Wartatrans.com, KOLOM — Cairo bukan hanya kota sejarah dan peradaban, tetapi juga ruang perjumpaan jiwa-jiwa yang disatukan oleh seni. Di salah satu sudutnya—Cafe Najib Mahfud yang berdampingan dengan hiruk pikuk Pasar Khan Khalili—sebuah peristiwa kecil namun bermakna besar bagi saya terjadi.
Walau lantunan puisi yang saya baca diiringi oleh alunan qanun—alat musik yang kerap disebut sebagai “kecapi Mesir”—bukan dimainkan oleh sang maestro ternama Muhammad El ‘Aqqad, pengalaman itu tetap menghadirkan getar yang istimewa. Bukan soal siapa yang memetik senar, melainkan suasana yang tercipta: puisi yang hidup, musik yang menyatu, dan hadirin yang mendengarkan dengan keheningan penuh rasa.


Di antara para penikmat kafe, saya bertemu dengan seorang sahabat baru. Perkenalan kami singkat, namun sarat makna—bertemu atas nama puisi dan sastra. Kami saling “bertukar karya”: ia mengiringi bait-bait puisi yang saya lantunkan dengan denting alat musiknya, usai itu saya menyerahkan kepadanya sebuah buku berjudul Keagungan Kota Suci.
Sebuah pertukaran sederhana, tetapi terasa seperti ikatan batin yang melampaui bahasa dan kebangsaan. Momen itu kembali mengingatkan saya bahwa sastra adalah jembatan. Ia menghubungkan orang-orang yang sebelumnya asing, menyatukan mereka dalam ruang rasa yang sama. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Mesir dengan empat bahasa ini ternyata bukan sekadar kumpulan kata, melainkan juga pembuka pintu persahabatan di negeri jauh.
Sungguh, buku ini telah menghadirkan banyak sahabat dalam hidup saya—di tempat-tempat yang tak pernah saya duga sebelumnya. Di tengah gemerlap Cairo tua, di antara aroma kopi dan denting senar qanun, saya belajar bahwa puisi mampu menemukan jalannya sendiri.***
Mesir 2026




















