Menu

Mode Gelap
KCIC Beri Promo Libur Sekolah, Tiket Whoosh Diskon hingga Rp200 Ribu dan Cashback 50 Persen 13 Keuchik Kluet Tengah Bersatu Desak Pemerintah Segera Tetapkan WPR Mustafa Gaseu Soroti 60 Unit Rumah Bantuan APBA di Aceh Barat Mangkrak, Desak Pemerintah Aceh Segera Tuntaskan Pembangunan InJourney Airports Siapkan Bandara Husein jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional Siapkah Penerbangan Indonesia Terapkan Konsep Bagasi Berbasis Jumlah Koper? Laba KAI Group Naik jadi Rp2,28 Triliun pada 2025, Ditopang Efisiensi dan Kinerja Operasional

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Puisi, Qanun, dan Persahabatan di Sudut Cairo

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Puisi, Qanun, dan Persahabatan di Sudut Cairo Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Cairo bukan hanya kota sejarah dan peradaban, tetapi juga ruang perjumpaan jiwa-jiwa yang disatukan oleh seni. Di salah satu sudutnya—Cafe Najib Mahfud yang berdampingan dengan hiruk pikuk Pasar Khan Khalili—sebuah peristiwa kecil namun bermakna besar bagi saya terjadi.

Walau lantunan puisi yang saya baca diiringi oleh alunan qanun—alat musik yang kerap disebut sebagai “kecapi Mesir”—bukan dimainkan oleh sang maestro ternama Muhammad El ‘Aqqad, pengalaman itu tetap menghadirkan getar yang istimewa. Bukan soal siapa yang memetik senar, melainkan suasana yang tercipta: puisi yang hidup, musik yang menyatu, dan hadirin yang mendengarkan dengan keheningan penuh rasa.

Di antara para penikmat kafe, saya bertemu dengan seorang sahabat baru. Perkenalan kami singkat, namun sarat makna—bertemu atas nama puisi dan sastra. Kami saling “bertukar karya”: ia mengiringi bait-bait puisi yang saya lantunkan dengan denting alat musiknya, usai itu saya menyerahkan kepadanya sebuah buku berjudul Keagungan Kota Suci.

Sebuah pertukaran sederhana, tetapi terasa seperti ikatan batin yang melampaui bahasa dan kebangsaan. Momen itu kembali mengingatkan saya bahwa sastra adalah jembatan. Ia menghubungkan orang-orang yang sebelumnya asing, menyatukan mereka dalam ruang rasa yang sama. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Mesir dengan empat bahasa ini ternyata bukan sekadar kumpulan kata, melainkan juga pembuka pintu persahabatan di negeri jauh.

Sungguh, buku ini telah menghadirkan banyak sahabat dalam hidup saya—di tempat-tempat yang tak pernah saya duga sebelumnya. Di tengah gemerlap Cairo tua, di antara aroma kopi dan denting senar qanun, saya belajar bahwa puisi mampu menemukan jalannya sendiri.***

Mesir 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

13 Keuchik Kluet Tengah Bersatu Desak Pemerintah Segera Tetapkan WPR

7 Juli 2026 - 13:10 WIB

Mustafa Gaseu Soroti 60 Unit Rumah Bantuan APBA di Aceh Barat Mangkrak, Desak Pemerintah Aceh Segera Tuntaskan Pembangunan

7 Juli 2026 - 12:15 WIB

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Teguhkan Komitmen Pelayanan Melalui Penandatanganan Maklumat Pelayanan

6 Juli 2026 - 17:38 WIB

Pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok Gelar Serah Terima Jabatan Nakhoda Kapal Negara Patroli, Perkuat Profesionalisme dan Keselamatan Pelayaran

6 Juli 2026 - 17:30 WIB

For-PAS Soroti Belanja Publikasi Media Online Rp260 Juta, Minta Dinas Pariwisata Berlaku Adil kepada Seluruh Media

6 Juli 2026 - 17:01 WIB

Hadirkan Genre Bisnis Baru, 10 Bioskop Mini Alfamart Siap Ramaikan Jagat Hiburan

6 Juli 2026 - 16:35 WIB

Warga Desa Gunung Bakti Bersatu Dukung Salamudin Syah (Edy Orga) Maju Pimpin Desa

6 Juli 2026 - 00:05 WIB

Sumur Minyak Tradisional di Darul Ihsan Aceh Timur Terbakar, Petugas Berjibaku Padamkan Api

5 Juli 2026 - 23:59 WIB

LDII Sulsel Hadiri Upacara Hari Bhayangkara ke-80 di Polda Sulsel, Tegaskan Komitmen Sinergi Jaga Kamtibmas

5 Juli 2026 - 20:12 WIB

20 Muharram 1448 H: Momentum Memperkuat Iman, Hijrah, dan Kepedulian Sosial

5 Juli 2026 - 12:45 WIB

Trending di RAGAM