Menu

Mode Gelap
Kisah Porter Sunarto Rawat Anak Berkebutuhan Khusus, KAI Services Beri Bantuan di Stasiun Bandung IPCC Layani Sepenuh Hati, Dukung Pengiriman Bantuan Kemanusiaan PMI ke Nusa Tenggara Timur Libur Maulid Nabi, KAI Divre III Palembang Siapkan 19.200 Kursi, Tiket Terjual 119 Persen KAI Commuter Dekatkan Transportasi Publik dengan Generasi Muda Lewat Commuter Skate Games Juli 2026, Rekor Baru! Hampir 97 Ribu Wisman Naik Kereta Api Jarak Jauh KSOP Ambon Gelar Top Drill di Kapal Penumpang

BANDARA

Siapkah Penerbangan Indonesia Terapkan Konsep Bagasi Berbasis Jumlah Koper?

badge-check


 Traveler di Bandara Perbesar

Traveler di Bandara

Wartatrans.com, JAKARTA – Perbincangan mengenai skema bagasi pesawat kembali menjadi perhatian publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial beberapa waktu terakhir, yang salah satunya membahas kesiapan Indonesia mengimplementasikan one piece concept untuk baggage allowance maskapai penerbangan.

Menyikapi berbagai pandangan tersebut, Ketua Umum ASITA, Rusmiati menilai konsep one piece baggage allowance atau pengaturan bagasi berdasarkan jumlah koper (piece concept) merupakan salah satu opsi kebijakan yang layak dikaji industri penerbangan seiring dengan perubahan kebutuhan dan pola perjalanan masyarakat.

“Kami melihat hal tersebut jadi salah satu opsi kebijakan bagasi yang mungkin dapat dipertimbangkan oleh maskapai, selama implementasinya mampu menjawab kebutuhan penumpang khususnya mereka yang melakukan perjalanan jarak jauh atau berlibur dalam durasi yang lebih panjang. Dalam konteks tersebut, konsep bagasi berbasis piece baggage menjadi salah satu alternatif yang patut dipertimbangkan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Di sisi lain, penerapan skema bagasi berbasis jumlah koper juga akan memberikan implikasi terhadap operasional maskapai, seperti konsumsi bahan bakar dan efisiensi biaya.

“Hal-hal seperti ini biasanya akan menjadi pertimbangan utama maskapai dalam menentukan kebijakan,” ujarnya.

ASITA kata dia, mendukung setiap kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas layanan kepada pengguna jasa, selama tetap memerhatikan aspek keselamatan dan keberlanjutan industri.

Sementara itu, Pengamat transportasi udara Gatot Raharjo menilai konsep one piece baggage allowance layak menjadi salah satu alternatif yang bisa dikaji dalam industri penerbangan nasional.

Hal itu mengingat, terdapat perubahan pola perjalanan penumpang saat ini, sehingga membuat industri perlu melihat kembali apakah skema bagasi berbasis total berat masih menjadi pendekatan paling sederhana dan paling relevan bagi seluruh segmen penumpang.

“Kalau kita melihat tren global, pengaturan bagasi di industri penerbangan memang tidak lagi hanya bicara soal berapa kilogram yang boleh dibawa. Di sejumlah maskapai internasional, pendekatan piece concept telah diterapkan sebagai salah satu skema pengaturan bagasi, di mana penumpang diberikan kepastian dalam bentuk jumlah koper atau koli, dengan batas berat tertentu per piece,” urai Gatot.

Menurutnya, model bagasi one piece baggage lebih mudah dipahami penumpang karena ukurannya jelas yakni berapa koper yang boleh dibawa, bukan hanya berapa total beratnya.

Konsep tersebut diutarakannya, berpotensi memberikan nilai tambah bagi penumpang, terutama di tengah tren perjalanan yang semakin terencana, praktis dan berorientasi pada kepastian layanan.

“Penumpang keluarga, wisatawan, maupun pelaku perjalanan dinas membutuhkan aturan yang sederhana sejak sebelum tiba di bandara, sehingga risiko kebingungan saat check-in dapat dikurangi,” ulasnya.

Dalam konteks pengalaman penumpang, piece concept berpotensi memberikan kepastian yang lebih baik bagi penumpang sejak awal perjalanan.

Penumpang tahu bahwa yang dihitung bukan sekadar total kilogram, tetapi juga jumlah koper.

“Ini penting karena di lapangan, aturan berbasis berat kadang masih membuka ruang miskomunikasi,” imbuh dia.

Gatot menambahkan, dari sisi industri, one piece baggage allowance juga dinilai berpotensi mendukung standarisasi proses operasional, mulai dari check-in, pemilahan bagasi, loading, hingga ground handling.

“Dengan jumlah dan berat koper yang lebih terukur proses penanganan bagasi berpotensi menjadi lebih tertata dan sederhana, terutama pada penerbangan dengan tingkat keterisian tinggi,” tutupnya. (omy)

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Rute Singapura, Kuala Lumpur, dan Johor Bakal Diterbangi dari Bandara Husein

22 Agustus 2026 - 15:59 WIB

Bantu Korban Gempa NTT, Kemenhub Lepas Tim Medis Balai Kesehatan Penerbangan

21 Agustus 2026 - 15:52 WIB

Kemenhub Pantau Dampak Asap Karhutla di Kalimantan terhadap Operasional Penerbangan

21 Agustus 2026 - 15:40 WIB

DAMRI Hadirkan Promo Tarif Rp50.000 untuk Layanan Blok M–Bandara Soekarno-Hatta

20 Agustus 2026 - 20:24 WIB

Kemenhub Salurkan Bantuan Kemanusiaan bagi Korban Gempa Flores NTT

20 Agustus 2026 - 15:03 WIB

Ayo Serbu 390 Ribu Kursi Promo di Garuda Indonesia Travel Festival

19 Agustus 2026 - 21:38 WIB

Bandara Ngurah Rai Bali Mulai Operasikan Jembatan Transfer Penumpang Antarterminal

19 Agustus 2026 - 15:29 WIB

GMF Rampungkan Modernisasi Hercules TNI AU Usia Operasional Bertambah hingga 20 Tahun

19 Agustus 2026 - 13:16 WIB

Citilink Terbangi Rute Bandung ke Medan, Denpasar, Surabaya, Palembang, dan Balikpapan

17 Agustus 2026 - 22:25 WIB

Peringatan Hari Kemerdekaan RI, Kemenhub Jamin Akses Transportasi di Daerah Terdampak Bencana

17 Agustus 2026 - 22:08 WIB

Trending di ANJUNGAN