Menu

Mode Gelap
Pelindo dan Tiran Nusantara Group Jajaki Peluang Kerja Sama PTP Nonpetikemas Cabang Jambi Perkuat Distribusi Semen melalui Pelabuhan Talang Duku Elektrifikasi Jalur Perkuat Layanan Urban di Rangkasbitung, Bogor, dan Cikarang Line TikTok Jadi Modus Baru Penipuan Rekrutmen KAI, Masyarakat Diminta Waspada “Putri Duta Besar”: Thriller, Cinta, dan Luka dalam Dunia Tanpa Akar KAI Angkut 4,63 Juta Ton Batu Bara pada Maret 2026, Perkuat Rantai Pasok Energi Nasional

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Puisi, Qanun, dan Persahabatan di Sudut Cairo

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Puisi, Qanun, dan Persahabatan di Sudut Cairo Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Cairo bukan hanya kota sejarah dan peradaban, tetapi juga ruang perjumpaan jiwa-jiwa yang disatukan oleh seni. Di salah satu sudutnya—Cafe Najib Mahfud yang berdampingan dengan hiruk pikuk Pasar Khan Khalili—sebuah peristiwa kecil namun bermakna besar bagi saya terjadi.

Walau lantunan puisi yang saya baca diiringi oleh alunan qanun—alat musik yang kerap disebut sebagai “kecapi Mesir”—bukan dimainkan oleh sang maestro ternama Muhammad El ‘Aqqad, pengalaman itu tetap menghadirkan getar yang istimewa. Bukan soal siapa yang memetik senar, melainkan suasana yang tercipta: puisi yang hidup, musik yang menyatu, dan hadirin yang mendengarkan dengan keheningan penuh rasa.

Di antara para penikmat kafe, saya bertemu dengan seorang sahabat baru. Perkenalan kami singkat, namun sarat makna—bertemu atas nama puisi dan sastra. Kami saling “bertukar karya”: ia mengiringi bait-bait puisi yang saya lantunkan dengan denting alat musiknya, usai itu saya menyerahkan kepadanya sebuah buku berjudul Keagungan Kota Suci.

Sebuah pertukaran sederhana, tetapi terasa seperti ikatan batin yang melampaui bahasa dan kebangsaan. Momen itu kembali mengingatkan saya bahwa sastra adalah jembatan. Ia menghubungkan orang-orang yang sebelumnya asing, menyatukan mereka dalam ruang rasa yang sama. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Mesir dengan empat bahasa ini ternyata bukan sekadar kumpulan kata, melainkan juga pembuka pintu persahabatan di negeri jauh.

Sungguh, buku ini telah menghadirkan banyak sahabat dalam hidup saya—di tempat-tempat yang tak pernah saya duga sebelumnya. Di tengah gemerlap Cairo tua, di antara aroma kopi dan denting senar qanun, saya belajar bahwa puisi mampu menemukan jalannya sendiri.***

Mesir 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pelindo dan Tiran Nusantara Group Jajaki Peluang Kerja Sama

8 April 2026 - 20:12 WIB

PTP Nonpetikemas Cabang Jambi Perkuat Distribusi Semen melalui Pelabuhan Talang Duku

8 April 2026 - 19:57 WIB

Amdal di Persimpangan Ilmu, Hukum, dan Praktik

8 April 2026 - 17:52 WIB

Pembangunan Sumur Bor ke-9 Dimulai, Fokus Pemulihan Warga Terdampak Banjir di Aceh Utara

8 April 2026 - 17:23 WIB

PTP Nonpetikemas Jambi Perkuat Peran Strategis, Dorong Efisiensi Logistik dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah

8 April 2026 - 16:40 WIB

Pelindo dan Pemkot Makassar Sepakat Tata Pelabuhan Lebih Baik

8 April 2026 - 16:12 WIB

Iran dan Amerika Gencatan Senjata, Pemerintah Pastikan Calon Haji Berangkat Sesuai Rencana

8 April 2026 - 14:34 WIB

Wakil Bupati Kudus Bellinda Mengangkat Adik Mendikdasmen Sebagai ‘Anak Buahnya’

7 April 2026 - 18:38 WIB

12 Kepala Keluarga di Selmak Lubok Pusaka Masih Bertahan di Bawah Terpal Pasca Bencana

7 April 2026 - 15:49 WIB

Titi DJ: Mental Jadi Penentu Peserta Raih Gelar Jawara

7 April 2026 - 15:25 WIB

Trending di RAGAM