Wartatrans.com, JAKARTA - Ekspansi jejaring ritel PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) kini merambah industri hiburan lewat kolaborasi strategis bersama PT Teknologi Layar Digital.
Melalui jenama Layar Digi, konsep sinema mikro (micro cinema) resmi dihadirkan di lantai dua gerai ritel, siap meramaikan jagat hiburan dan menjawab ketimpangan sebaran layar bioskop nasional.

Hingga Juli 2026, jaringan bioskop mini ini telah beroperasi di Gading Serpong, Bogor, dan Riau, dengan rencana pembangunan total 10 studio baru.
Penonton cukup membayar tiket Rp15.000 hingga Rp20.000 untuk menikmati fasilitas audio visual optimal berkapasitas 30 sampai 40 kursi.
”Target traffic kunjungan ke gerai ritel kami tercapai dengan baik berkat kehadiran Layar Digi ini,” ujar Manajer Senior Alfamart, Yanuar Arifin, Jumat (3/7/2026).
Berbeda dengan bioskop reguler, penonton di sini dibebaskan membawa makanan maupun minuman yang dibeli langsung dari gerai Alfamart.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa inisiatif komersial ini efektif mengisi ruang kosong distribusi film di daerah yang belum terjamah bioskop konvensional.
Langkah pemanfaatan ruang komersial tersebut dinilai menjadi jalan keluar konkret di tengah minimnya infrastruktur industri perfilman tanah air.
”Format ini bukan sekadar unit bisnis baru, melainkan diversifikasi cerdas yang memperkuat keterikatan merek tanpa merusak citra bisnis utama,” kata Direktur Pengelola Commercial Real Estate and Shopping Center Studies (CRSC) Yongky Susilo, saat diwawancarai pada medio Februari.
Menurutnya, risiko model bisnis ini relatif kecil karena menyasar segmen pasar komunitas kelas menengah yang cenderung stabil.
Namun, keterbatasan judul film dan model tayang sekunder (second-run) ditengarai menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan proyek tersebut.
Menanggapi hal itu, Direktur Utama Layar Digi Victor Timothy menjelaskan, film yang dijadwalkan tayang memang diprioritaskan bagi sinema yang telah turun layar dari jaringan bioskop besar.
Integrasi ruang belanja dan hiburan ini juga dipandang sebagai respons defensif ritel fisik dalam menghadapi gempuran platform belanja daring (online).
Pola konsumsi masyarakat yang bergeser pascapandemi menuntut pelaku usaha untuk menghadirkan pengalaman gaya hidup yang lebih dekat dan mudah dijangkau.
Peneliti Center of Digital Economy (INDEF) Nur Komaria menyatakan, dalam kondisi tekanan daya beli saat ini, bioskop mini berfungsi sebagai pelengkap hiburan yang terjangkau.
Ke depan, keberhasilan bauran strategi ini akan sangat bergantung pada variasi genre film, serta kreativitas program kolaborasi promosi yang ditawarkan kepada konsumen. (Artha Tidar)


























