga migran dalam sistem negara lain.
Syifa, yang masih berstatus warga negara Indonesia, kini tengah menjalani pendidikan militer sebagai bagian dari Garda Nasional Amerika Serikat. Proses pelatihan itu dijadwalkan rampung pada Januari 2026. Ibunya, Safitri, menyebut keputusan tersebut lahir dari peluang hukum yang tersedia bagi pemegang izin tinggal tetap atau Permanent Resident di Amerika Serikat.

Garda Nasional sendiri merupakan bagian dari komponen cadangan militer Amerika Serikat yang berada di bawah kendali negara bagian, namun dapat dimobilisasi ke tingkat nasional jika situasi darurat menuntut. Dalam praktiknya, Garda Nasional kerap dikerahkan untuk penanganan bencana alam, krisis sosial, hingga operasi militer tertentu.
Keluarga Syifa menetap di negara bagian Maryland sejak pertengahan 2023 setelah memperoleh Green Card. Status inilah yang memungkinkan Syifa mendaftar sebagai prajurit, meski belum berstatus warga negara AS. Dalam aturan militer Amerika, kewarganegaraan bukan syarat mutlak, selama pendaftar memiliki izin tinggal tetap yang sah.
Langkah Syifa menandai realitas baru migrasi global: negara tujuan bukan hanya menyediakan ruang kerja sipil, tetapi juga membuka akses ke sektor-sektor strategis, termasuk pertahanan. Di Amerika Serikat, Garda Nasional menjadi salah satu jalur integrasi sosial dan ekonomi bagi pendatang tetap.
Sebagai prajurit pemula dengan pangkat Enlisted, Syifa mengikuti pola dinas khas Garda Nasional: latihan rutin sekitar dua hari setiap bulan dan pelatihan tahunan selama dua pekan. Seluruh waktu pelatihan tersebut tetap dihitung sebagai jam kerja yang digaji.
Berdasarkan data per 20 Januari 2026, rata-rata pendapatan tahunan anggota Garda Nasional berada di kisaran 35 ribu dolar AS. Namun angka itu lebih mencerminkan pendapatan dasar. Seiring kenaikan pangkat, masa bakti, dan pendidikan militer, penghasilan dapat meningkat signifikan.
Selain gaji, skema militer Amerika menawarkan berbagai insentif: tunjangan perumahan bagi prajurit berkeluarga, perlakuan pajak khusus, hingga bayaran penuh setiap kali status dinas berubah menjadi active duty. Bagi banyak imigran tetap, fasilitas ini menjadi daya tarik yang sulit diabaikan.
Safitri dan keluarganya kini tinggal di Kensington, Maryland, kawasan pinggiran Washington DC. Dari lingkungan suburban itulah Syifa menjalani babak baru kehidupannya—sebagai prajurit cadangan negeri orang, dengan identitas kewarganegaraan yang masih melekat pada Indonesia.
Fenomena seperti Syifa menantang cara lama memandang loyalitas dan profesi militer. Di era globalisasi, batas negara kian cair, sementara pilihan hidup warganya semakin lintas teritori. Pertanyaannya bukan lagi siapa membela siapa, melainkan bagaimana negara-negara menyikapi warganya yang berkiprah di ruang global yang semakin kompleks.*** (Rana/BS)




















