Wartatrans, JAKARTA – PT Bukaka Teknik Utama Tbk bersama mitra konsorsiumnya dipercaya mengerjakan penggantian 56 unit Passenger Boarding Bridge (PBB) atau garbarata di Terminal 3 Changi Airport, Singapura.
Bukaka merupakan perusahaan engineering dan peralatan infrastruktur yang berdiri sejak 1978 dan dikendalikan oleh keluarga Kalla. Proyek tersebut berlangsung sekitar empat tahun.
Seluruh garbarata akan menggunakan sistem kendali generasi baru dengan teknologi digital dan otomasi tingkat tinggi untuk mendukung pengoperasian yang lebih cerdas, andal, dan efisien.
Direktur Operasional PT Bukaka Teknik Utama Tbk Teguh Wicaksana Sari mengatakan proyek tersebut menjadi referensi internasional bagi Bukaka sekaligus menunjukkan kemampuan engineering dan manufaktur Indonesia di industri penerbangan global.
“Changi Airport merupakan benchmark dunia dalam industri penerbangan. Kepercayaan untuk menghadirkan 56 Passenger Boarding Bridges (Garbarata) di Terminal 3 Changi merupakan sebuah pencapaian penting bagi Bukaka dan engineering Indonesia,” ujar Teguh seusai penandatanganan kontrak dengan pihak Changi Airport, Kamis (24/9/2026).
Pengembangan garbarata generasi baru tersebut dilakukan melalui kolaborasi Bukaka dengan mitra dari Spanyol dan Singapura.
Pendiri Bukaka, Jusuf Kalla (JK), mengatakan kepercayaan dari Changi melanjutkan hubungan kerja sama yang telah terjalin sejak sekitar dekade 1990-an.
“Sekitar tahun 1990-an kami sudah menyediakan di sini. Sekarang kami menyediakan generasi baru Boarding Bridge,” kata JK.
Menurutnya, produk garbarata Bukaka telah digunakan di sekitar 25 negara, antara lain Hong Kong, China, India, Thailand, Singapura dan Jepang.
Kebutuhan terhadap fasilitas pendukung penerbangan berlangsung di tengah tingginya aktivitas angkutan udara nasional. Badan Pusat Statistik mencatat sepanjang Januari-Desember 2025 terdapat 59,8 juta penumpang angkutan udara domestik, turun 5,82 persen dibandingkan 2024. Sementara penumpang internasional mencapai 20,5 juta orang, naik 8,14 persen.
Sejumlah kajian menunjukkan kinerja aviobridge tidak hanya ditentukan teknologi.
Studi Reni Nur Artika dan Kifni Yudianto di JALAKOTEK pada 2025 menemukan penggunaan aviobridge di Yogyakarta International Airport menunjang pelayanan Apron Movement Control (AMC) dan efisiensi operasional. Studi tersebut juga menyoroti kebutuhan pemeliharaan lebih intensif, penambahan unit serta koordinasi antara AMC, operator aviobridge dan maskapai.
Penelitian Lusy Eva Ardyana, Fachri Tri Fachriza dan Kardi pada 2025 mengidentifikasi kompetensi teknis, pengalaman kerja dan kondisi peralatan sebagai faktor yang berkaitan dengan kinerja operator aviobridge.
Sementara penelitian Amiroh Rihadatul ‘Aisy dan Hodi pada 2026 di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang mencatat kontribusi kualitas pelayanan aviobridge dan fasilitas apron terhadap kepuasan maskapai sebesar 87,42 persen.
Penelitian tersebut melibatkan tujuh personel maskapai, sehingga temuannya perlu dibaca sesuai konteks sampel.
Perkembangan garbarata generasi baru pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi.
Efektivitasnya juga bergantung pada kesiapan peralatan, kompetensi operator, pemeliharaan dan koordinasi antar pihak. (Artha Tidar)


























