Wartatrans.com, MEMPAWAH — Pada 2026, tradisi budaya religi yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat ini resmi terpilih sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN), sebuah program unggulan Kementerian Pariwisata yang menghimpun event-event terbaik dari seluruh Indonesia.
Pengakuan tersebut menegaskan posisi Festival Sahur-Sahur sebagai salah satu ikon budaya yang tidak hanya bernilai lokal, tetapi juga memiliki daya tarik pariwisata berskala nasional.

Pencapaian ini bukanlah hasil yang diraih dalam waktu singkat. Festival Sahur-Sahur lahir dari kebiasaan sederhana masyarakat Mempawah yang sejak awal 2000-an berkeliling kampung untuk membangunkan warga makan sahur.
Dengan memanfaatkan alat seadanya seperti bambu, kentongan, botol, hingga dirigen, tradisi ini tumbuh menjadi ekspresi kolektif yang sarat makna kebersamaan, religiusitas, dan kreativitas.
Sekitar tahun 2002–2003, Galaherang Kreasindo menggagas upaya pelestarian tradisi tersebut dengan mengemasnya dalam bentuk festival. Tujuannya bukan semata menghadirkan hiburan, melainkan menjaga denyut budaya sahur keliling agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Sejak saat itu, Festival Sahur-Sahur berkembang menjadi ajang tahunan yang dinanti masyarakat, sekaligus ruang kompetisi seni perkusi tradisional yang kian variatif dan inovatif.
Perjalanan festival ini menunjukkan dinamika yang konsisten dan progresif.
Dari sekadar aktivitas warga, ia tumbuh menjadi perhelatan terstruktur dengan sistem penilaian, kategori lomba, serta dukungan lintas sektor. Pemerintah Kabupaten Mempawah melihat potensi besar dalam tradisi ini, sehingga memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk fasilitasi, promosi, maupun penguatan kelembagaan penyelenggaraan.
Tonggak penting dicapai pada 2017 ketika Festival Sahur-Sahur mulai menggunakan piala bergilir dari Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Hal ini menjadi penanda meningkatnya reputasi festival di tingkat nasional.
Dua tahun kemudian, pada 2019, Festival Sahur-Sahur mencetak rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai festival dengan jumlah kelompok peserta terbanyak, sebuah prestasi yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai perayaan budaya rakyat yang masif dan inklusif.
Kini, festival ini telah menjelma menjadi agenda wisata budaya Ramadan tahunan yang rutin digelar sekitar sepekan menjelang Idul Fitri di Kota Mempawah. Ribuan peserta dari berbagai kecamatan turut ambil bagian, menghadirkan ragam irama, koreografi, dan kostum yang mencerminkan kekayaan ekspresi lokal.
Warga dan wisatawan memadati ruas-ruas kota, menjadikan suasana Ramadan semakin semarak sekaligus penuh makna.
Masuknya Festival Sahur-Sahur ke dalam kalender Karisma Event Nusantara 2026 menandai babak baru dalam perjalanan panjang tradisi ini.
Penilaian nasional tersebut tidak hanya mempertimbangkan aspek budaya, tetapi juga kualitas penyelenggaraan, keberlanjutan, dampak ekonomi, serta keterlibatan masyarakat.
Dalam konteks ini, Festival Sahur-Sahur dinilai berhasil memadukan nilai religi, seni pertunjukan, dan pariwisata secara harmonis.
Keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi erat antara pemerintah daerah, komunitas budaya, pelaku seni, serta partisipasi aktif masyarakat. Penyelenggaraan yang semakin terkonsep, kreatif, dan profesional menjadikan festival ini mampu bersaing dengan event-event unggulan dari berbagai daerah di Indonesia.
Lebih dari itu, festival ini juga memperkuat citra Kabupaten Mempawah sebagai daerah yang kaya akan tradisi, nilai spiritual, dan kreativitas warga.
Pengakuan sebagai Karisma Event Nusantara diharapkan menjadi momentum strategis untuk mendorong pengembangan pariwisata berbasis budaya dan religi di Mempawah.
Festival Sahur-Sahur tidak lagi sekadar agenda tahunan, melainkan simbol identitas daerah, penggerak ekonomi kreatif, serta sarana promosi budaya lokal ke panggung nasional.
Kehadiran ribuan pengunjung setiap tahun turut membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM, seniman lokal, hingga sektor jasa pariwisata.
Lebih jauh, festival ini juga berperan sebagai media edukasi budaya bagi generasi muda. Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan, anak-anak dan remaja dikenalkan pada nilai gotong royong, disiplin, serta kecintaan terhadap tradisi.
Dengan demikian, Festival Sahur-Sahur tidak hanya merawat warisan masa lalu, tetapi juga menyiapkan keberlanjutan budaya di masa depan.
Dengan terpilihnya Festival Sahur-Sahur sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara 2026, Kabupaten Mempawah menegaskan komitmennya untuk menjaga, merawat, dan mengembangkan warisan budaya sebagai fondasi pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.
Tradisi membangunkan sahur yang dahulu bersifat sederhana kini telah menjelma menjadi kekuatan kultural yang membanggakan, menyatukan masyarakat, dan mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.***
LONYENKRAP




















