Menu

Mode Gelap
Sastra Semesta #16 Rayakan 7 Tahun, Komunitas Seni Didorong Jadi Penggerak Pemajuan Kebudayaan BNN Kabupaten Gianyar Meriahkan Peringatan Hari Pramuka ke-65 melalui Pameran UMKM, Expo dan Panggung Kreatif, 50 Anggota Pramuka di Tes Urin KAI Percepat Peningkatan Keselamatan Perlintasan Sebidang, 145 Titik Sudah Terealisasi Stasiun Karet dan BNI City Mulai Diintegrasikan, Layanan Penumpang KRL Dialihkan Agnez Mo Inspirasi Perdana di Indonesia Berkarya Besutan InJourney Airports Kapal PELNI Angkut 300 Ton Bantuan ke NTT

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Puisi, Qanun, dan Persahabatan di Sudut Cairo

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Puisi, Qanun, dan Persahabatan di Sudut Cairo Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Cairo bukan hanya kota sejarah dan peradaban, tetapi juga ruang perjumpaan jiwa-jiwa yang disatukan oleh seni. Di salah satu sudutnya—Cafe Najib Mahfud yang berdampingan dengan hiruk pikuk Pasar Khan Khalili—sebuah peristiwa kecil namun bermakna besar bagi saya terjadi.

Walau lantunan puisi yang saya baca diiringi oleh alunan qanun—alat musik yang kerap disebut sebagai “kecapi Mesir”—bukan dimainkan oleh sang maestro ternama Muhammad El ‘Aqqad, pengalaman itu tetap menghadirkan getar yang istimewa. Bukan soal siapa yang memetik senar, melainkan suasana yang tercipta: puisi yang hidup, musik yang menyatu, dan hadirin yang mendengarkan dengan keheningan penuh rasa.

Di antara para penikmat kafe, saya bertemu dengan seorang sahabat baru. Perkenalan kami singkat, namun sarat makna—bertemu atas nama puisi dan sastra. Kami saling “bertukar karya”: ia mengiringi bait-bait puisi yang saya lantunkan dengan denting alat musiknya, usai itu saya menyerahkan kepadanya sebuah buku berjudul Keagungan Kota Suci.

Sebuah pertukaran sederhana, tetapi terasa seperti ikatan batin yang melampaui bahasa dan kebangsaan. Momen itu kembali mengingatkan saya bahwa sastra adalah jembatan. Ia menghubungkan orang-orang yang sebelumnya asing, menyatukan mereka dalam ruang rasa yang sama. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Mesir dengan empat bahasa ini ternyata bukan sekadar kumpulan kata, melainkan juga pembuka pintu persahabatan di negeri jauh.

Sungguh, buku ini telah menghadirkan banyak sahabat dalam hidup saya—di tempat-tempat yang tak pernah saya duga sebelumnya. Di tengah gemerlap Cairo tua, di antara aroma kopi dan denting senar qanun, saya belajar bahwa puisi mampu menemukan jalannya sendiri.***

Mesir 2026

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

BNN Kabupaten Gianyar Meriahkan Peringatan Hari Pramuka ke-65 melalui Pameran UMKM, Expo dan Panggung Kreatif, 50 Anggota Pramuka di Tes Urin

29 Agustus 2026 - 18:20 WIB

Agnez Mo Inspirasi Perdana di Indonesia Berkarya Besutan InJourney Airports

29 Agustus 2026 - 16:33 WIB

Sumber Air Baku IPA Kudu Menurun, Pelanggan PDAM di Semarang Diminta Siaga

29 Agustus 2026 - 15:12 WIB

Dua Dekade Menghidupkan Kembali Suara Radio Rimba Raya

29 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Radio Rimba Raya Resmi Ditetapkan Sebagai Situs Cagar Budaya

28 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Kunjungi Green Port Terminal Teluk Lamong, Kemenhub Apresiasi Komitmen TTL Wujudkan Net Zero Emission 2060

28 Agustus 2026 - 21:04 WIB

Dinsos Tolak Ajuan Keringanan Pasien Miskin Non BPJS di RS dr. Slamet Garut 

28 Agustus 2026 - 18:36 WIB

Ketua DEN Minta Perbaikan Program MBG Lewat Digitalisasi

28 Agustus 2026 - 14:26 WIB

Pemerintah Dorong Industri Baterai Nikel, MOLINAS Masuk Rantai Hilirisasi

28 Agustus 2026 - 13:16 WIB

KIP Dorong Keterbukaan Informasi Tak Sekadar Predikat Informatif

28 Agustus 2026 - 08:49 WIB

Trending di RAGAM