Wartatrans.com, JAKARTA – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menargetkan penyerahan pesawat N219 pertama kepada TNI Angkatan Darat (TNI AD) pada akhir 2026 atau awal 2027.
Enam unit telah dikontrak Kementerian Pertahanan untuk TNI AD, dengan seluruh pengiriman ditargetkan selesai akhir 2027 atau awal 2028.
VP Business Development & Marketing PTDI Heber M.F. Panjaitan mengatakan produksi N219 telah berjalan.
“Proses produksi pesawat saat ini sedang berjalan dengan target optimistis delivery di akhir tahun 2026 ini atau awal tahun depan,” kata Heber di Jakarta, Sabtu (19/9/2026).
N219 berkapasitas 19 penumpang dan memiliki kemampuan Short Take-off and Landing (STOL). Karakter tersebut memungkinkan pesawat beroperasi dari landasan relatif pendek, sehingga dapat mendukung mobilitas personel, logistik dan evakuasi medis di wilayah dengan akses terbatas.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan N219 memiliki karakter yang mendukung konsep ambulans udara dan logistik medis untuk wilayah sulit dijangkau.
“Menjawab visi ambulans terbang dan logistik medis masa depan, BRIN bersandar pada keunggulan teknologi kedirgantaraan nasional. Kami mematangkan ekosistem pesawat N219 dan varian amfibinya (N219A),” kata Arif di Jakarta, Minggu (16/8/2026).
Arif menjelaskan kemampuan STOL N219 memungkinkan pesawat beroperasi dari landasan relatif pendek. Pengembangan ekosistem N219 dan N219A diarahkan untuk mendukung pemanfaatan teknologi kedirgantaraan nasional sesuai kebutuhan Indonesia.
Kebutuhan TNI AD terhadap angkutan udara juga berkaitan dengan wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat. KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengatakan TNI AD selama ini mengerahkan helikopter untuk mengirim kebutuhan sandang, pangan dan papan ke Papua.
“Selama ini kita selalu mengerahkan helikopter untuk memberikan logistik berupa kebutuhan sandang, pangan, dan papan di wilayah Papua,” kata Maruli dalam TNI Fair 2026.
Pernyataan tersebut tidak secara khusus menyebut N219. Karena itu, belum ada dasar untuk menyimpulkan enam N219 akan ditempatkan di Papua.
Sebagai pesawat fixed-wing, N219 membutuhkan landasan, tetapi menawarkan kemampuan angkut point-to-point yang dapat melengkapi fleksibilitas helikopter.
PTDI menyebut harga dasar N219 sekitar US$9 juta-US$10 juta per unit sebelum konfigurasi dan modifikasi. Dengan enam unit, indikasi nilai dasar mencapai US$54 juta-US$60 juta. Dengan asumsi kurs Rp16.700 per dolar AS, nilainya sekitar Rp902 miliar-Rp1,002 triliun. Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan harga dasar, bukan nilai kontrak resmi, karena belum memperhitungkan konfigurasi, peralatan misi, dukungan dan layanan purnajual.
PTDI menyebut 13 N219 telah masuk daftar pesanan, terdiri atas enam unit untuk TNI AD, empat untuk PT Mitra Aviasi Perkasa dan tiga untuk PT BIBU Panji Sakti. PTDI juga menargetkan peningkatan kapasitas produksi N219 dari enam menjadi 12 unit per tahun.
Peningkatan kapasitas produksi tersebut memperbesar ruang PTDI untuk memenuhi permintaan N219, baik dari sektor militer maupun penerbangan sipil. (Artha Tidar)




























